Mohon tunggu...
WS Thok
WS Thok Mohon Tunggu... Wiraswasta

Lahir di Jawa-Timur, besar di Jawa-Tengah, kuliah di DI Yogyakarta, berkeluarga dan tinggal di Jawa-Barat, pernah bekerja di DKI Jakarta. Tak cuma 'nguplek' di Jawa saja, bersama Kompasiana ingin lebih melihat Dunia.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [4]

9 April 2011   09:05 Diperbarui: 26 Juni 2015   06:58 12908 3 18 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [4]
13023388231374794782

Tulisan sebelumnya:

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [1]

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [2]

Tokoh-tokoh Wayang dengan Kelainan Fisiknya [3]

17.Patih Sengkuni, bertubuh cacat

Nasib Patih Sengkuni sama dengan Begawan Drona, yaitu menjadi bulan-bulanan Gandamana. Pada mulanya Gandamana menjadi patih di Astina. Pandudewanata memerintahkan Gandamana menyerang negeri Pringgodani untuk perluasan kerajaan. Rupanya Gandamana terjebak di suatu lubang yang dalam. Sengkuni bukannya menolong, melainkan malah meninggalkan begitu saja dan melaporkan bahwa Gandamana tidak mampu memimpin pasukan, sehingga kocar-kacir dan telah tewas.

[caption id="attachment_101094" align="aligncenter" width="300" caption="Patih Sengkuni - [2"][/caption]

Pandu mempercayai laporan itu dan mengangkat Sengkuni menjadi patih Astina. Selang beberapa waktu kemudian, Gandamana muncul dan langsung menyeret Sengkuni ke luar dan menghajar habis-habisan hingga tubuhnya cacat.

18.Buta Cakil, berdagu panjang

Buto Cakil adalah raksasa yang mudah dikenali dari fisiknya, yaitu dagunya yang panjang dengan giginya yang mencuat ke atas. Bersama dengan rekan-rekannya, Buta Rambut Geni, Buta Terong dan Bragalba menjadi kwartet Buta Prepat yang sekali kemunculannya muncul langsung mati. Kehadirannya sekedar meramaikan suasana, karena memang tidak masuk dalam cerita pakem-nya. Dengan kerisnya (satu-satunya raksasa yang pakai keris), Buto Cakil berkelahi dengan tokoh ksatria bambangan (misal Arjuna) dalam perang kembang, untuk selanjutnya mati tertikam kerisnya sendiri.

[caption id="attachment_101095" align="aligncenter" width="300" caption="Buta Cakil - [2"]

1302339024217055282
1302339024217055282
[/caption]

Dalam masyarakat Jawa, ia sebagai contoh perilaku buruk. Jika seseorang sering kena musibah karena perilakunya sendiri, maka orang tersebut perilakunya dikatakan seperti Buta Cakil.

19.Buta Rambut Geni, berambut api

Buta Rambut Geni diciptakan pada zaman kerajaan Mataram tahun Jawa 1552 ini mempunyai ciri khusus, rambutnya berupa api, dahi nonong dan kakinya bertaji seperti ayam jantan. Bersama dengan rekan-rekannya, Buta Prepat muncul dalam perang kembang.

[caption id="attachment_101096" align="aligncenter" width="300" caption="Buta Rambut Geni - Dok Pribadi"]

1302339106924228496
1302339106924228496
[/caption]

Buta Rambut Geni ini terkena penyakit insomnia akut, betapa tidak? Lha gimana tidurnya bisa nyenyak, jika setiap kali merebahkan kepala, bantalnya langsung terbakar, hehehe….

20.Buta Terong, berhidung besar seperti terong

Kelainan fisik Buta Terong adalah hidungnya yang menggantung seperti buah terong, badannya bungkuk dan perutnya buncit. Bersama Buta Prepat adalah asli ciptaan seniman nusantara yang tidak ada di India.

Jenis olahraga yang dibencinya adalah ‘tinju’. Sudah tentu kena tonjok terus, karena pandangannya terganggu dengan hidungnya yang besar itu.

[caption id="attachment_101097" align="aligncenter" width="300" caption="Buta Terong - [2"]

13023391961672825910
13023391961672825910
[/caption]

***

Beberapa tokoh di atas (Antareja, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Buta Cakil, Buta Rambut Geni, Buta Terong) tidak diketemukan dalam kitab Mahabarata dan Ramayana yang berasal dari India itu, tetapi sebagai hasil karya seniman kita sendiri, termasuk cerita (carangan) yang mengiringinya benar-benar asli buatan negeri sendiri. Kreatifnya nenek moyang kita membuat tokoh-tokoh wayang (disebut wayang anggitan) yang mempunyai ciri-ciri khusus, sehingga mudah dikenali. Biasanya, tokoh-tokoh itu tidak turut serta dalam perang Baratayuda, tetapi sengaja ‘dimatikan’ terlebih dahulu dengan berbagai cara, sesuai dengan versinya.

Tokoh-tokoh wayang yang mempunyai kelainan fisik jarang yang wanita. Dewi Durgandini yang kulitnya berbau amis pun bukan kelainan fisik, melainkan semacam penyakit. Tokoh wayang dan macam kelainan fisik lainnya setahu saya masih ada, namun karena kurang jelas sebab dan kisah yang menyertainya, maka kesulitan mencari sumbernya dan mengungkapkannya. Misalnya: Batara Wisnu dan Kresna yang berkulit hitam; Baladewa yang berkulit bule; Anoman -- kera berbulu putih; Antasena yg bersungut; dll.

Dari tokoh-tokoh yang sudah diungkapkan, penyebab kelainan fisik ternyata bermacam-macam. Jika dikelompokkan: ada yang bukan karena kesalahannya melainkan akibat kesalahan orangtua; ada yang karena hawa nafsu, sehingga tidak mau saling mengalah, lebih suka adu kesaktian; ada yang dari keturunan, ada yang aibat ucapan yang tajam/memfitnah; ada yang karena kezaliman orang lain; dll.

Kalau dihubungkan dengan konteks masa kini. Kesalahan orangtua adalah jika selama hamil tidak menjaga kesehatan kandungan, jarang kontrol dokter, merokok, dsb, sehingga menyebabkan adanya kelainan fisik pada bayi yang dilahirkan. Karena hawa nafsu, para muda adu trek-trek-an balap motor liar, tak terhindarkan kecelakaan yang menyebabkan cacat fisik. Beberapa kelainan fisik, seperti kelainan jantung, pigmen kulit, mata, dll adalah akibat keturunan. Dll.

Kenyataan saat ini, kelainan fisik sangat banyak dan beragam. Penyebabnya pun juga bermacam-macam. Namun, jika dikelompokkan, sepertinya tidak jauh berbeda dengan pengelompokan tokoh-tokoh wayang di atas.Pencegahannya pun sebetulnya mudah, yaitu sesuai dengan penyebabnya. Perlunya menahan hawa nafsu agar tidak terjadi adu mulut, adu tulisan dan adu kekuatan; menjaga kesehatan agar badan sehat. Memang ada kasus tertentu, terutama penyakit tertentu yang belum ditemukan obat dan cara penyembuhannya.

Karena punya kelainan fisik, maka biasanya berkembang potensi lainnya. Meski matanya buta, tapi pendengarannya tajam. Meski kakinya kurang sempurna, tapi otaknya berkembang menjadi lebih pintar, sementara teman-temannya main bola, ia baca buku. Jadi, tidak perlu konsentrasi dengan kekurangannya apalagi kok menyesali terus-menerus, tetapi lebih fokus pada potensinya. Jika sudah menjadi pakarnya dalam suatu bidang tertentu, perasaan rendah diri/tidak berharga kemungkinan besar hilang dengan sendirinya, menjadi lebih pede.

Penyandang kelainan fisik tidak perlu dikasihani, karena (belajar dari cerita wayang) sebagai hal biasa yang dihadapi nenek moyang kita sejak dulu. Bahkan dihormati, karena ternyata sebagian kelainan fisik itu malah sebagai tanda/bukti usaha yang istimewa dalam mengejar cita-cita untuk menjadi sakti/mempunyai kemampuan hebat. Rasa kasihan bisa diujudkan dalam bentuk lainnya, yaitu penerimaan yang tulus, tidak berbuat diskriminasi; sekolah bersedia menerimanya sebagai murid; perusahaan bersedia menerima sebagai karyawannya; pemerintah dengan sungguh-sungguh menyediakan lebih banyak fasilitas, sarana dan prasarana yang bisa memudahkannya; dll.

Akhirul kata eh alinea, karena keterbatasan pengetahuan saya, maka kemungkinan besar masih ada tokoh wayang dengan kelainan fisiknya yang terlewatkan. Terima kasih atas kesediaan pembaca menginformasikan yang terlewat itu (beserta sebab dan kisahnya), termasuk kritik dan sarannya untuk perbaikan tulisan ini. (Depok, 09 April 2011).

(SELESAI)

----------------

[1] Sagio dan Ir. Samsugi, Wayang Kulit Gagrak Yogyakarta, CV HAJI MASAGUNG, Jakarta, cet.1, 1991.

[2] SENA WANGI, Ensiklopedi Wayang Indonesia, PT Sakanindo Printama, Jakarta, 1999.

[3] Ensiklopedi Wayang Purwa, Balai Pustaka, Jakarta, 1991.

.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x