Mohon tunggu...
Yana Haudy
Yana Haudy Mohon Tunggu... Lainnya - .

.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Ketaksaan Siswa PAUD Belajar Calistung dalam Impitan Kurikulum 2013

1 September 2021   14:06 Diperbarui: 3 September 2021   03:08 1945 56 17
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi: via pexels/kampus production

Bagaimana PAUD tidak mengajarkan calistung kepada peserta didiknya, kalau materi pelajaran di SD mengharuskan anak sudah mahir membaca dan menulis?

Sebelum diberlakukan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) seperti sekarang, Sekolah Dasar, yang dianggap unggulan, menerapkan seleksi calistung (membaca, menulis, dan berhitung) kepada anak-anak yang ingin masuk sekolah mereka.

Mau tidak mau, jenjang TK memberi pelajaran tambahan berupa menulis dan membaca kepada peserta didiknya.

Padahal, Kemendikbud sudah mengingatkan (melalui surat edaran Nomor 1839/C.C2/TU/2009) dan Permendikbud No. 58 Tahun 2009 (sudah kedaluwarsa dan diganti dengan Permendikbud No 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional PAUD) bahwa PAUD tidak diperkenankan memberi materi calistung secara langsung.

PAUD adalah Pendidikan Anak Usia Dini yang merupakan payung yang menaungi playgroup (Kelompok Bermain) dan Taman Kanak-kanak (TK). Jadi, TK adalah jalur pendidikan formal yang merupakan bagian dari PAUD.

Idealnya, di jenjang PAUD calistung hanya dikenalkan untuk mendukung pendidikan karakter dan pengembangan kognitif, bukan diajarkan secara langsung.

Lho, katanya harus memperkenalkan literasi sejak dini? Bagaimana anak bisa baca buku kalau dia tidak diajarkan membaca?

Sesuai panduan untuk PAUD dari Kemendikbud, buku untuk anak TK adalah yang bergambar dan membiarkan anak menceritakan isi buku memakai kalimat dan imajinasinya sendiri. Guru dan orang tua juga bisa membacakan isi buku kepada anak.

Contoh buku untuk siswa TK. Foto: Cacing Tanah Kecil yang Ingin Menjadi Kupu-kupu, karangan Hennie Triana Oberst
Contoh buku untuk siswa TK. Foto: Cacing Tanah Kecil yang Ingin Menjadi Kupu-kupu, karangan Hennie Triana Oberst

Kemampuan membaca dan menulis tertinggi yang dikuasai lulusan TK adalah membaca dan menulis namanya sendiri.

Akan tetapi, lulusan TK yang cuma bisa membaca dan menulis namanya sendiri bakal kesulitan mengikuti pelajaran di SD.

Sekolah-sekolah, terutama yang berakreditasi A dan berstatus standar nasional, ingin on time menuntaskan kurikulum sehingga mereka "tidak punya waktu" untuk mengajari peserta didik membaca dan menulis lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan