Mohon tunggu...
Yon Bayu
Yon Bayu Mohon Tunggu... Penulis - memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama | risalahmisteri.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Fix! Pilpres Diikuti 3 Capres

28 Juli 2017   08:15 Diperbarui: 28 Juli 2017   12:21 46589 26 26 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fix! Pilpres Diikuti 3 Capres
SBY dan Prabowo di Cikeas. Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Kunjungan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ke Cikeas, kediaman Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, menutup peluang terjadinya Koalisi Merah Putih jilid II. Dengan demikian akan ada tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2019. Gesekan SBY dengan Presiden Joko Widodo akan kembali terjadi, dan dipastikan lebih panas dibanding "bentrok" sebelumnya.

Poin terpenting dari pertemuan Prabowo dengan SBY yang didampingi putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono adalah sepakat untuk tidak sepakat. Masing-masing kubu mengusung capres sendiri tanpa saling mengganggu. Rivalitas antara Prabowo dan Agus Harimurti akan diminimalisir. Namun kesepakatan itu selesai jika jika Jokowi tumbang di putaran awal. Sebaliknya, jika hanya salah satu di antara mereka yang masuk putaran kedua, maka yang kalah wajib mendukung.

Kesepakatan itu merupakan opsi pertama dari tiga opsi yang ditawarkan Prabowo kepada SBY yakni kubu Hambalang dan Cikeas sama-sama mengusung calon. Prabowo meminta agar SBY tidak mengganggu PKS, namun mencari mitra koalisi sendiri agar bisa mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pada pertemuan itu Prabowo meyakinkan SBY jika antara Gerindra dan PKS yang memiliki 113 dari 112 kursi yang dibutuhkan sesuai RUU Pemilu yang baru disetujui DPR, sudah ada kesepakatan awal untuk berkoalisi di Pilpres 2019. Sebagai imbalannya, Gerindra akan menutup pintu terhadap PAN sehingga partai besutan Amien Rais itu mau tidak mau harus berlabuh ke Cikeas jika memang tidak mungkin lagi mendukung Jokowi. Prabowo juga akan membantu melobi PKB atau PPP agar ikut bergabung ke Cikeas. Sebab jika hanya berkoalisi dengan PAN, gabung jumlah kursi maupun perolehan suara nasional keduanya belum menjadi satu perahu.

SBY menolak opsi kedua yakni menjadikan Agus Yudhoyono sebagai calon wakil presiden dan calon presiden di pilpres berikutnya. SBY masih meyakini anaknya mampu meraih simpati masyarakat meski tidak diunggulkan. SBY akan menggunakan pengalaman Pilpres 2004 dan 2009 yang dimenanginya untuk menggagalkan ambisi Presiden Jokowi merengkuh periode keduanya. .

SBY enggan menerima "ijon" politik seperti yang pernah dibuat antara Gerindra dengan PDI Perjuangan pada Pilpres 2009 di mana PDIP berjanji mendukung Prabowo sebagai calon presiden di pilpres berikutnya setelah Prabowo bersedia menjadi calon wakil presiden mendampingi Ketua Umum PDIP Megawati soekarnoputri. Namun PDIP kemudian mengingkari poin ke tujuh Perjanjian Batu Tulis yang dibuat tanggal 16 Mei 2009. Pada Pilpres 2014 PDIP justru mengusung Jokowi dan menjadi rival utama Prabowo.

SBY juga menolak opsi ketiga yakni menerima dukungan Gerindra dengan syarat elektabilitas jagoan Cikeas harus lebih tinggi dari Prabowo, dan berlaku sebaliknya. SBY paham jika elektabilitas putranya masih jauh di bawah Prabowo dan tidak mungkin bisa mengejarnya dalam waktu dekat. SBY akan memoles Agus Harimurti sebagai calon alternatif di tengah persaingan panas antara Prabowo - Jokowi. Strategi itu terbukti ampuh sebagaimana yang terjadi pada gelaran Pilkada DKI 2017.

Pertemuan Cikeas merupakan kemenangan Prabowo karena mendapat jaminan bahwa Demokrat tidak akan menarik PKS. Sebaliknya, bagi SBY pertemuan politik yang diawali santap nasi goreng itu cukup melegakan. Kini dirinya bisa lebih fokus menghadapi Jokowi. SBY akan mengaktifkan saluran politik yang dimilikinya untuk mulai menebar janji manis kepada satu-dua partai pendukung pemerintah di luar PAN.

Itu artinya, tugas berat telah menunggu Jokowi untuk bisa mempertahankan jabatannya. Meski jika satu-dua partai pendukungnya membelot tidak akan memberi pengaruh, tetapi melawan dua musuh tentu lebih berat dibanding satu musuh seperti pada Pilpres 2014. Tingginya elektabilitas dan riuhnya dukungan di media sosial, bukan jaminan kemenangan sebagaimana terjadi pada Basuki Tjahaja Purnama di Pilkada DKI. Jokowi harus mereduksi isu-isu mematikan terutama yang berkaitan dengan "kriminalisasi" Islam. Jokowi harus mampu meyakinkan publik bahwa penerbitan Perppu Ormas bukan wujud ketakutan partai-partai nasionalis pendukungnya terhadap kebangkitan politik Islam.

Salam @yb

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN