Mohon tunggu...
Wildan Hakim
Wildan Hakim Mohon Tunggu... Penyuka kopi dan olah kosakata

Lahir dan besar di Kediri Jatim. Alumni FISIP Komunikasi UNS Surakarta. Pernah menjadi wartawan di detikcom dan KBR 68H Jakarta. Menamatkan program master bidang manajemen komunikasi dari Universitas Indonesia pada 2012. Sempat bekerja sebagai konsultan komunikasi untuk PNPM Mandiri Perkotaan. Saat ini mengajar di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Menjadi Guru bagi Generasi Z (Bagian 1)

20 Februari 2019   15:58 Diperbarui: 21 Februari 2019   09:19 80 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menjadi Guru bagi Generasi Z (Bagian 1)
slide08-5c6e0875ab12ae48e25319bb.jpg

Pagi itu, 25 Agustus 2018, kami tiba di kompleks Talenta School yang berlokasi di Taman Kopo Indah Bandung Jawa Barat. Manajer Sekolah, Maria Susana menyambut saya dan Intan Primadini. Di ruang seminar, para guru sudah duduk rapi dan tertib. Ada sekira 120 guru dari seluruh jenjang di Talenta School yang siap mengikuti seminar.

Saya dan Intan Primadini dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) hadir ke Talenta School sebagai pembicara. Topik yang hendak diulas sangat kekinian; Guru Zaman Now dan Tuntutan menjadi Guru Profesional. 

Buat saya, bicara di depan publik sudah biasa. Tapi bicara di depan para guru tanpa harus menggurui menjadi sesuatu yang di luar kebiasaan. Saya dan Intan berbagi peran. Intan membawakan materinya di sesi pertama, dan saya di sesi kedua. Sekira 90 menit Intan membawakan materinya tentang Generasi Z. Generasi yang sekarang ini duduk di bangku sekolah hingga kuliah. Sesekali dara asli Palembang ini berinteraksi dengan para guru di sela-sela ceramahnya.

Setelah istirahat sesi pertama selesai, giliran saya tampil. Materi yang saya bawakan teramat sederhana. Gen Z menyebutnya receh. Pagi itu, saya membawakan materi berjudul Bergaul dengan Generasi Z. Sejak awal, materi ini tidak saya rancang penuh dengan konsep atau teori. Saya tak punya nyali untuk 'menggarami' para guru itu dengan konsep-konsep ilmu pengajaran atau pedagogik. Sebagian besar dari mereka adalah Sarjana Pendidikan. Adapun saya sebatas Sarjana Sosial.

Alhasil, saya memilih jalan tengah. Menjadi fasilitator tawa dan memotivasi jiwa. Urusan memotivasi ini merupakan titipan dari ibu Christine, guru senior di Talenta School. Di sela-sela istirahat, ibu Christine mengeluhkan motivasi mengajar para guru muda. Dari situlah terbetik ide untuk 'memurnikan' kembali energi para guru. Untuk memberi impresi, saya membuka ceramah dengan sebuah pantun

Aura Kasih pergi ke Buah Batu
Terima kasih sudah meluangkan waktu di hari Sabtu

Tawa dan senyum pecah di ruangan. Para guru dan juga saya, seharunya libur di hari Sabtu. Namun pagi itu mereka kompak hadir untuk mengikuti seminar. Pantun pertama belum cukup. Perlu dikuatkan lagi dengan pantun kedua.

Pergi ke kantor pakai kemeja
Listrik mati lampunya redup
Menjadi guru bukan sebatas panggilan kerja
Menjadi guru adalah panggilan hidup

Alhamdulillah, para guru kembali tersenyum. Sebagiannya bertepuk tangan. Saya katakan, menjadi guru itu memang tak mudah. Namun keberadaan kita (guru dan dosen) selalu dibutuhkan di setiap negara. Saya tegaskan, selama manusia hidup ingin pandai, maka sekolah dan buku akan terus laku.

"Mari kita bangga dan bersyukur dengan profesi di bidang pendidikan ini," tegas saya.

Sebuah gambar lucu saya tampilkan. Seperti tampak di atas, dua anak kecil bermain peran di area kuburan. Para guru tertawa. Saya katakan, inilah kelakuan generasi Z, generasi yang sekarang kita ajar. Generasi Z merupakan generasi yang tahu cara-cara untuk menjadi viral.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN