Mohon tunggu...
Hanif Sofyan
Hanif Sofyan Mohon Tunggu... Freelancer - penyuka kopi rumahan

Buku, De Atjehers series 1-2: Dari Serambi Mekkah Ke Serambi Kopi;

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

A Thousand Miles Away #10 Dremolem-UFO Di Langit Agustus

27 November 2021   15:44 Diperbarui: 8 Desember 2021   12:07 68 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

lampung.tribunews.com

jogja-co-ombak-banyu-dilarang-61a23a7a06310e3a9c6a6ab2.jpg
jogja-co-ombak-banyu-dilarang-61a23a7a06310e3a9c6a6ab2.jpg
jogya.com-IDN Times

Entah aku yang salah mengeja atau memang ada nama dan maksud yang berbeda. Kami anak-anak kadang-kadang punya cara sendiri dalam mengeja kata. Jungle Jim misalnya kami sebut dengan junglejim tanpa jeda dan dibaca letterluks persis seperti bentuknya, what you see is what you get.

"Dremolem", adalah cara kami menyebut komidi putar. Wahana bulat berdiameter tak lebih besar dari 5 meter, dengan deretan kursi disekelilingnya yang sandarannya sekaligus dijadikan pagar pembatas agar tak terlempar dan jatuh. Penumpang atau siapapun yang naik wahana bertanggung jawab pada dirinya masing-masing, tak di ikat dengan tali pengaman. Memang tingginya tak terlalu jauh dari tanah, walaupun begitu pasti akan terasa sakit jika jatuh pada saat komidi berputar kencang apalagi ketika mencapai ketinggian puncak sekitar  4 meter dari tanah.

Ketika memutuskan naik kita harus siap dan berani, karena tak ada peringatan yang menyebutkan yang sakit jantung dilarang naik, kecuali disampaikan lewat pengeras suara, kadang-kadang terdengar kadang-kadang tidak. Kalau setelah naik masih takut juga, satu-satunya jalan adalah berteriak sekeras-kerasnya supaya jantung kita merasa ringan, paling tidak 25 % ketakutan bakal hilang. Tapi jangan pejamkan mata karena bisa pitam. Meskipun begitu orang-orang banyak yang penasaran dan mencoba dan mencoba lagi, tidak jera.

saat yang paling menakutkan dari dremolem , bukan jatuhnya, tapi justru sensasi saat melayang tinggi dan tiba-tiba menurun, seperti dihempas, meluncur yang membuat, bukan cuma badan kita terasa merosot, tapi jantung kita yang tersedot persis seperti jatuh dari ketinggian. Sensasinya seperti kita naik Kora-Kora, ketika menukik dan terhempas. Padahal nama lain permainan ini sebenarnya Ombak Banyu, karena bergerak layaknya gelombang laut.

Dreamolem tidak selalu ada, mungkin dalam setahun hanya sekali ketika tujuh belas Agustusan, atau ketika ada acara hiburan tutup akhir tahun. Karena kebetulan tempat yang paling strategis di stamplat colt depan rumah, jadilah dreamolem hiburan gratis. Pada hari ketika malam puncak itu tiba, diantara pameran-pemeran yang juga dilakukan, orang berjejal berebutan untuk bisa naik dremolem itu. 

Seingatku memang tak ada jenis hiburan lain selain itu, jika ada pilihan lain cuma ada bioskop "misbar" alias "gerimis bubar". Karena layar dipancang di tiang besar di tengah lapangan dan setiap orang bisa menonton dari segala penjuru, bahkan dari bagian belakang meskipun membaca teks filmnya terbalik. Satu-satunya halangan yang bisa membatalkannya cuma hujan. Film bisa saja tetap diputar karena diputar dari dalam mobil tapi penonton tak mungkin menikmati film dilapangan terbuka di hari hujan dengan tanah becek, apalagi jika disertai petir dan kilat serta guntur yang menggelegar.

Tapi kapanpun dremolem di gelar selalu menjadi kenangan bagi banyak orang, apalagi bagi mereka yang tinggal di kampung pinggiran, termasuk anak-anak seperti kami, karena selain kami bisa menonton dengan puas, kami bisa berlama-lama bermain-main di malam hari hingga telat tidur, tanpa dimarahi karena acara ini tak setiap tahun ada. Meskipun aku bisa menonton dari depan rumah karena layar itu besar dan menghadap persis ke rumah dan hanya dipisahkan oleh jalan besar selebar 7 meter, tapi menonton dari dekat tetaplah lebih seru, karena ada alasan pulang telat, apalagi menonton sambil jajan kacang rebus yang ramai dijual.
 
Begitulah dremolem menjadi "dream of land" kami, meskipun hanya untuk 7 hari dalam setahun.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan