Mohon tunggu...
Winbert Hutahaean
Winbert Hutahaean Mohon Tunggu... Diplomat - Diplomat Indonesia di New Caledonia

Diplomat Indonesia yang sejak 2016 tinggal di New Caledonia. Sebelumnya dari 2009 - 2013 bertugas di Toronto, Canada, dan 2002 - 2006 bertugas di Fiji. Lulusan Sekolah Diplomatik Deplu, angkatan 24 (1998). Meraih gelar Master of Arts (MA) untuk jurusan International Relations dari University of Wollongong, Australia. Lulusan Hubungan Internasional, FISIP dari Universitas Parahyangan, angkatan '89. Masuk Sastra Perancis, Universitas Padjadjaran, angkatan '90. Besar di Bandung, mengikuti pendidikan di SMPN 5, Jl Jawa dan SMAN 5, Jl Belitung Bandung.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Referendum Kemerdekaan di New Caledonia, Bagaimana Keturunan Jawa di Sana?

4 Oktober 2020   12:32 Diperbarui: 5 Oktober 2020   04:47 1273
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Poster "Oui" (Ya) untuk merdeka dan "Non" (Tidak) untuk tetap bersama Prancis | Dokumentasi pribadi

Noumea - Pada 4 Oktober 2020 ini, referendum terakhir di dunia untuk memerdekakan sebuah negara akan dilaksanakan di Kaledonia Baru, sebuah pulau yang menjadi koloni Prancis di Pasifik. 

Referendum ini akan diawasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang telah memasukan wilayah ini ke dalam Group C-24 untuk mengikuti proses dekolonisasi. 

Menurut Noumea Accord (Perjanjian Noumea) yang ditandatangani pada tahun 1998, Kaledonia Baru akan menyelenggarakan 3 referendum mulai tahun 2018 dengan jeda setiap 2 tahun. 

Referendum pertama telah dilaksanakan pada 2018 dan mayoritas penduduk memilih untuk tidak merdeka, dan karena itu referendum kedua dilaksanakan di tahun 2020 ini, dengan referendum ketiga akan menjadi pilihan terakhir pada 2022. 

Sebaliknya jika dalam salah satu referendum mayoritas menyatakan ingin memisahkan diri dari Prancis, maka negara termuda akan muncul di dunia ini. 

Namun apabila setelah melalui 3 referendum mayoritas masih tidak mau merdeka, bukan berarti Kaledonia Baru adalah Departemen (provinsi) Prancis, bahkan ini hampir tidak mungkin. 

Pilihan paling masuk akal adalah mengadakan referendum baru dalam 20-30 tahun terhitung dari 2022 atau mendirikan negara baru di bawah asosiasi khusus dengan Prancis atau status quo seperti saat ini, tetapi dengan hak dan kekuasaan yang lebih besar.

Masyarakat Kaledonia Baru kini terbagi dua sisi antara mereka yang tidak menginginkan kemerdekaan, sebagian besar didukung oleh keturunan Eropa dan mereka yang menginginkan kemerdekaan, yang mayoritas adalah suku asli Melanesia Kanak. 

Kaledonia Baru telah dihuni selama 3.500 tahun oleh orang Melanesian Kanak, namun pada tahun 1853 kawasan ini dikuasai oleh Prancis yang kemudian ditetapkan sebagai Territory d'outre mer (teritori seberang laut). 

Pemerintah Prancis menjadikan pulau ini sebagai tempat pengasingan bagi tahanan asal Eropa. Belakangan dengan bantuan Pemerintah Belanda, pada 1896 Pemerintah Prancis mendatangkan tenaga kontrak dari Jawa, terutama setelah nikel banyak ditemukan, ke pulau ini. 

Mereka dibawa dengan aturan yang ada yaitu "Koeli Ordonantie" mirip dengan cerita orang Jawa di Suriname, tetapi tidak banyak orang Indonesia yang tahu tentang hal ini. Orang Jawa di Kaledonia Baru saat ini sudah mencapai generasi ke-5.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun