Yon Bayu
Yon Bayu Penulis

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Artikel Utama

Operasi Membangkitkan Ingatan tentang Orde Baru

10 Januari 2019   19:43 Diperbarui: 11 Januari 2019   16:24 1155 14 8
Operasi Membangkitkan Ingatan tentang Orde Baru
Ilustrasi: Tribun Jatim

Aparat TNI dan Kejaksaan di Padang Barat, Sumatera Barat tiba-tiba merazia buku-buku yang dianggap mengandung paham komunis. Peristiwa itu spontan mengingatkan publik pada "kebiasaan" rezim Orde Baru. Murni operasi penertiban atau ada muatan lain?

Munculnya kelompok yang ingin mengembalikan masa-masa Orde Baru bukan hanya isapan jempol. Jika sebelumnya hanya melalui poster-poster Soeharto yang seolah mengingatkan "enaknya" zaman totaliter, kini keinginan tersebut dijawab dengan berdirinya Partai Berkarya yang didirikan putra-putri Soeharto, penguasa Orde Baru.

Meski kini Partai Golkar yang menjadi kendaraan politik rezim Orde Baru mendukung petahana Joko Widodo-Ma'ruf Amin, namun dalam kontestasi Pilpres 2019, kelompok-kelompok yang "merindukan" Orde Baru berada di kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. 

Bahkan Amien Rais, salah satu tokoh yang ikut menumbangkan Orde Baru, cukup permisif terhadap kebangkitan Orde Baru, termasuk mendukung pemutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan Gerakan 30 September/PKI.

Meski mungkin saja Amien Rais hanya menggunakan sisa-sisa kekuatan Orde Baru untuk melawan pemerintahan Jokowi yang dicap buruk, tetapi sulit dipungkiri saat ini gerakan kebangkitan Orde Baru terus membesar, bahkan menjadi perekat kepentingan pihak oposisi.

Tetapi mengaitkan operasi penyitaan buku seperti Jasmerah, Anak-anak Revolusi dan Kronik 65, dilakukan atas aspirasi antek-antek atau pendukung kebangkitan Orde Baru, sulit dicari benang merahnya. 

Mereka jelas tidak memiliki tangan untuk "menggerakkan" institusi militer dan kejaksaan. Namun demikian, operasi "buku PKI" di Padang yang dilakukan saat perayaan HUT PDI Perjuangan, juga jauh dari motif pencitraan pihak petahana, jika yang dimaksud adalah untuk mengesankan kubu petahana serius dalam mencegah kebangkitan PKI. Sebab sebagian penulis buku-buku tersebut merupakan kader PDI Perjuangan, termasuk Budiman Sudjatmiko.

Bahkan buku Mengincar Bung Besar ikut disita. Padahal buku bersampul gambar Presiden RI pertama Ir Soekarno tersebut mendapat "restu" Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP yang tidak lain anak Soekarno dan juga Presiden RI kelima. Sulit memahami jika hanya demi pencitraan sampai mengorbankan "harga diri" Megawati.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi di balik aksi razia buku yang menurut Danramil  01 Padang Barat-Padang Utara Mayor Inf Parningotan Simbolon, bermuatan PKI?

Aparat tengah menyita buku di Padang. Foto: detik.com
Aparat tengah menyita buku di Padang. Foto: detik.com
Pertama, mungkin murni hasil telaah pihak Koramil dan Kejaksaan Padang. Artinya penyitaan tersebut tidak ada kaitannya dengan kepentingan politik pihak mana pun.

Kedua, kemungkinan ada "operasi senyap" untuk mengingatkan kembali "kebobrokan" rezim Orde Baru. Pembredelan media massa dan penyitaan buku identik dengan cara-cara represif Orde Baru dalam membatasi kebebasan berpendapat warga bangsa.

Alasan ini didasarkan pada pernyataan-pernyataan kubu petahana yang sepertinya tengah berusaha mengaitkan Prabowo dengan "kebobrokan" Orde Baru. Penilaian Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Ahmad Basarah jika guru korupsi di Indonesia adalah Soeharto, mantan mertua Prabowo, hanyalah salah satu contoh upaya mengingatkan publik akan keburukan Orde Baru.

Sepertinya ada yang berharap aksi penyitaan buku di Padang menjadi etalase Orde Baru dan titik mula kemarahan publik yang kemudian mengkristal menjadi gerakan penolakan terhadap kembalinya rezim militeristik tersebut. Jika benar demikian, lalu siapa yang diuntungkan?

Ketiga, hanya kegiatan rutin untuk mencegah digunakannya buku-buku tersebut untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang tengah terlibat dalam kontestasi pilpres maupun pemilu.

Salam @yb