Mohon tunggu...
Yon Bayu
Yon Bayu Mohon Tunggu... Penulis - memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama | risalahmisteri.com

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Mempertanyakan Riset yang Jadi Dasar Kebijakan Kompasiana

8 Oktober 2021   12:05 Diperbarui: 9 Oktober 2021   10:17 454 47 16
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilusrasi: marketeers.com

Frasa atau keyword apakah yang Anda tulis di search engine Google ketika ingin tahu tentang orang Papua? Ternyata saat ini keyword "orang Papua asli" sangat populer. Dalam waktu 0,56 detik diperoleh hasil 44.400.000 tulisan (berita maupun artikel) yang menggunakan (bersinggungan) dengan kata atau frasa tersebut.

Aku sengaja tidak mengcapture karena teman-teman bisa membuktikan sendiri. Silakan ketik frasa "orang Papua asli" di mesin pencari Google dan lihat hasilnya.

Dari 44,4 juta tulisan yang terkait dengan kata kunci orang Papua, Papua, asli Papua, dll tersebut, tulisanku di Kompasiana yang aku posting tanggal 22 Juli 2021 dengan judul "DPRK dan Sebutan Orang Papua Asli" berada di nomor 25 atau halaman ketiga pada mesin pencari Google.

Untuk memastikan "riset"-ku tidak salah, aku meminta bantuan beberapa teman, di Depok, Malang dan Lampung, menggunakan keyword serupa dan hasilnya ternyata sama. Sebab jejak digital kita juga dihitung oleh Google. Jika kita sering membuka tulisan sendiri, Google pun tahu. Atau kalau kita habis search obat kuat, lalu buka Kompasiana, maka mayoritas iklan yang ditampilkan terkait obat kuat.

Bahkan dalam beberapa kesempatan aku menemukan fakta Google dapat "membaca" pikiranku. Suatu ketika, saat sedang buka Kompasiana, aku berpikir tentang rumah yang indah. Tiba-tiba Google menampilkan cluster rumah elit di pusat kota. Ajib!  

Apa arti dari hasil "riset' yang aku lakukan dan "disahkan" oleh beberapa teman? Tulisanku mengalahkan 44.399.975 tulisan lain dengan frasa atau kata kunci "orang Papua asli". Bukan hanya tulisan para pakar politik, namun juga puluhan ribu media online.

Mari kita lihat tulisan lain. Aku menggunakan tiga tulisan terakhirku di Kompasiana. Aku berusaha untuk menggunakan keyword populer ketika melakukan search.

Ketika aku ketik keyword "vandalisme baliho Puan" maka muncul 58.500 hasil. Dari jumlah itu, tulisanku yang berjudul "Vandalisme Baliho Puan, Motif dan Pelakunya" yang aku unggah di Kompasiana tanggal 28 Juli 2021 berada di nomor 60 atau halaman 6 dari indeks pencarian Google.

Tulisan terakhir yang aku ambil sebagai sample adalah "Jika KPK Abaikan Rekomendasi Ombudsman, Ini Sanksinya". Tulisan tersebut berada di nomor 21 atau halaman 3 dari 68.900 hasil.

Jika kita mengubah keyword tentu hasilnya akan berbeda.

Silakan teman-teman melakukan "riset" yang sama untuk mengetahui apakah tulisan kita support dengan SEO, algoritma, mesin pencari Google. Ini penting setelah kita tahu Kompasiana menggunakan search engine Google sebagai salah satu dasar pengambilan kebijakan terkait konten yang ditonjolkan atau "dibenamkan" sebagaimana uraian Content Superintendent Kompasiana Ibu Widha Karina.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Media Selengkapnya
Lihat Media Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan