Mohon tunggu...
enha saja
enha saja Mohon Tunggu... -

BIASA JUGA DISAPA DENGAN USTADZ ENHA, SELAIN SEBAGAI MOTIVATOR KELUARGA BELIAU JUGASEORANG PRAKTISI PENDIDIKAN DALAM BIDANG MOTIVASI DAN SPIRITUAL DENGAN SPESIFIKASI KEAHLIAN PENDAMPINGAN KELUARGA DAN PARENTING

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Takbiran di Inggris Raya

17 Juli 2015   11:58 Diperbarui: 17 Juli 2015   12:19 322
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Saya rasa, takbiran benar-benar khas Islam Nusantara. Malam ini, Aku menyusuri pusat kota London, sempatkan diri tuk singgah di beberapa Masjid dan Pusat Keislaman. Beberapa keramaian memang tampak, meski lebih banyak masjid yang hening. Nyaris, tak ada gema takbir, apalagi bedug dipukul bertalu. Satu-satunya sumber suara takbir yang terdengar di telingaku, hanyalah suaraku sendiri...

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ ilâha illallâhu walllâhu Akbar, Allâhu Akbar wa lillâhil Hamd...

Biar saja, semua orang punya cara mengekspresikan malam kemenangan ini, meski tak ramai, bukan berarti mereka tak menyambut Fajar kerahmatan yang Allah turunkan pada Idul Fitri yang dirindukan.

Biarkan pula, mereka yang gempita menyuarakan takbir dengan semangat di Nusantara Raya, jangan salahkan, jangan bid'ahkan, jangan sesatkan, itu ekspresi menyambut fajar keberkahan, bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk semesta alam, di mana kita tinggal bersama.

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ ilâha illallâhu walllâhu Akbar, Allâhu Akbar wa lillâhil Hamd...

Takbir adalah pengagungan kekuasan Allah, Takbiran itu salah satu metode yang menjadi budaya rutin setiap malam lebaran tiba. Substansinya bukan pada pukulan bedug atau suara yang meraung melalui speaker Masjid. Makna esoteriknya adalah penghambaan secara total kepada Allah Yang Maha Besar, sehingga kebesaran-Nya itu diyakini telah menghapus dosa dan kesalahan setiap hamba-Nya yang telah selesai menjalani ritual puasa sebulan lamanya.

Sementara Takbiran meskipun hanya sebuah metode ia merupakan spirit kegembiraan yang sejatinya harus selalu dihadirkan. Hidup ini sudah sumpek dengan ragam ujian dan tekanan, kita butuh kegembiraan, butuh senyuman tulus yang menyenangkan, maka sudah seharusnya kita mengikis rasa benci yang tak berkesudahan lalu menggantinya dengan spirit persaudaraan, saling asah, saling asih, saling asih, bersama menebarkan salam kedamaian.

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ ilâha illallâhu walllâhu Akbar, Allâhu Akbar wa lillâhil Hamd...

Biarlah aksara berkaca pada renung hening nurani
Biarkan jua pucuk pucuk rindu melayang, terhembus sepoi malam
Dan biarkan jua kaki kaki runcing malam mengoyak keping keping rindu yg tiada pernah berujung
Hingga binasa dan sirna terbawa masa yg tiada pernah berhenti berputar
Dan aku tak lagi gelisah diantara tumpukan rindu yg kerap merejam nurani

Rindu di malam nan suci, menguak sebaris sesal di ujung relungan kalbu
Atas noktah kelam yg tergurat, atas keakuan dan khilaf yg terjalani
Di atas segalanya atas luka demi luka yg telah kuarsir di atas beningnya hatimu

Di sini, meski kelopak mata masih terbasahi air bening
Aku menyeka gundah yang berebut memasuki hati
Aku menikmati gemuruh takbir personal yang kusenandungkan dengan parah
Di sini, di altar hati yang sepi
Sementara sapamu entah pergi kemana
Aku bahagia menjalani dua kondisi ini; menangis dan tertawa....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun