Gaya Hidup Artikel Utama

Maraknya Kuliner (Tidak Khas) Daerah Buatan para Artis

14 Januari 2017   00:49 Diperbarui: 15 Januari 2017   21:51 107402 28 27
Maraknya Kuliner (Tidak Khas) Daerah Buatan para Artis
Sumber gambar: tribunnews.com

Baru-baru ini sedang muncul dan hits di kalangan para selebritas yang mencoba usaha kuliner di beberapa kota. Jenis kuliner yang akhirnya menjamur di kota-kota besar tersebut bukan jenis makanan berat yang bisa disantap saat lapar, atau dinikmati saat lidah memang menginginkannya. Yang dimaksud adalah usaha kuliner oleh-oleh yang katanya khas dan berasal dari beberapa kota besar di Indonesia tersebut. Kota-kota apa saja yang dimaksud? Mereka adalah Medan, Surabaya, Makassar dan Malang. Entahlah jika ada kota-kota lainnya yang menyusul.

Oleh-oleh adalah sebuah sebutan makanan yang khas dari suatu daerah. Makanan jenis oleh-oleh seharusnya telah ada sejak lama, diwariskan secara turun-temurun dan memiliki sejarah mengapa mereka bisa disebut oleh-oleh. Layaknya media yang saat ini perkembangannya dapat disebutkan sebagai ‘media baru’ yang lebih banyak didominasi oleh teknologi smartphone, sepertinya oleh-oleh juga akan mengikuti jejaknya, serba baru. Jika dulu oleh-oleh merupakan makanan khas dan dibuat dari bahan tradisional, sekarang tidak lagi.

Oleh-oleh makanan belakangan ini dirancang sangat menarik, kekinian, dan dijual dengan strategi marketing yang berbeda dari makanan tradisional. Strategi tersebut ternyata mengandalkan kepopuleran para artis untuk mengangkat oleh-oleh baru tersebut dengan mencantumkan nama daerah sebelum nama produknya. Contohnya adalah brand Medan Napoleon, Makassar Baklave, Surabaya Snow Cake, dan lain-lain.

Mengapa harus menambahkan nama kota sebelum nama produk mereka? Apakah ini yang disebut dengan komersialisasi nama daerah? Sebelumnya, oleh-oleh tidak pernah mencantumkan nama kota di awal. Bahkan, sangat jarang ditemui nama oleh-oleh yang menonjolkan brand alih-alih nama makanannya. Ngerti gak? Saya juga gak ngerti haha. Jadi gini loh maksud saya, kenapa harus ada Medan Napoleon, padahal sebelumnya di Medan tidak pernah ada makanan yang bernama Napoleon.

Contoh lain dari pernyataan saya sebelumnya adalah Tahu Sumedang. Dinamai tahu karena memang produknya adalah tahu. Dinamai Sumedang karena memang orang Sumedang yang pertama kali secara khas membuat tahu dengan karakteristik demikian sehingga menjadi booming di daerah lain. Lalu, mengapa harus Makassar Baklave padahal sebelumnya tidak ada oleh-oleh khas Makassar yang namanya Baklave. Oleh-oleh yang ada di Makassar ya Coto Makassar, Konro, Palubasa, atau bahkan Sop Sodara.

Di balik semua penamaan itu, ada ciri khas yang ditampilkan, misalnya konro memang sebuah hidangan yang menyajikan penikmatnya tulang dari sapi. Selain itu penamaan tersebut diberikan sesuai dengan artinya menurut bahasa daerah masing-masing. Saya domisili Makassar. Saya tahu betul kalau oleh-oleh itu punya khas-khas tersendiri walaupun saya tidak tahu artinya apa. Tapi bagaimana dengan Makassar Baklave? Atau jenis oleh-oleh Makassar Bosan?

Uniknya, makanan itu seperti dikonglomerasi oleh para artis. Mengangkat nama baik mereka, mereka langsung menjual ‘gambar’ makanan itu di akun sosmed mereka. Strategi marketing yang sangat menarik, bukan? Apalagi saat ini gambar yang diunggah di sosial media melaju dengan cepat, tersebar tanpa tahu arah, dan booming tanpa tahu jangkauan daerah (padahal bawa nama daerah). Strategi lain yang digunakan adalah dengan memotret jajanan tersebut sedemikian rupa dengan sangat-sangat menarik. Lalu, anak muda pun beranjak memiliki hasrat ingin memanjakan lidahnya, padahal tidak pernah mencoba, bahkan hanya sekadar memanjakan mata.

Masalahnya kemudian, mengapa anak muda cepat sekali terpengaruh dengan kehadiran dari jajanan ini? Apakah karena pengaruh sosial media, mereka menelan ludah saat melihat gambar-gambar jajanan yang menarik itu? Ini adalah sebuah pengaruh dari kemudahan geotagging oleh para user sosmed khususnya Instagram.

Bayangkan jika seorang Irwansyah pemilik Medan Napoleon, memiliki 2000 followers, ia membagikan gambar jajanan Medan Napoleon di akun sosmednya. Lalu satu orang followers bisa ngetag 2-5 orang yang berbeda. Maka marketing berjalan dengan sendirinya dan menyentuh target pasar yang sebaya karena jika anak muda yang melihat gambar tersebut dan berniat membagikannya kepada orang lain. Sudah sangat jelas bahwa mereka akan membagikannya terhadap teman-teman dekatnya. Ga mungkin di-tag ke iuga bapaknya kan? Wkwk.

Eits,gak cuma sampe di situ. Apakah marketing berjalan dengan sendirinya karena the power of ngetag? Oke, balikin nalarnya kepada satu followers nge-tag 2-5 orang yang berbeda. Kalo dia nge-tag temennya, berarti temen yang di-tag itu gak ada di sampingnya, kan? (iyalah, kalo di sampingnya ngapain di-tag). Berarti orang yang di-tag itu berada di wilayah yang berbeda. Bisa jadi di kampus, di mal bersama keluarga, atau lagi di lapangan latihan nari *eh?

Nah, saat mereka menerima tagging yang diberitahukan oleh temannya, si orang yang dibagikan tag tadi ini juga memanjakan mata mereka. Sehingga timbul keinginan memanjakan lidah. Tepatnya, anak muda ga mau rugi kan? Apalagi anak kos, hahha. Mereka akan dengan otomatis berkata ke orang yang ada di dekatnya atau di sekitarnya “Eh, liat deh, ini kayaknya enak banget. Nanti kita beli bareng dong.” Kalimat ini juga merupakan kalimat marketing yang sangat ampuh, yang kemudian membuat orang yang sudah berada di posisi ketiga ini, juga mulai ingin memanjakan mata dan lidahnya. Menarik bukan?

Nah.. sekarang pertanyaan pentingnya adalah... “Mengapa jenis oleh-oleh baru itu memiliki banyak kesamaan? Lalu jika Makassar, Medan, Malang dan Surabaya memiliki produk oleh-oleh baru yang terdiri dari bolu, kulit pia, keju, durian, dll. Lalu bagaimana kita bisa membedakan bahwa makanan itu adalah ciri khas dari kota tertentu?"

Oalah... ternyata yang ngebedain itu cuma di namanya aja. Namanya Medan Napoleon, ya dari Medan. Makassar Baklave, ya dari Makassar lah. Surabaya Snow Cake, ya dari Surabaya lah. Tapi, bisakah kita merelakan sebuah kota dikomersialisasikan seperti itu? Coba sandingkan semua kue itu tanpa brand-nya. Jejerkan. Bisakah kamu menemukan perbedaan kue yang katanya khas dari Medan, Makassar, Surabaya, Malang itu?

Jika kamu orang yang cerdas, maka jawabannya sebaiknya tidak terpengaruh dengan hal-hal itu. Jangan sampe, kue-kue baru yang jenisnya akan sama di seluruh penjuru Indonesia itu menghilangkan kue-kue tradisional yang memiliki kekhasan sesuai dari daerahnya masing-masing. Budayakan oleh-oleh kota kamu yang memang memiliki sejarah di baliknya. Bukan mengandalkan kepopuleran sebagai kunci dari marketingnya.

Jika kamu ditanyai...

“Apa oleh-oleh khas kota kamu?”

Jangan dijawab dengan kalimat, “Yang khas itu Napolion karena itu punya artis. Baklave karena itu punya artis.”

Tapi, kami masih berharap kamu bisa menjawab dengan, “Yang khas dari Makassar itu pallubasa karena dalam Bahasa Makassar, pallubasa artinya...” Atau kamu bisa juga menjawab, “Yang khas dari Makassar itu Sop Sodara, karena dari dulu orang Makassar dalam kisah diceritakan sebagai orang-orang yang dermawan dan selalu mengajak saudaranya makan sop.” Hehehe.

Bukankan kalimat-kalimat khas itu lebih menarik jika diungkapkan dari pada mengandalkan keartisan? Kalau kamu setuju, berarti kamu siap melestarikan kekhasan kita.