Mohon tunggu...
Wildan Abdurrahman
Wildan Abdurrahman Mohon Tunggu... Pencari Inspirasi

Penikmat isu perkembangan dan pembangunan spasial perkotaan. Pengagum inovasi dan kreativitas visual.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mengawal City Branding Yogyakarta

30 Maret 2015   08:57 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:48 895 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengawal City Branding Yogyakarta
https://assets.kompas.com

[caption id="" align="aligncenter" width="420" caption="https://assets.kompas.com"][/caption]

Pada tanggal 7 Maret 2015 lalu, Yogyakarta meluncurkan logo barunya, dimana logo sebelumnya yaitu “Jogja Never Ending Asia” dirasa sudah terlalu out of date dan tak lagi merepresentasikan semangat pembangunan kota Jogja di era globalisasi. Sebelumnya, proses penyusunan logo sempat memanas karena konsep yang dibawakan sebelumnya lebih jelas dibaca “TOGUA” dibandingkan dengan “JOGJA” namun setelah pemerintah dan stakeholder lain mengadakan urun rembug logo Jogja, maka lahirlah logo “Jogja Istimewa” seperti yang bisa kita lihat saat ini dengan menekankan pada 9 bidang strategis prioritas meliputi: pendidikan, pariwisata, teknologi, ekonomi, energi, pangan, kesehatan, keterlindungan warga serta tata ruang dan lingkungan. Peremajaan logo Yogyakarta sebagai ikon kota merupakan salah satu upaya pembangunan kota melalui city branding.

City Branding

[caption id="" align="aligncenter" width="424" caption="http://1.bp.blogspot.com"]

http://1.bp.blogspot.com
http://1.bp.blogspot.com
[/caption]

Semangat untuk membangun citra kota yang khas melalui city branding lahir atas dampak globalisasi, dimana setiap kota saling bersaing untuk menjadi lebih baik dan yang terbaik. Jika melihat dari dasar dicetuskanya,pendekatan pembangunan melalui city branding merupakan upaya yang dilakukan para perencanaa perkotaan untuk menciptakan kota yang sesuai dengan potensi dan mengakomodasi penduduk lokalnya sehingga dapat menjadi kota yang layak huni. Namun disisi lain kebutuhan kota untuk mendukung terciptanya citra kota tersebut memerlukan sumber dana pembangunan. Salah satu keuntungan city branding adalah tentang bagaimana sebuah kota bukan lagi dilihat menjadi hanya sekedar lokasi namun lebih menjadi tujuan destinasi. Bergesernya sifat kekotaan dari yang hanya sekedar bersifat lokasi menjadi destinasi secara langsung akan mengundang wisatawan untuk berkunjung ke kota tersebut sehingga akan berbanding lurus sebagai sumber pedapatan daerah/kota melalui pajak (pariwisata). Sifat dan karakteristik dari penduduk dan perlakuannya terhadap kota dimana mereka tinggal, bekerja dan bermain dapat mempengaruhi persepsi dari wisatawan dan pengunjung melalui rekomendasi dan keluhan mereka. Disamping itu keahlian penduduk, dorongan kewirausahaan dan kreativitas dari penduduk untuk mengemas sebuah kotanya menjadi kota yang nyaman, menyenangkan, berkarakter dan unik turut mempengaruhi suksesnya upayacity brandingyang juga turut berkontribusi pada kesejahteraan dari wilayah dan kota tersebut.

Walaupun demikian, konsep dari city branding pada akhirnya tidak bisa menampik kebutuhan dari investasi, karena bagaiamanapun juga city branding merupakan salah satu upaya untuk menggiatkan roda perekonomian sebuah kota namun dengan menekankan pada semangat kearifan lokal, karakter dan ciri khas dari suatu kota yang membuatnya berbeda dengan kota lainnya. City branding menekankan pola investasi dan ekonomi pada prosesnya, bukan sebagai tujuan akhir. Sehingga dari proses tersebut dapat membentuk dan melahirkan kota yang manusiawi, layak huni, dan memiliki daya saing dengan kota-kota lainnya.

Dualisme Pembangunan Kota

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Ikatan Ahli Perencana (IAP) pada tahun 2009, Yogyakarta pernah terpilih menjadi the most livable city di Indonesia dengan menempati peringkat pertama dan disusul oleh Manado, Makasar, Surabaya dan Semarang, namun pada tahun 2014, survey yang juga dilakukan oleh IAP ini tidak lagi menempatkan Kota Yogyakarta pada peringkat pertama untuk kota layak huni melainkan Kota Balikpapan disusul Surakarta (Solo), Malang, kemudian barulah Yogyakarta. Menurunnya peringkat Kota Yogyakarta pada urutan ke 4 di tahun 2014 bukannya tanpa sebab, namun dikarenakan perkembangannya yang begitu masive dan cepat dalam kurun waktu 6 tahun ini ternyata tidak diimbangi dengan penyediaan infrastruktur kota yang memadai. Yogyakarta mulai didera kemacetan yang cukup menjengkelkan, selain itu pula mulai hilangnya sense of the city karena maraknya pembangunan hotel, apartemen dan mall juga mulai merebaknya rasa insecure masyakarat akibat ulah dari premanisme, membuat Kota Yogyakarta tumbuh menjadi cikal bakal kota “beringas” yang mulai kehilangan jati dirinya dari sifat sederhana, berbudaya, ramah, santun, aman dan nyaman.

[caption id="" align="aligncenter" width="375" caption="Sumber: http://cdn.kaskus.com"]

Sumber: http://cdn.kaskus.com
Sumber: http://cdn.kaskus.com
[/caption]

Dalam perkembangan kota-kota di Indonesia dewasa ini, city branding lebih dilihat sebagai city marketing, dimana konsumen dan profit menjadi tujuan utamanya. Semangat awal untuk menciptakan kota layak huni yang digagas oleh konsep city branding mulai bergeser pada upaya menciptakan peluang investasi sebesar-besarnya kepada para investor. Sektor perekonomian digenjot habis-habisan dengan melupakan keseimbangan lingkungan, kearifan lokal dan budaya yang ada. Akibatnya, tata kota jadi tidak lagi sesuai dengan fungsi dan perencanaan awalnya. Perubahan fungsi lahan dari yang semula berupa area konservasi dan preservasi atau lahan pertanian menjadi area komersil berimbas pada menumpuknya pusat kegiatan pada suatu tempat/lokasi yang bukan menjadi peruntukannya. Hal-hal semacam ini dapat menimbulkan beberapa permasalahan seperti kemacetan, banjir dan dan juga kekeringan. Perubahan fungsi dan arah pembangunan Kota Jogja ini menyebabkan ketidak-setujuan warga terhadap pembangunan yang dianggap hanya berorientasi pada sektor ekonomi semata. Oleh karena itu, munculah slogan-slogan dan sindiran seperti “Jogja ora didol” atau “Jogja berhati nyaman” menjadi “Jogja berhenti nyaman” yang secara lansung mengindikasikan bahwa perkembangan Kota Yogyakarta yang saat ini terkesan lebih menekankan pada pembangunan mall, apartemen dan hotel, tidak lagi berorientasi pada lingkungan dan kearifan lokal yang kemudian mengganggu rasa keamanan dan kenyamanan warga. Masyarakat mulai kehilangan sense of the city, citra dan ciri khas sesungguhnya dari Kota Yogyakarta, mulai “pangling” dan bingung dengan identitas kotanya karena dirasakan tidak lagi berbeda dengan kota-kota lainnya yang tumbuh pesat dengan pembangunan yang serba mewah dan bentuk arsitektural yang serba sama. Model pembangunan semacam ini, jika tidak diantisipasi dan dikawal bersama-sama akan merubah Kota Yogyakarta menjadi tempat ajang pertempuran politik-ekonomi semata seperti yang sedang terjadi di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Berdasarkan kondisi di Kota Yogyakarta khususnya dan di Indonesia pada umumnya, penulis melihat city branding dapat berakhir menjadi dualisme pembangunan sebuah kota. Di satu sisi dapat menjadi sumber pemasukan/pendapatan untuk menggiatkan roda perekonomian kota, namun disisi lain dapat menjadi bumerang pembangunan kota yang semrawut. Pada akhirnya kita akan dihadapkan pada 2 pilihan, membangun dan mengawal kota menjadi layak huni (livable) atau malah membiarkannya menjadi kota yang menyengsarakan (miserable).

----

Referensi:

Heryanto, Bambang. 2011. Roh dan Citra Kota: Peran Perancangan Kota Sebagai Kebijakan Publik. Brilian Internasional: Surabaya

Susantono, Bambang. 2014. Revolusi Transportasi. PT. Gramedia Pusaka Utama: Jakarta

Sumber: http://jogja.tribunnews.com/2012/09/21/renaisans-yogya-tema-sultan-pimpin-diy-2012-2017

Keith, Dinnie. 2011. City Branding: Theory and Cases. Palgrave Macmillan: United Kingdom

Sumber: http://earoph.info

Sumber: http://jakartapost.com/news/2014/08/12/seven-indonesian-cities-most-livable-survey.html

Budihardjo, Eko. 2014. Reformasi Perkotaan: Mencegah Wilayah Urban Menjadi “Human Zoo”. PT Kompas Media Nusantara: Jakarta

VIDEO PILIHAN