Mohon tunggu...
M.Dahlan Abubakar
M.Dahlan Abubakar Mohon Tunggu... Purnabakti Dosen Universitas Hasanuddin
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Dosen Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Ramang, Didikan Anak "Paraga"

4 April 2021   20:47 Diperbarui: 4 April 2021   21:06 104 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ramang, Didikan Anak "Paraga"
Ramang dan istrinya Sarinah di usia tua. / dokpri

Bakat Ramang bermain bola, konon turun dari Nyo'lo, ayahnya. Tidak banyak informasi mengenang ayah Ramang ini. Dalam banyak tulisan yang saya kutip, ada yang menyebut Nyo'lo merupakan ajudan Raja Gowa, Djondjo Karaengta Lembangparang. Hasil penelusuran saya dari berbagai kepustakaan, tidak ada nama Djondjo Karaengta Lembangparang yang Raja Gowa, kecuali memiliki keturunan Karaeng Lembangparang.

Rauf, putra kedua Ramang, mengatakan, ada saudara ayahnya yang juga bekerja di bawah kekuasaan Djondjo, tetapi dia tidak tahu namanya. Yang dia ingat, pamannya bertindak sebagai hulubalang raja. 

Kalau raja mau ke mana-mana, pamannya itulah yang berada di depan. Dia berperan sebagai pembuka jalan. Sekaligus memberitahu setiap orang bahwa raja akan melintasi suatu jalan. Kalau istilah zaman sekarang mungkin sama dengan "voorijders". Tetapi dulu belum ada kendaraan pengawal khusus seperti sekarang.

Memang ada beberapa nama keturunan Lembangparang di lingkup Kerajaan Gowa. Zainuddin Tika dkk. dalam bukunya berjudul "Profil Raja-Raja Gowa" yang diterbitkan Pustaka Refleksi 2007 menyebutkan, Raja Gowa XXXI bernama I Mappatunru Karaeng Lembangparang berkuasa antara tahun 1816-1825 dan wafat pada pada tahun terakhir kekuasaannya. Dia kemudian digantikan oleh putranya bernama La Oddanriu Karaeng Katangka.

Raja berikutnya (XXXII) I Kumala Karaeng Lembangparang Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid bergelar "Tumenanga ri Kekuasanna" yang dilantik menjadi raja pada tahun 1844 dan wafat 30 Januari 1893. 

Raja Gowa XXXIV yang menggunakan sapaan Lembangparang adalah I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang bergelar "Sultan Huzain Tumenanga ri Bundu'na". Ia wafat Desember 1906 dalam suatu serangan yang dilakukan Belanda di Sidenreng. Dia sebenarnya lolos dari serangan itu, tetapi dalam pelariannya terperosok masuk jurang yang dalam hingga menemui ajalnya. Jenazahnya berhasil ditemukan Belanda beberapa hari kemudian.

Nama Djondjo Karaeng Lembangparang saya temukan di dalam buku Mayjen TNI (Purn.) Andi Mattalatta berjudul "Meniti Siri dan Harga Diri. Catatan dan Kenangan" yang diterbitkan Khasanah Manusia Indonesia Jakarta pada tahun 2003. 

Di dalam buku tersebut disebutkan, Djondjo Karaeng Lembangparang adalah Raja Barru XVIII dari Mahmud Karaeng Beroanging Tomarilaleng Kerajaan Tallo, Bataritojang Raja Barru XVI. Raja ini sebenarnya masih memiliki hubungan dekat dengan Raja Gowa XXXIII, I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka. Sebab Bataritojang tidak lain adalah putri dari Raja Gowa XXXIII tersebut yang kemudian diangkat sebagai Raja Barru XVI. 

Sembari menjadi ajudan Raja Barru XVIII tersebut, Nyo'lo, mengembangkan kepiawaiannya bermain raga, suatu cabang olahraga tradisional yang memang lahir dari Jazirah Sulawesi Selatan. Permainan ini menggunakan bola dari rotan yang digulung dan berbentuk bulat. Permainan ini sebenarnya memperlihatkan keterampilan mempermainkan bola selama mungkin tetap dihentakkan ke udara tanpa jatuh ke tanah. Semakin lama bola melayang, kian terampillah sang pemainnya.

Satu kehebatan Nyo'lo yang diingat orang adalah sebagai jagoan sepak raga atau "paraga". Mungkin itulah yang ditiru oleh anak bungsunya, Ramang. Nyo'lo sendiri memiliki tiga anak, seorang perempuan dan dua laki-laki. Ramang-lah yang mewarisi kehebatan ayahnya. Bukan bermain raga, melainkan sepakbola. (Bersambung) 

VIDEO PILIHAN