Mohon tunggu...
Putra NoviantoGadi
Putra NoviantoGadi Mohon Tunggu... Mahasiswa FISIP Universitas Atma Jaya

Akun untuk mengerjakan tugas (:

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

"Bibit-Bebet-Bobot": Filosofi Jawa dalam Mencari Jodoh

13 Oktober 2020   20:17 Diperbarui: 13 Oktober 2020   20:39 378 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Bibit-Bebet-Bobot": Filosofi Jawa dalam Mencari Jodoh
pngimage.com

Filosofi bibit-bebet-bobot ini tentu tidak asing bagi kita. Bibit-bebet-bobot merupakan filosofi Jawa yang berkaitan dengan kriteria mencari jodoh ataupun pasangan hidup. 

Filosofi ini dipakai untuk memperoleh gambaran tentang kriteria jodoh versi Jawa , atau setidaknya menjadi alat kalibrasi atas kriteria pasangan yang sudah dikantongi.

Berkaitan dengan pemilihan jodoh, orang Jawa sangat berhati-hati. Kebanyakan orang Jawa masih mempercayai pepatah yang berbunyi "Malapetaka besar yang dialami oleh seseorang adalah ketika ia salah memilih siapa yang menjadi pasangan hidupnya." 

Karenanya falsafah jawa bibit, bebet, bobot tersebut masih sering digunakan ileh orang Jawa dalam mencari pasangan hidup, yang nantinya akan menjadi garwo (sigare nyowo) dalam bahasa Indonesia berarti "belahan hati".

Disini saya akan mencoba melihat salah satu filosofi budaya Jawa ini dalam 2 sudut pandang teori yang tentunya saling berkaitan. Pertama adalah teori dari  Kluckhohn dan Strodtbeck's - Future Orientation. Kemudian yang kedua adalah Individualisme, teori dari Hofstede.

Sebelum  lebih lanjut membahas mengenai filosofi Jawa berdasar 2 teori diatas, saya akan sedikit menjelaskan mengenai 3 hal yang ada di filosofi tersebut. Bibit, bebet, bobot yang menjadi kriteria orang Jawa dalam mencari pasangan hidup tentunya memiliki artinya masing-masing. 

Bibit adalah asal/usul keturunan. Disini kita diajarkan untuk mencari tahu mengenai latar belakang dari pasangan tersebut. Seperti, apakah keluarga dari calon pasangan kita memiliki latar belakang yang baik atau malahan buruk. 

Bebet merupakan status sosial (harkat, martabat, prestige). Beberapa orang jawa juga mempertimbangkan status sosial mereka dalam mencari pasangan hidup.

Kemudian yang terakhir ada Bobot. Bobot merupakan kualitas diri baik lahir maupun batin. Meliputi keimanan (kepahaman agamanya), pendidikan, pekerjaan, kecakapan, dan perilaku. 

Analisis yang pertama yaitu menggunakan Future Orientation dari Kluckhohn dan Strodtbeck's. "Budaya yang berorientasi pada masa depan biasanya menghargai apa yang akan datang dan masa depan diharapkan lebih baik dari masa kini ataupun masa lalu" (Samovar, 2013).  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN