Mohon tunggu...
Abdul Adzim Irsad
Abdul Adzim Irsad Mohon Tunggu... Mengajar di Universitas Negeri Malang

Menulis itu menyenangkan.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Menguji Kesaktian Jokowi Menjadi Presiden RI

27 November 2014   06:07 Diperbarui: 17 Juni 2015   16:44 3262 0 0 Mohon Tunggu...

Jokowi Widodo itu bukan putra pejabat, bukan juga putra konglomerat, juga bukan berdarah biru, melainkan rakyat biasa. Bahkan, Jokowi diprediksi tidak akan mampu mengalahkan Prabowo Subianto yang berdarah biru itu. Apalagi, orang disekitar Prabowo itu juga memiliki gelar berjajar, mulai professor hingga doctor. Sebut saja Fadli Zon, yang kaya dengan gelar, kolektor keris, serta pandai bersilat lidah dalam dunia politik. Hampir setiap langkah Jokowi, selalu dikritisi, bahkan kadang terlihat lebay dan alay. Tapi itulah politik.

Walaupun Jokowi itu rakyat biasa, dari rakyat jelata, teryata Allah SWT membuktikan kekuasaan-Nya, bahwa Jokowi ahirnya menjadi presiden Republik Indonesia. Ini juga menjadi isarat serta bukti, jika Allah SWT menentukan seseorang menjadi pemimpin, maka tidak satupun kekuatan yang mampu menghalanginya. Naiknya Jokowi menjadi presiden Republik Indonesia, akan memberikan motivasi sendiri bagi orangtua.

Ibu-ibu sekarang akan mengatakan kepada putra-putrinya “wahai anakku….lihatlah Jokowi itu, walaupun anaknya rakyat bisa, ternyata bisa menjadi orang nomer 1 di negeri ini”. Minimal, fenomena terpilihnya Jokowi itu akan membuka mata rakyat jelata untuk belajar lebih giat dan semangat agar bisa meraih cinta-cita setinggi langit. Presiden itu bukan sesutu yang mustahil, jika Allah SWT menghendakinya.

Jokowi itu memang gila, mirip dengan Gus Dur, sama-sama dari kalangan sipil. Bagaimana tidak gila, setelah dilantik menjadi presiden, Jokowi memilih Susi menjadi menterinya. Padahal, Susi itu perokok, memiliki tato, serta tidak lulus SMA lagi. Wajarlah saja jika para sarjana, magister, doctor, dan professor merasa iri dengan Ibu Susi Pujdiastuti.

Tidaklah berlebihan jika agamawan yang terdiri dari ulama’, asatid, serta partai politik yang mengaku islami memandang bahwa Jokowi itu gendeng temenan (gila), karena mengangkat sosok Susi menjadi menteri. Menteri itu bukan sekedar bekerja, lebih dari itu, seorang menteri menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia. Ada juga agamawan yang bijaksana, mereka mengatakan:”Susi itu orang cerdas, tidak lama lagi dia akan berhenti merokok”.

Sementara, bagi pekerja keras dan profesionalisme, memandang bahwa langkah Jokowi itu sangat tepat. Karena Indonesia itu butuh orang yang ikhlas dalam bekerja, ikhlas membangun bangsa, professional dalam pekerjaan, serta tidak pamrih di dalam bekerja. Susi itu bekerja  tidak memikirkan bayaran. Bayaran Susi itu di Susi Air jauh lebih besar jika dibandingkan dengan gaji sebagai seorang menteri. Belum lagi, ocehan ngawur dari para pembenci yang setiap hari membuat telinga semakin gatal-gatal.

Susi bukan pandai beretorika dan teori belaka, tetapi Susi itu memiliki pengalaman panjang, serta memiliki ethos kerja yang bagus. Pengalaman itu bisa dimanfaatkan untuk membangun bangsa Indonesia lebih baik, sesuai dengan profesinya. Begitu dilantik, Susi sudah semangat bekerja untuk negeri Indonesia tercinta.

Kemampuan Susi di dalam ngurusi maritim menjadi bukti nyata bahwa gelar itu tidak begitu manfaat, jika tidak memilik skill (ketrampilan) dan professional, serta ethos kerja yang tinggi. Apa artinya ijazah, jika mentalnya rendah, padahal Islam itu mengajarkan bekerja keras agar menjadi orang yang suka memberi, bukan meminta-minta.

Dalam bahasa arab, sebagaimana hadis Nabi SAW, tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan di atas”. Bahkan kitab suci mengajarkan kepada umat Islam agar supaya berbagi materi (zakat dan sedekah). Artinya, ini sebuah anjuran agar menjadi orang mampu secara finansial, agar berbagi terhadap orang-orang yang membutuhkan.

Jika melihat penanpilan Ibu Susi, teringat  sosok Dahlan Iskan yang pernah menjadi pergunjingan para pejabat, karena sikap dan wataknya yang Koboy. Begitulah kira-kira Susi, yang penting bekerja dan bekerja untuk negara, serta bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Tidak perduli dengan omongan orang tentang dirinya yang katanya “tidak punya ijazah SMA”.

Ke-gendengan (gila) Jokowi terlihat lagi saat berkunjung ke Singapura di dalam menghadiri wisuda putranya. Naik pesawat Garuda Ekonomi lagi. Aksi Jokowi itu mengingatkan kisah seorang Kholifah Umar Ibn Abdul Aziz. Suatu ketika tatkala Umar Ibn  Abdul Aziz sedang ngantor. Tiba-tiba, putranya mengetuk pintu. Kemudian Umar Ibn Abdul Aziz bertanya:” siapa itu? Putranya menjawab:” saya…putramu ayahanda.  Umar Ibn Abdul Aziz menjawab lagi:”engkau ada urusan pribadi apa urusan Negara datang kemari? Sang anak menjawab singkat urusan pribadi.

Mendengar jawaban sang anak, tiba-tiba Umar Ibn Abdul Aziz mematikan lampu. Maka dibukalah pintu kantornya. Melihat kondisi ruangan gelap, sang anak bertanta:”kenapa ayahanda mematikan lampunya. Sang ayah menjawab:” aku tidak ingin menggunakan fasilitas Negara, karena ini urusan pribadi”.

Begitulah kira-kira analogi seputar kepergian Jokowi ke Singapura dengan menggunakan biaya sendiri dan ekonomi. Rival-rival politknya akang mengatakan”itu pencitraan Jokowi”. Melihat orang mengatakan itu, paling-paling dalam hati Jokowi mengatakan “aku rapopo”. Begitulah jawaban khas Jokowi, sebagimana ciri jawaban khas Gus Dur “gitu aja kok repot”.

Apapun yang dilakukan Jokowi selamanya tidak ada benarnya. Selalu dan selalu akan dicari kesalahan dan kekuranganya, sampai akhir pemerintahan Jokowi. Karena memang masih banyak yang tidak suka terhadap dirinya. Suka atau tidak suka, Jokowi itu presiden Republik Indonesia yang sah.

Jika dilihat dari sejarah, dari masa kemasa, pergantian presiden Indonesia itu selalu dijatuhkan oleh orang terdekatnya. Sukarno jatuh, karena adanya Suharto dengan cara kurang elok. Begitu juga dengan  jatuhnya Suharto, juga dengan cara terpaksa.

Habibi menjadi penganti, juga tidak lama, kasus lepasnya Timur-Timur, nasib Habibi juga harus Ikhlas menerima kenyataan. Sementara itu, Gus Dur sang Kyai, juga dijatuhkan, dan Megawati-pun sebagai pengantinya akhirnya tidak mampu juga meyakinkan rakyatnya, sehingga tidak bisa menjadi Presiden lagi. SBY satu-satunya presiden paling sempurna, baik, sabar, serta mampu menjadi penenggah, bahkan terhadap Jokowi santun, dan ramah pula terhadap Megawati yang kelihatan selalu sewot terhadap SBY. Jika Jokowi bisa bertahan 5 tahun, berarti Jokowi benar-benar sakti. Semoga Jokowi benar-benar sabar, ikhlas di dalam memimpin bangsa Indonesia yang heterogen ini, sehingga bisa sampai 5 tahun, bahkan sepuluh tahun.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x