Yose Revela
Yose Revela Penulis Lepas

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Jika Timnas Indonesia Pindah ke Zona OFC

13 November 2017   08:40 Diperbarui: 13 November 2017   17:28 1026 2 4
Jika Timnas Indonesia Pindah ke Zona OFC
(ChartsBin.com)

Menurut zona konfederasi per benuanya, FIFA, selaku badan tertinggi persepakbolaan Dunia, mempunyai 6 anggota, yakni UEFA (Eropa), CAF (Afrika), AFC (Asia), OFC (Oseania), Conmebol (Amerika Selatan), dan CONCACAF (Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia). Menurut jumlah partisipasi, dan prestasi di Piala Dunia, wakil dari UEFA, dan Conmebol, adalah yang paling rajin tampil, dan tersukses. Sejak Piala Dunia edisi pertama tahun 1930, wakil dari kedua zona ini tak pernah absen tampil.

Dari kedua zona ini jugalah, tim juara dunia selalu muncul. Hingga Piala Dunia 2014, negara wakil UEFA sukses mengangkat trofi Piala Dunia sebanyak 11 kali. Sedangkan jagoan Conmebol meraih 9 gelar. Diluar keduanya, prestasi tertinggi yang diraih adalah semifinalis, yakni Amerika Serikat (CONCACAF, Piala Dunia 1930), dan Korea Selatan (AFC, Piala Dunia 2002). Untuk tim wakil Afrika, capaian tertinggi adalah perempatfinalis, yakni Kamerun (1990), Senegal (2002), dan Ghana (2010). Lalu, di mana posisi wakil zona Oseania?

Posisi wakil zona Oseania ada di paling bawah. Dari total 20 edisi Piala Dunia, wakil Oseania hanya tampil di 4 edisi, yakni 1974 (Australia), 1982 (Selandia Baru), 2006 (Australia), dan 2010 (Selandia Baru). Prestasi tertinggi adalah perdelapanfinalis (Australia, 2006). Tapi, setelah Piala Dunia 2006, Australia memutuskan pindah ke AFC. 

Pertimbangannya, zona AFC dinilai lebih kompetitif, dan sesuai dengan level kualitas pemain mereka. Maklum, selama ini, The Socceroos kerap gagal lolos ke Piala Dunia, akibat kalah di di laga play-off antarbenua. Sekilas, pertimbangan ini terkesan sombong. Tapi, seiring berjalannya waktu, The Socceroos membuktikan asumsinya, dengan sukses meraih gelar Piala Asia 2015, plus lolos beruntun ke Piala Dunia (2010 dan 2014).

Situasi yang dialami timnas Australia ini, memunculkan sebuah pengandaian usil di pikiran saya: bagaimana jika misalkan timnas Indonesia pindah dari zona AFC ke OFC? Pengandaian ini muncul, setelah melihat betapa stagnannya perkembangan prestasi Tim Garuda di level Asia dan dunia. Okelah, untuk level ASEAN, kita memang bisa bersaing. Tapi, untuk level Asia, apalagi dunia, prestasi timnas, dan ekspektasi publik ibarat jauh panggang dari api. Celakanya, pelaku sepakbola kita (baca: PSSI) masih mengandalkan cara-cara instan, misalnya mengirim pemain muda "sekolah singkat" ke luar negeri (Proyek PSSI Primavera di Italia, dan SAD di Uruguay), dan naturalisasi pemain. Cara semacam ini terus saja diulang, meski hasilnya terbukti masih tetap nihil trofi.

Ekspektasi publik, yang kadang berlebihan, seret prestasi, penyakit "malas" PSSI, dan level kemampuan pemain kita yang cenderung stagnan, memang terus menjadi masalah pelik timnas kita saat ini. Menariknya, justru semua masalah inilah, yang membuat pengandaian usil saya ini jadi terlihat masuk akal. Bahkan, pindah ke OFC adalah opsi paling masuk akal. Terutama, jika melihat level kualitas tim-tim dari area ini. Praktis, lawan terkuat hanya Selandia Baru. Selebihnya, rata-rata air. Tapi, target yang dibidik, adalah lolos ke Piala Dunia 2026. Karena, pada Piala Dunia 2026, akan ada perubahan format, dan penambahan peserta turnamen.

Seperti dilansir situs FIFA.com, (10/11), per Piala Dunia 2026 mendatang, jumlah peserta turnamen ini adalah 48 negara peserta, dari yang sebelumnya 32 negara. Seluruh peserta dibagi ke dalam 16 grup yang terdiri dari tiga tim. Dua tim teratas setiap grup berhak melangkah ke fase gugur. Kecuali penambahan babak 32 besar, tidak ada perubahan dalam fase gugur, termasuk laga perebutan peringkat ketiga. Otomatis, jatah partisipasi masing-masing konfederasi bertambah dengan pembagian sebagai berikut:

- UEFA 16 tim (dari 13 tim)

- CAF/Afrika 9 tim (dari 5 tim)

- AFC/Asia 8 tim (dari 4 tim)

- Conmebol/Amerika Selatan 6 tim (dari 4 tim)

- Concacaf/Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia 6 tim (dari 3 tim)

- Oseania 1 tim (dari 0 tim)

- 2 slot tersisa akan diperebutkan dalam play-off antarbenua.

Memang, pada Piala Dunia 2026 mendatang, zona Asia punya kuota 8 tiket. Tapi, dengan masih kacaunya persepakbolaan kita saat ini, semua tiket itu terancam hanya tinggal mimpi. Karena, kita tak kunjung berbenah. Malah, PSSI bersama Thailand berencana mengajukan "bidding" tuan rumah bersama untuk Piala Dunia 2034. Di sini, budaya "malas" atau instan itu jelas terlihat.

Mungkin, khayalan saya ini terkesan agak merendahkan kemampuan timnas. Tapi, mengingat level kekuatan timnas saat ini, budaya "malas" PSSI, dan ekspektasi tinggi publik, pindah ke zona OFC bisa menjadi opsi terbaik, untuk dapat lolos ke Piala Dunia secara instan. Kecuali, jika kita mau segera membenahi semua aspek bermasalah, di persepakbolaan nasional tanpa kecuali, dan tak lagi berpikir instan.

Jadi, bagaimana, PSSI?