Politik highlight headline

Najwa Jadi Menteri? Blunder Besar Jokowi

12 Agustus 2017   16:43 Diperbarui: 12 Agustus 2017   22:28 68494 20 16
Najwa Jadi Menteri? Blunder Besar Jokowi
Najwa Shihab. Sumber: liputan6.com

Mundurnya Najwa Shihab dari Media Group diikuti kemudian dengan berkhirnya program Mata Najwa, menimbulkan spekulasi dirinya akan ditarik untuk mengisi pos menteri dalam Kabinet Kerja. Jika benar demikian, Presiden Joko Widodo melakukan blunder besar. Najwa bukan vote getter untuk kepentingan Jokowi di Pilpres 2019.

Program acara Mata Najwa yang ditayangkan Metro TV cukup fenomenal. Banyak tokoh-tokoh politik dikuliti dengan pertanyaan-pertanyaan Najwa yang lugas, tajam diiringi sorot mata menghujam. Najwa piawai menggiring tokoh yang diwawancarainya terpojok oleh pernyataannya sendiri manakala Najwa membaliknya dengan argumen yang tidak terduga. Nama Rhoma Irama, Agus Harimurti Yudhoyono adalah contoh bagaimana Najwa sukses menggiring nara sumber dengan pertanyaan-pertanyaan menjebak sehingga jawaban tokoh tersebut sesuai dengan keinginannya.

Di tangan Najwa pula, suasana wawancara dengan Basuki Tjahaja Purnama begitu hidup dan meriah. Najwa tampak mengikuti alur yang dimainkan Ahok sehingga pendukung Ahok yang saat itu memenuhi ruang wawancara begitu riuh. Pujian deras mengalir dan Najwa begitu menikmatinya.

Di sini akan kelihatan apakah Najwa hendak "membunuh" atau melambungkan tokoh yang diwawancarainya. Setiap wartawan memiliki naluri demikian, dan tentu saja disesuaikan dengan opini diri, perusahaan, atau (sebagian di antaranya) pemesan. Najwa mampu mengemas "misi" itu dengan baik meski dirinya bekerja di sebuah media publik yang "memiliki" partai politik (mohon tidak dibaca sebaliknya, pen).

Namun bukan berarti Najwa selalu sukses menelanjangi nara sumbernya. Wakil pemimpin redaksi sekaligus news anchor terkenal itu pernah menjadi bahan olok-olokan nitizen saat mewawancarai Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Bermaksud menjebak dengan pertanyaan yang diharapkan mendapat jawaban ya atau tidak sehingga Najwa akan langsung merangsek dengan pertanyaan panas terkait posisi tentara terhadap aksi Bela Islam 212, Panglima justru meledeknya. Kalimat, "mereka turun ke jalan karena tidak mendapat tempat di Mata Najwa" menjadi viral. Najwa pun menjadi olok-olokan publik dan dipersepsikan memusuhi umat Islam.

Najwa jurnalis hebat dan sangat kritis. Namun dia pun tidak mampu keluar dari frame kebijakan perusahaan. Meski setiap pertanyaan dilontarkan dengan tajam kepada semua tokoh yang diwawancarai, disertai tatapan mata menawan, namun pemirsa yang kritis dapat dengan mudah menebak ke mana muara pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak sulit untuk menebak kemauan Najwa setelah 2-3 pertanyaan terlontar.  

Kini Mata Najwa akan menjadi legenda. Talk show asuhan ibu satu putra ini akan dikenang sebagai salah satu acara TV yang menghibur dan mendidik bersama acara-cara serupa seperti Indonesia Lawyer Club yang digawangi jurnalis senior Karni Ilyas, (Bukan) Empat Mata asuhan Tukul "Coverboy" Arwana, dan mungkin akan disusul Hitam Putih-nya Deddy Cobuzier serta AIMAN-nya KOMPAS TV.

Seiring pengunduran dirinya, diikuti dengan berakhirnya siaran program Mata Najwa, tersiar rumor Najwa akan ditarik ke Kabinet Kerja. Bahkan ada yang menyebutkan posisinya yakni Menteri Pendidikan atau Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Para "spekulan informasi" ini tentu mendasarkan spekulasinya dengan kedekatan Najwa dan bos Media Group yang juga Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dengan Presiden Jokowi. Namun Najwa sudah membantahnya

Lagi pula reshuffle kabinet belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Presiden Jokowi masih sibuk menghadapi manuver tidak biasa dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Jokowi membutuhkan suasana kerja dan politik yang kondusif agar dirinya bisa leluasan menangkis, bila perlu, mengembalikan serangan itu. Dengan asumsi ini, maka reshuffle kabinet paling cepat akan dilakukan akhir tahun atau saat memasuki kuartal ke empat.

Dengan demikian, reshuffle kabinet bukan hanya untuk akselerasi kerja pemerintah, namun juga kepentingan politik mengingat tahun 2018 menjadi tahun penuh terakhir kekuasaan Jokowi. Orang-orang yang diangkat selain memiliki kemampuan manajerial pemerintahan, juga memiliki nilai positif dari sisi politik sehingga bisa ikut mendongkrak elektabilitas Jokowi.

Najwa tidak memiliki itu. Bahkan sebaliknya, oleh sebagian umat Islam Najwa sudah diposisikan sebagai "musuh". Najwa dianggap ikut menyudutkan umat Islam- tuduhan yang sebenarnya kurang tepat mengingat Najwa putri ulama besar nan kharismatik sekaligus mantan Menteri Agama, Prof. Quraisy Shihab. Najwa tidak sinergi dengan misi politik Jokowi yang tengah mendekati umat Islam dari kelompok "garis keras". Mengangkat Najwa sebagai menteri, akan menjadi pertaruhan, bahkan mungkin blunder, besar Presiden Jokowi.   

Jika pun ingin menggunakan tenaga dan pikiran kritis Najwa, Presiden Jokowi akan menempatkannya pada posisi yang memiliki tugas spesifik dan tidak berhubungan langsung dengan masyarakat, semisal "manajer" pada lembaga non departemen.

salam @yb