Mohon tunggu...
Yonathan Christanto
Yonathan Christanto Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Movie Enthusiast | Music Lover | Kompasiana Awards 2018 Nominee for Best in Specific Category

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Karena Perfilman Nasional Masih Terus Berbenah

2 April 2019   17:35 Diperbarui: 2 April 2019   20:00 0 12 4 Mohon Tunggu...
Karena Perfilman Nasional Masih Terus Berbenah
Ilustrasi: saga.co.uk

Mungkin seorang Usmar Ismail tak akan pernah menyangka, jika kelak 69 tahun setelah proses pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi yang disutradarainya, akan membawa dampak yang begitu luar biasa bagi negeri tercintanya. 

Sebuah film yang saat itu mungkin dibuat hanya sebagai bukti kecintaannya pada dunia film. Atau mungkin sebuah film yang memang dirasa perlu dibuat untuk mendokumentasikan sedikit kejadian pada masa tersebut.

Usmar Ismail (Liputan6.com)
Usmar Ismail (Liputan6.com)
Namun ternyata film tersebut menjadi tonggak sejarah baru bagi perfilman nasional hingga saat ini. Sempat mengalami jatuh bangun sejak era 80 hingga 90-an, perfilman Indonesia kemudian memulai titik balik di era modern lewat kehadiran tiga film yang merubah peta perfilman Indonesia hingga saat ini. 

Jelangkung (2001) sebagai pelopor horror modern, Petualangan Sherina (2000) di ranah anak-anak, sementara Ada Apa Dengan Cinta? (2002) sebagai pelopor film drama cinta remaja. 

Meskipun memasuki tahun 2011 bioskop sempat dipenuhi film horor esek-esek, pada akhirnya film-film tersebut terkikis dengan sendirinya. 

Kini, meskipun masih ada beberapa horor yang menggunakan formula serupa, namun bioskop Indonesia justru dipenuhi oleh film-film lokal dengan kualitas yang bisa disebut luar biasa. Film-film berskala Internasional baik film aksi, horor atau bertema arthouse pun kini jamak dijumpai entah lewat bioskop reguler ataupun penayangan di festival-festival film.

Namun, bukan tentang film saja yang mengalami perkembangan di Indonesia. Lebih dari itu, perfilman Indonesia juga semakin berkembang secara global. Berbagai sisi termasuk industri yang menaunginya, mengalami perkembangan yang signifikan hingga mampu merubah wajah perfilman nasional kita yang semakin cerah ke depannya.

Sumber Daya Manusia yang Semakin Baik

Ilustrasi: nairaland.com
Ilustrasi: nairaland.com
Satu hal yang membedakan industri film Indonesia saat ini dengan tahun-tahun sebelumnya tentu saja ada pada sumber daya manusia yang semakin baik. Entah aktor dan aktrisnya, sutradara, penata kamera, ataupun penulis skenario, semuanya mampu menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan terkait berkembangnya kualitas perfilman nasional kita saat ini.

Khusus poin terakhir yaitu penulis skenario, memang saat ini masih kurang banyak penulis skenario kompeten yang tersedia di Indonesia. Dan hal ini tentunya menjadi tugas bersama baik dari lembaga perfilman juga lembaga pendidikan, untuk menyediakan sarana yang menunjang banyak orang untuk belajar lebih dalam tentang perfilman, khususnya kelas penulisan skenario ini.

Ical Tanjung. (Twitter: @jokoanwar)
Ical Tanjung. (Twitter: @jokoanwar)
Namun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa saat ini SDM dalam industri film nasional kita sudah jauh lebih baik, bahkan namanya harum hingga ke luar negeri. Nama-nama sinematografer seperti Ical Tanjung, Sidi Saleh, Gusnar Nimpuno hingga Yadi Sugandi, mampu merepresentasikan visualisasi film modern ke dalam film nasional, yang mungkin dulu hanya bisa kita saksikan pada berbagai film asing.

Aria Prayogi & Fajar Yuskemal (zimbio.com)
Aria Prayogi & Fajar Yuskemal (zimbio.com)
Pun begitu dengan para komposer musik film semisal Bembi Gusti, Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi. Mereka mampu menghadirkan scoring ataupun musik latar yang menggugah, berkelas dunia, bahkan tak kalah kualitasnya dengan milik Hollywood. Khusus untuk Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi, scoring garapan mereka untuk 2 film produksi Netflix yaitu Apostle dan The Night Comes for Us tentunya tak hanya semakin melambungkan namanya ke seluruh dunia, namun juga mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional.

Itu semua menunjukkan bahwa SDM di industri film nasional tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Indonesia telah siap memasuki babak baru perfilman nasional yang semakin maju bahkan diakui dunia.

Film Nasional yang Mampu Berbicara Lebih di Kancah Internasional

Sumber: cleveland.com
Sumber: cleveland.com
Tak bisa dipungkiri, saat ini film nasional memiliki jenis dan kisah yang semakin beragam. Film aksi, horor, drama percintaan, film anak-anak, komedi, hingga thriller surealis, semuanya tersedia untuk ditonton. Tak hanya itu, dari sisi cerita pun semakin berkembang, bahkan beberapa diantaranya begitu fresh hingga memukau penonton Internasional.

Sumber: wow.tribunnews.com
Sumber: wow.tribunnews.com
Film-film seperti Pengabdi Setan versi Joko Anwar, dwilogi The Raid, Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak, hingga The Night Comes For Us, menjadi contoh terbaru bagaimana film-film Indonesia pada akhirnya bisa begitu dipuji publik Internasional. Cerita yang segar bahkan kualitas produksi yang tak main-main, menjadi sebab mengapa film-film tersebut begitu memukau publik mancanegara.

Bahkan yang terbaru, melalui film Dilan 1991, Indonesia menjadi perbincangan hangat media-media hiburan asing. Terlepas dari filmnya yang begitu cheesy bagi sebagian orang, jumlah penonton sebanyak 800 ribu di hari pertama tayang menjadi rekor penonton hari pertama terbanyak, bahkan mengalahkan Avengers: Infinity War yang sebelumnya bertengger di angka 545 ribu. 

Sumber: Indopos.com
Sumber: Indopos.com
Tentu saja "kekalahan" Avengers ini mengundang decak kagum media Internasional, karena Thanos ternyata bisa begitu mudah dikalahkan oleh remaja bandel asal Bandung.

Film bergenre superhero pun siap berdatangan meramaikan perfilman nasional. Setelah Wiro Sableng cukup berhasil tahun lalu bahkan berhasil menggandeng 20th Century Fox sebagai distributornya, selanjutnya ada Gundala, Satria Dewa Gatotkaca serta Si Buta dari Gua Hantu yang siap menghibur para penonton Indonesia. Tentunya ini menjadi angin segar bagi perfilman tanah air, di mana euforia superhero Hollywood akhirnya membangkitkan semangat sineas kita untuk menghidupkan karakter superhero lokal.

Mungkin beberapa tahun yang lalu kita "boleh" apatis dan cenderung menyepelekan film-film nasional karena begitu didominasi film-film yang digarap asal dan tak maksimal. Namun sekarang, tak bisa dipungkiri film nasional perlahan mulai bisa menjadi raja di negeri sendiri berkat meningkatnya kualitas cerita dan produksi. Jika sudah begitu, masih mau menyepelekan film nasional?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3