Mohon tunggu...
Ghina Rahmatika
Ghina Rahmatika Mohon Tunggu... Mom Blogger

Mom Blogger, Minimalist and self development enthusiast, a Moslemah

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Pagi, Ibu, dan Paket Kebahagiaan

29 Desember 2020   12:06 Diperbarui: 29 Desember 2020   12:33 63 1 0 Mohon Tunggu...

Memulai pagi, lalu membuka pesan whatsapp, yang sangat membahagiakan buat saya adalah bisa membalas pesan Ibu. Jarak yang jauh tak membuat saya lepas dari ajakan Ibu untuk bangun di sepertiga malam. 

Di Hari Ibu kemarin, saya dan kakak-kakak saya secara serempak mengucapkan selamat hari Ibu untuk beliau. Ditengah ucapan selamat tersebut, Ibu tetiba membalas dengan uraian air mata. 

Terimakasih anak-anakku semuanya. Maaf dulu Mi tidak bisa memberikan apa yang kalian berikan pada anak-anak sekarang, dari makanan, pakaian, tempat karena keterbatasan ekonomi. Semoga anak-anak keturunanku diberi keberkahan, rumah tangga sakinah mawaddah warohmah, jadi anak-anak sholeh sholehah. Tanpa terasa airmata bercucuran. Do'akan Abah Mimih sehat  panjang umur ya.

dokpri
dokpri
Saya terpaku membaca pesan Ibu. Kehidupan masa kecil saya memang lebih baik daripada masa keenam kakak saya. Namun perjalanan masa kecil itu telah memberikan pelajaran hidup untuk lebih prihatin.  Masa kecil kami memang tidak bergelimang harta dan mainan banyak, namun penuh dengan pelajaran berharga dan kebersamaan.

Hingga kini meski anak-anaknya sudah merantau ke berbagai daerah di Indonesia, Ibu masih dengan rajin membangunkan kami. Membangunkan kami di sepertia malam melalui grup whatsapp keluarga.  Setiap hari, rata-rata sekitar pukul 02.30 pagi, beliau tak pernah absen mengirim pesan untuk membangunkan kami sholat malam. 

'Qiyamullail,' begitu pesan beliau.

Membayangkan Ibu saya terbangun di pagi hari, sekitar pukul 2.30. Mungkin saat itu yang pertama kali tercetus dalam benak beliau sebelum melakukan apapun adalah membangunkan anak-anaknya terlebih dahulu. 

Gawai langsung direngkuh, tulisan pesan singkat 'qiyamullail' langsung dikirim ke grup keluarga, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat malam.

Ibu tentu berharap akan ada balasan pesan yang masuk, untuk sekadar menjawab 'iya, Bu' dan sejenisnya. Namun nyatanya, kami, ketujuh anaknya dan ketujuh menantunya, jarang sekali serentak membalas pesan beliau. Hanya ada satu dua saja. 

Kami masih tertidur lelap, sementara beliau sudah merapal doa untuk kami. 

Pagi dan Ibu memang takkan terpisahkan. Untuk membahagiakannya, bakti kami anak-anak tentu harus terus ada meski jarak membentang jauh dan temu tak juga menemui titiknya. Pasti ada jalan untuk membahagiakannya, sesederhana berdoa, membalas pesannya, atau mungkin mengirim paket kebutuhan ataupun kesukaannya. 

Kebahagiaan seorang Ibu dan Anak saat Berjarak

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x