Mohon tunggu...
Eki Tirtana Zamzani
Eki Tirtana Zamzani Mohon Tunggu... Pendidik yang mengisi waktu luang dengan menulis

Guru yang mengajar di kelas diperhatikan oleh 25-30 siswa, apabila ditambahi dengan aktivitas menulis maka akan lebih banyak yang memperhatikan tulisan-tulisannya. ekitirtanazamzani.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Banyak Cara Menjemput Malam "Lailatul Qadar"

26 Mei 2019   07:46 Diperbarui: 26 Mei 2019   07:55 0 1 1 Mohon Tunggu...
Banyak Cara Menjemput Malam "Lailatul Qadar"
Malam Lailatul Qadar - Republika.co.id

Semua manusia yang hidup di dunia tidak terlepas dari kesalahan dan dosa. Ramadhan menjadi bulan untuk melatih diri menjadi lebih baik. Ibadah berpuasa yakni suatu ibadah meninggalkan makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Jika kita lulus mengekang hawa nafsu selama berpuasa maka kita akan menjadi pemenang saat hari raya Idul Fitri telah tiba. Ada suatu malam di bulan Ramadhan yang lebih baik dari seribu malam yakni malam lailatul qadar

Setiap umat muslim berlomba-lomba untuk bisa berjumpa dengan malam lailatul qadar. Karena jika kita beribadah di malam itu nilai pahalanya akan setara dengan melakukan ibadah selama seribu malam.

Ternyata ada banyak cara untuk bisa menjemputnya. Tidak hanya melakukan ibadah yang bersifat keagamaan saja. Jika kita melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik dan diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka hal ini bisa menjadi jalan kepada kita untuk bisa menjemput malam lailatul qadar yang istimewa.

Tiga Jenis Nafsu di dalam Kitab Suci Al-Quran

Menurut Imam Ghazali, sesuatu yang paling besar pada diri kita adalah nafsu. Jika kita bisa mengekang nafsu maka kita akan menjadi pribadi yang lebih baik. Berikut ini jenis-jenis nafsu di dalam kitab suci Al-Quran:

Pertama, nafsu muthmainnah. Itulah jiwa yang tenang karena iman, amal soleh, dan ketaatan kepada Rabnya. (Q.S ar_Ra'du: 28 dan QS. Al-Fajr: 27-28)

Kedua, nafsu lawwamah,  nafsu ini sering mencela orangnya disebabkan ia telah melakukan kesalahan, baik dosa besar, dosa kecil, atau meninggalkan perintah, baik yang sifatnya wajib atau anjuran. (QS. Al-Qiyamah: 2)

Ketiga, nafsu ammarah bis su'u. Suatu nafsu yang selalu mengajak pemiliknya untuk berbuat dosa, melakukan yang haram dan memotivasi pemiliknya untuk melakukan perbuatan hina. (QS. Yusuf: 53). (konsultasisyariah.com/ diakses pada hari Minggu, 26-05-2019)

Puasa yang baik menurut saya adalah puasa yang tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya. Berpuasa akan tidak terasa jika kita beraktivitas. Kebiasaan saya setelah sahur biasanya tidur. 

Kemudian bangun pada pukul 05.00 WIB untuk melaksanakan ibadah shalat subuh. Setelah itu menjalankan aktivitas normal seperti biasanya, seperti : mandi, menyiapkan buku, dan berangkat ke sekolah. Sebagai pendidik saya mengisi kegiatan sekolah selama bulan Ramadhan.

Nafsu yang paling baik menurut kitab suci Al-Qur'an adalah nafsu muthmainnah.  Semoga nafsu saya bisa setingkat dengan nafsu muthmainnah dan selalu istiqomah. Sementara nafsu kedua dan ketiga yang merupakan nafsu kejelekan. Saya tidak boleh menceritakan. Karena suatu kesalahan (aib) tidak baik untuk diceritakan. Suatu perbuatan buruk akan bernilai dosa jika dilakukan. 

Namun jika sebatas niat dan tidak dilakukan. Hal itu tidak akan bernilai dosa. Tentu berbeda dengan perbuatan baik. Niat berbuat baik saja sudah dicatat oleh Malaikat sebagai suatu pahala meskiput niat baik itu belum dikerjakan oleh manusia. Hal ini sesuai dengan referensi dari buku agama atau ceramah dari ustadz yang pernah saya dengar. 

Saya ingin memiliki nafsu muthmainnah. Saat saya bisa melakukan aktivitas kegiatan di sekolah yang bermanfaat dan menjauhi segala sesuatu yang mengurangi nilai ibadah puasa. 

Selain berbagi pengetahuan kepada anak-anak tentang ibadah puasa. Saya juga mendapatkan tambahan ilmu agama dari teman-teman sesama guru. Anak-anak suka dengan cerita. Saya bercerita kepada mereka tentang makan dan minum yang diperbolehkan selama puasa jika dalam keadaan lupa.

"Misalkan Wahyu, ketika pulang sekolah dia sangat lapar dan haus. Ketika itu tidak ada ayah dan ibu di rumah. Wahyu lalu mengambil makanan kemudian meminum minuman dengan sengaja. Hal ini tentu akan membatalkan ibadah puasa. Orang tua wahyu beranggapan kalau Wahyu tetap berpuasa. Tetapi dia telah membatalkan puasa dengan sengaja makan dan minum. Ibadah puasa itu adalah suatu ibadah yang hanya diketahui oleh Allah SWT dan orang yang menjalankannya". Tutur saya kepada anak-anak

"Kedua, semisal Rasya. Jarak antara sekolah dan rumah jauh. Dia bersekolah dengan mengayuh sepeda. Saat perjalanan dengan sengatan cahaya matahari yang sangat terik. Sehingga keringat bercucuran keluar dari tubuhnya. Sesampainya di rumah dia begitu kehausan. Dia langsung meminum seteguk air putih untuk menghilangkan rasa dahaganya. 

Setelah menghabiskan segelas air minum. Dia baru ingat kalau sedang berpuasa. Maka puasa yang dilakukan Rasya tetap bisa dilaksanakan sampai waktu berbuka tiba. Alasannya karena saat minum tadi dia lupa kalau sedang berpuasa." Tutur saya.

Puasa bagi anak-anak adalah untuk belajar menjalankan kewajiban beribadah umat Islam yang sesungguhnya. Meskipun mereka belum baligh. Puasa yang telah dilakukan sebagai tempat untuk belajar atau berlatih diri. Sehingga saat mereka sudah baligh dan puasa wajib dilkasanakan. Maka menjalankan ibadah puasa tidak terasa berat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3