H.Sabir
H.Sabir

Seorang Graphic Design yang peduli dan cinta akan NKRI yang utuh, setia pada nilai2 tradisional dan menjunjung tinggi falsafah Pancasila dan UUD 1945.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Sisa Tusuk Sate di Pelataran Menteng

10 Agustus 2018   16:19 Diperbarui: 10 Agustus 2018   20:10 225 0 0

Malam itu menjelang isya reriungan rekan-rekanku menjejali layar TV untuk menunggu detik-detik deklarasi pasangan Capres-Cawapres, sejak siang hari berita nasional dan linimasa media social diramaikan teka-teki siapa yang bakal mendampingi Petahana untuk maju dalam Pilpres2019. 

Restaurant elit di salah satu jantung Menteng menjadi tempat berkumpulnya para politisi elit koalisi petahana dalam sebuah meja bak perjamuan suci untuk menentukan detik-detik pengumuman yang ditunggu-tunggu bukan saja oleh simpatisan tetapi juga oleh kubu lawan. 

Tak jauh dari lokasi pertemuan di meja perjamuan itu tepat di seberangnya seorang calon pengantin yang telah dipersunting duduk sambil menunggu dengan cemas. Telpon seluler tak jua lepas dari dering yang selalu beriringan, ada yang diabaikan dan ada pula yang dijawab, yang pasti dering dari seberang jalan akan menjadi dering yang paling ditunggu sang calon pengantin. 

Kemeja putih yang sudah disiapkan sejak beberapa hari yang lalu sudah mulai agak lusuh dan berkeringat. Kemeja yang kadung menjadi trend setter di negeri ini sejak 2014 mutlak dikenakan sore hari itu. 

Saya lebih memilih untuk sesekali focus pada pertandingan semifinal antara Garuda Muda vs Harimau Malaya. Beberapa saat kemudian Gooooolllllll.......akhirnya Gol dramatis yang disarangkan Garuda Muda membuat pecah seisi ruangan, maklum ini adalah penantian panjang Merah Putih untuk berkibar sombong. 

Beberapa detik reriuhan euphoria TimnasDay malam itu kembali tenggelam dalam euphoria para Projo dan simpatisan Jokowi menunggu diumumkannya sang pendamping. Aku terhenyak dengan pemandangan yang tak biasa. 

Beberapa kawan yang aku tahu sangat Projo tidak se euphoria saat ia teriak dengan gol Garuda Muda. "Haaaa...??" Golput..deh.." Sebuah drama di Plataran Menteng akhirnya sampai pada klimaksnya, sang calon pengantin yang sudah entah berapa lama menunggu dari seberang sambil menikmati tusuk demi tusuk sate yang menjadi menu andalan di restaurant itu, mendadak diam, senyap lalu menghilang. 

Situasi dimana mirip kita mengumpulkan kalimat Y-O-S-A-N pada undian berhadiah era 90an telah terkumpul M-A-U- dan berharap pada dua kertas selanjutnya adalah F-D tapi setelah tiga kertas selanjutnya yang kita temukan dan dibuka yang tertera adalah R-F Meskipun akhirnya kita harus pura-pura bahagia seakan tak terjadi apa-apa. Tapi mimik dan raut muka kawan2 projo di sekelilingku sudah cukup untuk mewakili perasaan ribuan simpatisan sang calon pengantin yang gagal di persunting malam itu. 

Tergambar jelas wajah mereka seperti seorang kekasih yang ditinggal kawin tetapi tak bisa lepas dari cinta yang terkadung dipelihara. Pada akhirnya ramai-ramai berspekulasi, ramai-ramai memberikan klarifikasi bahwa itu adalah hal yang sangat-sangat biasa dalam politik kita. 

Tetapi yang jelas batalnya deklarasi para relawan projo di Tugu Proklamasi sedikit bisa memberikan penerangan akan situasi mereka saat itu.

 Taklama kemudian kawan-kawanku kembali tegar dan pura-pura bahagia dengan perselingkuhan politik yang tak terduga. Ya..mereka pura-pura bahagia, karena akan sangat riskan untuk menonjolkan penolakan dan ketidaksukaan terhadap situasi yang terjadi. Bisa-bisa menjadi bahan bulian di jagad maya oleh kubu lawan. 

Ibarat kita diundang mantan pacar untuk hadir memberikan doa restu kepadanya di hari pernikahan. Jika kau tak datang maka orang disekelilingmu akan memberikan cap orang yang gagal move on dari mantan, pada akhirnya kita harus tetap datang meramaikan pesta sang mantan. Harus tegar dan berkata ku beri restu se restu-restunya kepadamu duhai cintaku, semoga langgeng hingga 2024. 

Sate di pesta malam persuntingan itupun terasa hambar, bahkan hampir tertelan tusuknya..