Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Barcelona, dari "Trisula" ke "Kuartet"

11 Januari 2018   14:56 Diperbarui: 11 Januari 2018   16:25 1218 2 1
Barcelona, dari "Trisula" ke "Kuartet"
Foto: Irishmirror.ie

Pada bursa transfer musim dingin 2018, Barcelona resmi mendatangkan Phillipe Coutinho dari Liverpool, dengan harga 160 juta euro atau 142 juta pounds. Transfer ini, sekaligus memastikan Coutinho, menjadi pemain termahal di bursa transfer musim dingin.

Sekilas, datangnya Coutinho adalah langkah regenerasi, untuk meremajakan sektor tengah tim, khususnya posisi "playmaker". Karena, Andres Iniesta sudah makin menua, dan mulai sering cedera. Kebetulan, Coutinho bertipikal permainan seperti Iniesta; kreatif, dan lihai mengatur tempo permainan. Hanya saja, Coutinho lebih sering mencetak gol dari tendangan jarak jauh dibanding Iniesta.

Jika dilihat lebih jauh, sebetulnya kedatangan Coutinho ini, adalah bentuk perubahan rancangan skema serangan Barca, dari "trisula" ke "kuartet". Kebetulan, pada saat hampir bersamaan dengan kedatangan Cou, Ousmane Dembele pulih dari cedera. Kehadiran keduanya, akan menambah kekuatan lini serang Barca, yang sebelumnya sudah dihuni Lionel Messi dan Luis Suarez.

Tapi, untuk paruh kedua musim 2017/2018 ini, skema "kuartet" Barca, hanya dapat kita lihat, di La Liga, atau Copa del Rey. Karena, Coutiho sudah bermain di Liga Champions bersama Liverpool. Jadi, Coutinho tak bisa dimainkan Barca di ajang ini. Otomatis, Coutinho akan berbagi posisi dengan Iniesta, sebelum akhirnya bersaing secara lebih terbuka musim depan.

Perkiraan formasi: cfhvideob.tk
Perkiraan formasi: cfhvideob.tk

Datangnya Coutinho, dan rancangan skema "kuartet" Barca, mengingatkan kita pada skema "kuartet" serupa di Barca sedekade silam, atau musim 2007/2008. Kala itu, Barca yang diasuh Frank Rijkaard (Belanda), mendatangkan Thierry Henry dari Arsenal. 

Kedatangan Henry, membuat Barca mempunyai "kuartet" maut di lini depan: Ronaldinho yang kreatif, Samuel Eto'o yang klinis, Henry dan Lionel Messi yang eksplosif. Oleh media, kuartet ini dijuluki "Fantastic Four", dan dianggap mampu berprestasi.

Tapi, harapan tinggal harapan. Alih-alih bersinar, Barca gagal meraih apapun bersama "Fantastic Four". Ronaldinho akrab dengan masalah disipliner. Messi dan Eto'o sering absen karena cedera. 

Praktis, hanya Henry yang tersisa. Tapi, dengan dukungan yang kurang memadai, ia tak bisa berbuat banyak. Parahnya, pertahanan Barca juga bermasalah. Alhasil, Barca gagal meraih gelar apapun. Rijkaard dipecat di akhir musim, dan digantikan Pep Guardiola. Sementara itu, Ronaldinho dijual ke AC Milan.

Gagalnya skema "Fantastic Four" kala itu, membuat Barca kembali ke skema trisula di lini serang, skema yang memang sudah diandalkan klub sejak lama. Hasilnya, Barca menjalani era panen gelar, yang masih berlanjut hingga kini.

Secara teknis, kedatangan Coutinho, dan pulihnya Dembele, di paruh kedua musim ini, adalah kesempatan bagus bagi Barca arahan Ernesto Valverde, untuk mulai mengadaptasikan skema "kuartet" di lini serang, sebelum digunakan secara penuh musim depan. Karena, menyatukan pemain bertalenta, ke dalam sistem yang sudah berjalan, tetap perlu waktu tersendiri. Agaknya, Barca sudah belajar, dari gagalnya skema "kuartet" lini serang mereka sedekade silam.

Beralihnya skema lini serang Barca, dari "trisula" ke "kuartet", agaknya dipandang sebagai solusi terbaik, untuk menjaga ketajaman lini serang tim. Karena, skema "trisula" mereka, sudah mulai dibaca tim lawan. 

Sementara itu, pulihnya Dembele dan datangnya Coutinho, membuat skema duet Messi-Suarez tak lagi relevan. Jelas, hanya memarkir dua pemain seharga lebih dari 200 juta euro di bangku cadangan, adalah sebuah tindakan bodoh. Jadi, perlu ada modifikasi taktik, yang mampu mengakomodasi talenta dua pemain mahal.

Datangnya Coutinho, memang membuat Barca diselimuti optimisme. Karena, kini mereka punya kuartet "Fantastic Four" di lini serang. Tapi, selain mendatangkan optimisme, kuartet ini adalah sebuah tantangan tersendiri bagi Valverde, selaku pelatih Barca, untuk dapat memadukan keempatnya, dalam satu kombinasi yang kompak. Jika sukses, Barca akan menuai prestasi. Tapi, jika ternyata gagal,  Barca juga akan gagal total.

Mampukah kuartet "Fantastic Four" Barca "jaman now" ini bersinar?