Mohon tunggu...
Wuri Handoko
Wuri Handoko Mohon Tunggu... Penikmat Kopi dan Belajar Menulis

Arkeolog, Peneliti, Penikmat Kopi, Pecandu Senja, Pencinta Telaga, Belajar Menulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Pendidikan Arkeologi, Merangkai Harmoni

12 September 2020   13:41 Diperbarui: 18 September 2020   16:01 199 18 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendidikan Arkeologi, Merangkai Harmoni
Sekolah lapangan arkeologi, sebelum pandemi. Sumber: Balar Sulut

Saya membayangkan suatu saat arkeologi menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah, dari SD hingga SLTA. Meskipun di setiap sekolah diajarkan pendidikan sejarah nasional. 

Demikian, pernah suatu ketika saya katakan di depan beberapa orang perwakilan guru dan siswa-siswa, dalam suatu kegiatan Sosialisasi Arkeologi sebelum pandemi ini. 

Saya katakan begitu, karena tampaknya materi pendidikan sejarah yang ada, belum mewakili pendidikan sejarah yang sifatnya lebih khusus, misalnya sejarah lokal yang bisa lebih memberikan bobot materi tentang perjalanan sejarah di setiap daerah dimana anak didik belajar. Anak-anak di Maluku, misalnya lebih banyak belajar entang sejarah klasik tentang Majapahit. Sepertinya itu tidak pas. 

Diperlukan muatan yang lebih banyak misalnya tentang Kerajaan Ternate, Tidore, Hitu, Hoamoal dan sebagainya yang menggambarkan perjalanan sejarah tentang lokalitas Maluku. 

Sementara sejarah nasional tentang Majapahit, Sriwijaya, Demak, porsinya mungkin sebagai materi tambahan. Jadi muatan pendidikan, perlu menyesuaikan kondisi lokalitas daerah. Itulah pentingnya pengembangan pendidikan muatan lokal (Mulok). 

Siswa atau anak didik, tentu perlu banyak informasi tentang sejarah mainstream yang seringkali atau banyak mendominasi konten atau materi sejarah nasional. Anak didik di Kalimantan, misalnya dijejali dengan pengetahuan sejarah tentang Kerajaan Sriwijaya, tetapi tidak paham tentang Kerajaan Banjar yang tumbuh berkembang di Kalimantan Selatan pada masa lampau. Itu salah satu contoh saja, bahwa pendidikan tidak bijak rasanya jika diseragamkan. Karena tidak ada informasi tunggal dalam pendidikan, diperlukan selalu adanya pembanding. 

Pendidikan Arkeologi, Penguatan Muatan Lokal

Salah satu contoh materi sederhana utk tingkat SD. Sumber: Balar Sulut
Salah satu contoh materi sederhana utk tingkat SD. Sumber: Balar Sulut
Sumber: Perpustakaan Kemdikbud
Sumber: Perpustakaan Kemdikbud
Bagaimana dengan arkeologi? Arkeologi juga demikian, perlu diperkenalkan potensi sumberdaya arkeologi di setiap daerah kepada anak didik. Semua siswa di seluruh Indonesia, boleh saja mengenal Candi Borobudur. Tapi jangan lupa diperkenalkan potensi arkeologi di daerahnya, dimana anak didik belajar. 

Di Ambon misalnya, semua mengetahui tentang Candi Borobudur, tapi tidak paham tentang seluk beluk Benteng New Amsterdam yang berdiri di tengah Kota Ambon, yang hingga kini masih menjadi markas Kodam Pattimura. Juga misalnya tentang peninggalan Kerajaan Hitu di abad 16-17M.  Tentu kondisi ini ironis rasanya.

Di Palu Sulawesi Tengah, semua anak didik siswa diajarkan tentang sejarah nasional tentang Kerajaan Majapahit, tapi mereka tidak mengenal tentang Peninggalan Megalitik di Kawasan Lore Lindu, bagaimana bentuk tinggalannya, budaya apa yang berkembang dan kapan peradaban itu ada. 

Masih banyak contoh lain kalau disebutkan satu per satu. Artinya, saya ingin katakan, bahwa kurikulum pendidikan nasional kita materi atau kontennya masih seragam, apalagi tentang materi pendidikan sejarah. Padahal kondisi daerah semuanya berbeda-beda.

Setiap daerah di nusantara ini punya keunikan, kekhasannya sendiri-sendiri. Tentu saja ini perlu diajarkan dan diketahui oleh setiap generasi anak didik, agar mereka tidak terasing dengan kebudayaannya sendiri. 

Oleh karena itu pendidikan sejarah dan arkeologi di level lokal, perlu pembobotan atau pengayaan untuk memperkenalkan sejarah budaya masyarakat di setiap daerah. Setiap daerah punya kekayaan sejarah dan budayanya masing-masing, yang unik, yang khas. Kekayaan sejarah budaya yang khas itu, meninggalkan banyak informasi tentang sejarah masa lampau, baik merupa tradisi, pengetahuan lokal, maupun warisan budaya, baik warisan budaya yang berwujud benda (tangible, arkeologi) maupun warisan budaya berwujud tak benda (intangible, budaya hidup, tradisi, dan sebagainya). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN