Mohon tunggu...
Sindikat Jogja
Sindikat Jogja Mohon Tunggu...

Paguyuban Jogja

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Prabowo; Kampanye Maskulinitas Fasis untuk Kaum Muda

31 Mei 2014   04:39 Diperbarui: 23 Juni 2015   21:55 359 2 0 Mohon Tunggu...

“Semua laki-laki jantan pasti pilih Prabowo.” Itulah sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh Ahmad Dhani, salah satu musisi yang digandrungi anak muda Indonesia. Dhani juga menyanjung-nyanjung Prabowo sebagai capres yang ideal baginya, dengan kesan tegas dan berlatar belakang militer. Dia juga menilai Prabowo lebih berwibawa ketimbang kandidat capres lainnya, yang memiliki sisi maskulin kuat sesuai dengan karakternya.

Tak heran sebenarnya jika Ahmad Dhani ini menyukai gaya Prabowo Subianto. Sudah bisa dilihat dari gaya pakaian panggungnya yang juga kerap kali berselera kemiliter-militeran. Mungkin saja Dhani ini pernah bermimpi jadi tentara namun tak kesampaian.

Walau bercerai dengan Maia, tapi soal pilihan capres, ia sepakat dengan mantan suaminya itu. “Indonesia butuh pemimpin yang tegas dan ganteng,” katanya. Kalau pun ganteng, tetapi terlalu lama untuk bertindak, menurut Maia, jelas tidak akan menjadi pilihannya.Ada pula Baby Margareta, artis hot yang jatuh hati kepada Prabowo. “Saya mau banget sama Prabowo. Selain tampan dan juga berwibawa,” katanya. Artis dengan pose-pose seronok yang siap dikawini oleh Prabowo, konon katanya.

Ada tiga kata kunci dari pernyataan para selebritis di atas; jantan, berwibawa, dan tegas. Dari ketiga kata tersebut bisa diringkas menjadi satu : maskulinitas. Bagaimana menganalisa fenomena kekaguman para selebritis muda yang menonjolkan sisi maskulin Prabowo Subianto?

Kekaguman para selebritis muda tersebut bukan hanya sekedar pengisi rubrik acara gosip yang biasa mengisi hari-hari televisi. Tapi ini adalah propaganda politik yang secara sadar dijalankan oleh Prabowo, salah satu cara yang sudah dipersiapkan matang-matang sejak kekalahannya menjadi wapres 2009 lalu. Prabowo percaya, statement para artis bahkan artis porno sekalipun bakal lebih didengar oleh generasi muda dibandingkan jika ia memakai mulut para tokoh intelektual.

Dalam beberapa kampanye sebelumnya, Prabowo selalu berusaha untuk menunjukkan hal-hal yang aristokrat sekaligus bernuansa militer. Misal saja dengan menunggang kuda seharga milyaran rupiah, Prabowo ingin dicitrakan seperti Panglima Besar Jendral Soedirman. Lupa kalau Jenderal Soedirman itu kurus bukan gempal?

Tapi melalui tunggang-menunggang kuda itu, ia hendak mencemooh kepemimpinan saat ini yang penuh keragu-raguan, terlalu banyak pertimbangan, dan lamban dalam bertindak. Berbagai macam konflik sosial, degradasi moral, maraknya kasus korupsi, pemerkosaan seksual terhadap perempuan dan anak, pelanggaran kedaulatan bangsa, hanya bisa dijawab lewat sosok pemimpin yang kuat, jantan, tegas, berwibawa. Dan Prabowo ingin memitoskan bahwa semua itu hanya bisa dijawab oleh sosok seorang militer : Prabowo Subianto.

Prabowo betul-betul memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat luas terhadap pemerintahan saat ini, siapa lagi kalau bukan pemerintahan SBY. Ia berjanji untuk mengoreksi semua akar permasalahan yang membelit bangsa ini. Tapi itulah Prabowo, mengkritisi pemerintahan SBY, tapi malah berkoalisi dengan semua parpol pendukung SBY, bahkan berjanji melanjutkan kerja-kerja SBY.

Ah, janji-janjinya seperti tertinggal di pelana kudanya, atau tercecer di Yordania.

Tapi ngomong-ngomong soal propaganda, dalam sejarah politik Indonesia, hal itu bukan sama sekali baru. Bahkan propaganda sangat efektif di zaman Orba, demi mencengkeramkan kekuatan militer dan Soeharto di benak setiap rakyat Indonesia. Propaganda semacam ini bisa dapat kita lihat dari film ‘Serangan Fajar’ dan ‘Pengkhianatan G30S PKI’. Ah, memang warisan militer Orba demikian piawai dalam mengelola propaganda. Tak dapat dipungkiri memang.

Dalam film ‘Serangan Fajar’ tampak bagaimana seluruh inisiatif penyerangan terhadap Belanda ada sepenuhnya di bawah komando Soeharto. Nyaris tak ada debat ataupun diskusi, untuk menimbang resiko dari aksi militer di bawah komando Soeharto. Bagaimanapun, tabiat komando memang meniadakan dialog dan hanya menuntut kesetiaan penuh untuk melakukan apa yang dikatakan pemimpin.

Hal serupa kita dapati dalam film ‘Pengkhianatan G30S/ PKI’. Soeharto digambarkan sebagai sosok berwibawa yang mampu menjadi sang pemandu dan penegak ‘ketertiban’ di tengah galau politik akibat terbunuhnya para jenderal. Di dalam kedua film tersebut, kita temukan betapa kuat kultur ‘komando’, hakikat dari paham militeristik yang menjadi akar dari fasisme, kemudian disebarluaskan kepada masyarakat Indonesia. Dalam paham fasis, manusia tidaklah sama, ada golongan yang lebih utama, ada golongan yang pantas untuk binasa. Ketidaksamaan inilah yang mendorong munculnya menujaan atas idealisme dan identitas mereka.

Ingat, bagi orang-orang fasis, kekuasaan militer melampaui sipil, dan yang kuat melampaui hingga menjajah yang lemah. TIDAK ADA KESETARAAN DAN KEMANUSIAAN, semua itu diganti dengan ideologi yang mengedepankan kekuatan. Bagi pemimpin fasis, pemerintahan hanya dipimpin oleh segelintir elit, yang merasa lebih tahu keinginan seluruh anggota masyarakat. Maka, jika ada pertentangan pendapat, maka yang berlaku adalah keinginan para elit yang berkuasa. Jangan harap Anda punya kesempatan untuk bersuara atau bertanya, kepala Anda taruhannya.

Tapi Prabowo tahu bahwa apa yang berusaha dijualnya adalah hal yang menyeramkan; fasisme militer. Maka, ia mengemas cara baru propaganda dengan polesan aroma artis serta suara dari wanita minim busana. Pencitraan militeristik harus dibantu dengan mulut-mulut para artis. Agar kaum muda menjadi lebih mudah percaya dan terperdaya, kemudian menjadi membela, bahwa pemimpin militer adalah dambaan mereka semua.

Prabowo menggunakan taktik soft diplomacy dalam mempromosikan citra maskulinitas militernya. Gagasan-gagasan yang menggambarkan maskulinitas Prabowo dirasa tak cukup mempan diperkenalkan lewat bedil, peluru, bahkan kuda atau helikopter. Prabowo merasa perlu umenambahkannya dengan pengakuan para selebritis, yang menjadi idola banyak kaum muda.

Berdekatan dengan banyak artis apakah membuat hati dan diri Prabowo tersentuh cita rasa art (seni)? Tentu tidak, ia tetap Prabowo Subianto, yang rumahnya di pinggir kota itu dikelilingi oleh kamp-kamp pelatihan paramiliter, mendidik anak muda sipil menjadi pasukannya, yang patuh pada perintahnya bukan berdialektika dengan gagasannya. Juga, Prabowo Subianto tetap mengandalkan anak muda semacam Pius Lustrilanang yangsibuk membangun laskar paramiliter yang tangguh untuk mendukung gerakan-gerakan politiknya. Dan memelihara pasukan Hercules, untuk menjadi pasukan sipil yang nanti dapat dipersenjatai, seperti dulu PAM Swakarsa bikinannya.






http://www.merdeka.com/politik/ahmad-dhani-jual-isu-capres-maskulin-bakal-laku.html





http://entertainment.kompas.com/read/2009/03/18/e100101/Aih....Aih....Maia.Puji.Prabowo.Karena.Ganteng





http://www.nonstop-online.com/2013/10/5-artis-hot-ngebet-dikawini-prabowo/





Irawanto Budi. Film Propaganda : Ikonografi Kekuasaan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, vol.8, no.1, Juli 2004. hlm.10.





www.newhistorian.wordpress.com , artikel berjudul Fasisme, yang ditulis pada 4 Januari 2008.





http://www.tempo.co/read/news/2013/10/28/078525228/Taktik-Pius-Mendekati-Prabowo-Subianto/1/7

@sindikatjogja




VIDEO PILIHAN