Azeem Amedi
Azeem Amedi

Masih belajar, mohon dimaklumi. | S1 Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran | F1 & Racing Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Balap Artikel Utama

#CelotehF1: Menanti Aksi Para Debutan di Musim 2019

21 Januari 2019   11:31 Diperbarui: 25 Januari 2019   07:46 394 6 1
#CelotehF1: Menanti Aksi Para Debutan di Musim 2019
Sumber ilustrasi: maxf1.net

Formula Satu (F1) musim 2019 akan semakin bewarna dengan adanya perubahan line-up baru pebalap di tim-tim peserta F1, seperti kepindahan sensasional Daniel Ricciardo dari tim Red Bull yang sudah mapan dan tidak diragukan kualitas mobil mereka ke Renault yang sedang dalam perjalanan membangun kembali fragmen-fragmen kejayaan mereka yang sudah tertinggal lama, atau kepindahan Lance Stroll ke Racing Point (Force India) karena uang dari sang ayah.

Selain dari kepindahan para pebalap senior, para pebalap junior yang merupakan pentolan-pentolan ajang balap divisi di bawah F1 pun akan ikut mewarnai gegap gempita kompetisi jet darat sebagai kompetisi tercepat sejagat. 

Pebalap debutan dari ajang Formula 2 seperti Lando Norris, Alexander Albon, dan juara dunia George Russell (Antonio Giovinazzi tidak termasuk, debut di 2017) akan mempertaruhkan diri untuk berjibaku menjaga reputasi sebagai potensi yang tidak disia-siakan, sebagai masa depan F1.

Tentu terlalu dini bagi kita untuk mengharapkan mereka naik ke podium di musim pertama mereka, walaupun tidak menutup kemungkinan juga mereka mampu memberikan penampilan ciamik di beberapa seri dan bisa naik podium.

Hanya saja, perlu realistis juga dalam menantikan aksi mereka karena mengingat Norris berada di McLaren yang masih bermasalah, Russell yang berada di Williams juga berjuang untuk kembali menemukan 'form' asli mereka, dan Albon yang membalap di bawah bendera Toro Rosso sebagai 'sister team' dan penyedia data bagi Red Bull yang baru saja berpartner dengan Honda dalam hal pasokan mesin.

Meskipun demikian, Norris, Russell, dan Albon diharapkan dapat mewarnai persaingan di papan tengah, bersama pebalap-pebalap senior sekaliber Sergio Perez dan Lance Stroll yang membalap di bawah Racing Point, Romain Grosjean dan Kevin Magnussen sebagai amunisi-amunisi tim Haas F1, Carlos Sainz (bertandem dengan Norris di McLaren), dan pebalap kualitas juara dunia Kimi Raikkonen di Sauber.

Mengapa hanya diharapkan di papan tengah? Karena tetap realistis tadi. McLaren dan Williams adalah dua tim yang sedang mengalami kesulitan dalam hal menghasilkan mobil yang kencang dan konsistensi di setiap seri balapan, sedangkan Toro Rosso hanya sebagai tim junior bagi Red Bull, sebagai tim 'batu pijakan'. 

Oleh karena itu, Norris dan Russell dengan segala kemampuan mereka dalam usia yang masih sangat belia akan dapat menjadi potensi penyelesaian masalah-masalah bagi McLaren dan Williams. Mereka memiliki kemampuan yang tidak diragukan lagi, contohnya saat Norris memenangi F2 GP Bahrain musim lalu dan Russell ketika menang di Baku, Azerbaijan. 

Balapan-balapan tersebut menjadi bukti bahwa Norris dan Russell punya sesuatu yang spesial, mereka punya konsistensi dan kepiawaian dalam mengemudikan mobil melalui mobil-mobil lain, skill untuk 'coming through the pack' yang sudah sekaliber dengan Lewis Hamilton kala ia masih membalap di GP2 (lihat GP2 Istanbul 2006).

Bagaimana dengan Albon? Alex Albon punya pengalaman, malang melintang di divisi bawah dan beberapa kali memenangi seri balapan. Ia juga pernah bersaing dengan Charles Leclerc di ajang GP3 dan F2, serta merupakan mantan didikan Red Bull Academy (walaupun kemudian ia kembali, dengan direkrutnya dia ke Toro Rosso). 

Pengalaman tersebut berhasil membawa dia sebagai salah satu pebalap yang diperhitungkan di F2 musim lalu, sehingga ia sempat direkrut Nissan untuk masuk Formula E, dan layak diperhitungkan sebagai salah satu 'rookie' top di F1 pada musim 2019 nanti. Bukti pengalaman dan skill Albon tidak sia-sia adalah ketika ia menjuarai F2 Hungaria musim lalu, ia terlihat begitu stabil dan tenang, suatu modal besar dalam menghadapi Toro Rosso dan reliabilitas Honda.

Mereka bertiga bukannya tanpa tantangan dan akan menampilkan performa ciamik tanpa hambatan dalam mengarungi musim 2019 nanti. Rekan setim mereka akan menjadi ancaman utama dari karir mereka di F1. Norris harus berhadapan dengan Carlos Sainz yang sudah memasuki musim kelima nanti di McLaren. 

Meskipun mereka berdua merupakan pebalap baru di skuat asal Woking, Inggris tersebut, namun Sainz sudah menunjukan kapasitasnya berkali-kali sebagai pesaing Max Verstappen ketika berada di Toro Rosso dan tandem Nico Hulkenberg di Renault.

Norris harus bisa mengimbangi performa Sainz, jangan sampai bernasib sama seperti Magnussen yang kalah dari Jenson Button pada 2014, dan Stoffel Vandoorne yang 'digilas' berdasarkan rekor head-to-head dengan Fernando Alonso musim lalu.

George Russell juga akan menemui jalan terjal di musim depan. Pebalap kawakan Robert Kubica yang meskipun kemampuannya sedikit berkurang karena umur dan juga kondisi tangan kanannya pasca cedera parah yang dideritanya pada 2011, pengalaman membalap di ajang adu cepat jet darat tidak diragukan lagi. 

Apalagi hasil tes bersama Williams dan sempat turunnya dia pada sesi latihan bebas di beberapa seri musim lalu menunjukan bahwa dirinya mampu menguasai kerasnya F1 dan masih mampu menjadi tanda bahaya bagi pebalap-pebalap lain. Russell harus bisa menunjukan performa sesuai label yang disematkan padanya, 'juara dunia F2', karena akan terus disandingkan pebalap-pebalap selevel Nico Hulkenberg, Romain Grosjean, Pierre Gasly, dan bahkan Lewis Hamilton.

Alex Albon pun demikian, ia harus bisa bersaing dengan Daniil Kvyat sebagai tandemnya yang sama-sama kembali di bawah naungan Red Bull (dalam tim Toro Rosso).

Albon harus bisa memanfaatkan kesempatan kedua ini dan Kvyat pun juga. Helmut Marko memiliki tangan dingin, jika salah satu dari mereka tidak sesuai dengan ekspektasi Marko, maka mau tidak mau mereka harus siap untuk 'ditendang' dari tim layaknya Scott Speed pada 2007, Sebastien Bourdais di tahun 2009 dan Kvyat dua tahun lalu.

Tiga rookie tersebut layak untuk diperhatikan dan diperhitungkan. Lando Norris, Alex Albon, dan George Russell merupakan darah baru F1 yang siap belajar banyak di musim pertama mereka nanti di tahun ini. Walaupun kemampuan mereka apik, tapi F1 bukan ajang balap biasa, karena seberapa brilian mereka di divisi bawah, belum tentu akan sama dengan ketika mengemudikan mobil single-seater tercepat sejagat.
Sekian.