Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis

Blogger, Penulis , Traveller

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Artikel Utama

Batik Peranakan Tionghoa dalam Kebhinekaan Indonesia

19 November 2018   16:11 Diperbarui: 20 November 2018   17:03 0 6 4 Mohon Tunggu...
Batik Peranakan Tionghoa dalam Kebhinekaan Indonesia
Dokumentasi Pribadi

Di terik siang yang sangat menyengat itu, saya datang ke Bentara Budaya untuk menghadiri pameran batik peranakan dan tak show tentang perjalanan etnis Tionghoa dalam kancah budaya Indonesia. Acara ini diprakasai oleh Komunitas Lintas Budaya Indonesia.

Beruntung saya datang lebih awal dari jadwal talk show.   Begitu masuk ke suatu ruangan joglo, saya terkesima dengan banyaknya batik-batik berupa kain yang digelar dengan pesonanya.  

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Batik itu berasal dari Tasikmalaya, Cirebon, Pekalongan, Tegal, Kudus, Indramayu, Lasem, Sidoarjo, Kedung Wuni. Semua  kain batik yang digelar dengan sangat indahnya itu adalah hasil koleksi para pecinta batik yang notabene kebanyakan dari orang-orang peranakan. 

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Tak bergeming melihat motif yang ditonjolkan di tiap kain batik itu selalu berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya.  Ada benang merah di sini bahwa peranakan cina yang sudah melanglang buana dari negara asalnya itu punya keahilian dalam membatik juga.

Batik Pekalongan Dokumen pribadi
Batik Pekalongan Dokumen pribadi
Hampir satu jam saya menikmati batik kuno yang punya motif dan corak yang sangat unik. Corak unik hampir berbeda satu sama lainnnya antar daerah. Walaupun dari pembatik yang berbudaya berasal dari Tionghoa. Bagaimana hal ini bisa terjadi.

ina-5bf3dbaec112fe3b9c7cf433.jpg
ina-5bf3dbaec112fe3b9c7cf433.jpg
Jawabannya yang sangat jelas saya dapatkan melalui pemaran yang disampaikan oleh Dr. Yudi Latif,  Prof Ariel Haryanto , PhD, Didi Kwartanada.   Pemaparan dari para pakar ini singkat dan padat. Namun cukup membuka wawasan saya perjalanan sebuah budaya melalui batik sampai ke Indonesia.

Kenapa bisa terjadi bermacam-macam motif batik di beberapa daerah?

Sebuah pemaparan dari Dr. Yudi Latif yang melihat bahwa budaya Cina atau Tionghoa itu jangan dianggap hanya satu budaya saja. Justru setiap budaya itu  memiliki keunggulan dan kelebihan. Masing-masing didorong untuk berinterakasi, bahkan ada yang mengkombinasikan budayanya dengan budaya setempat.

Istilah yang sangat populer disebut dengan "Akulturasi", yaitu  suatu perpaduaan dua budaya menjadi satu, timbullah budaya baru. Masing-masing budaya itu saling mempengaruhi dan berinteraksi dan berpadu tanpa meninggalkan budaya lamanya.   

Akulturasi adalah wajah Indonesia yang ada saat ini. Hal ini dapat dilihat dari warna warni peran Tionghoa dalam perjalanan budaya batiknya.

Pada suatu titik harmoni terlihatlah pusat persilangan antar budaya di antara bangsa yang terlibat dalam kawasan Mediterania. Ada berbagai elemen dalam kawasan Mediterania seperti  Indonesiasi, Arab, Barat dan Chinese.

Suatu harmonisasi yang terjadi ketika persilangan budaya itu terjadi. Mereka saling memberi, menerima. Ternyata hanya satu nebula yang tidak bisa dirubah yaitu orang Chinese. Mereka ini berlapis-lapis. Disebut berlapis karena ada beberapa ras yang meliputinya seperti ras mongoloid, ras papua, polynesia  Ini terjadi karena proses imigran yang berbeda.

Melayu Polynesia datang bergelombang, bersamaan juga dengan orang Chinese ke Indonesia. Khususnya untuk orang Chinese mereka hanya lelaki saja yang datang ke Indonesia.  Mereka menikah dengan Melayu .  

Dari hasil pernikahan campur itu sudah dapat dipastikan bahwa terjadi ras baru. Kesimpulannya tidak ada lagi orang Melayu asli atau orang Chinese asli. Mereka berbaur memiliki DNA yang juga punya darah berbagai macam ras.

Tantangan kedepannya adalah jangan menganggap sebagai seseorang dari satu suku bangsa merasa superior dari yang lainnya. Semuanya sudah jadi terintegral , tidak ada diskriminasi untuk membedakan satu suku dengan yang lainnya. 

Diperlukan proses afirmasi untuk terus menghilangkan marginalisasi. Bagi kaum Tionghoa pun demikian juga mereka harus membaurkan diri untuk mengakui bahwa mereka bukan suku yang superior dalam ekonomi karena sebenarnya sudah ada proses perjumpaan yang ada antara beberapa suku dalam satu wadah. Bukan lagi minoritas atau mayoritas, tetapi konektivitas dan perjumpaang itu jadi penting adanya.

Dari Prof Ariel Haryanto , beliau sangat jelas mengatakan bahwa tema "Identity & Pleasure" dimaknai sebagai kaitan nasionalisme. Memiliki identitas suatu suku bukan berarti untuk melakukan diskriminasi atau reaksi terhadap diskriminasi. Tetapi justru sebaliknya bahwa identitas itu menjadi titik balik untuk mencari keseimbangan.

Contohnya tidak lagi memperdebatkan soal etnis siapa yang berhak untuk melakukan hak politik tertentu, tetapi lihatlah payung besarnya yaitu apa masalah di negera ini dan bagaimana mengatasinya. Bukan mempermasalahkan hal-hal fisik dan identitas yang sudah usang.

Cara pandang mengenai kebangsaan harus dibenahi:

Pandangannya harus secara alamiah. Konteks waktu yang jadi patokannya, apa yang akan dibuat untuk 200 tahun ke depan. Sesuatu baru bukan yang lama diungkit-ungkit kembali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2