Mohon tunggu...
Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Mohon Tunggu... Guru Blogger Indonesia

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". Hp. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Organisasi Profesi Guru Seharusnya Hanya Satu

13 September 2020   17:27 Diperbarui: 13 September 2020   17:30 94 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Organisasi Profesi Guru Seharusnya Hanya Satu
Omjay (dokpri)

Organisasi Guru seharusnya hanya satu. Namun aturan untuk itu belum ada. Setiap guru boleh memilih organisasinya masing-masing. Tidak ada paksaan dalam berorganisasi. Lebih baik kita mengasah diri. 

Mengkritik itu mudah, menjadi pemimpin guru yang susah. Saatnya kita saling berkolaborasi dalam membangun organisasi profesi guru yang kuat dan bermartabat.

Dulu saya kira Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) itu beda. Ternyata isinya sama. Keduanya dipimpin oleh mereka yang bukan guru. 

Belum ada guru yang mampu memimpin organisasi besar seperti PGRI. Anggotanya menyebar dari pusat hingga daerah. Alamat kantornya jelas dan ada pegawai yang bekerja melayani semua guru. 

Organisasi tidak terlihat besar di dunia maya saja, tapi juga di dunia nyata. Perjuangannya jelas, seperti lahirnya Undang-undang Guru dan Dosen serta tunjangan Profesi guru (TPG).

Saya ingin organisasi guru seperti itu dan dikelola dengan prinsip manajemen yang baik. Keuangan dikelola secara transparan dan setiap anggota memberikan iuran, karena darah organisasi adalah iuran anggota. Dari iuran anggota itulah operasional organisasi bisa dijalankan dengan baik. 

Dulu sebelum bergabung di PGRI, saya mencoba mendirikan organisasi guru yang semuanya guru. Kemudian saya dan kawan-kawan sevisi membentuk organisasi guru yang semuanya guru. 

Namanya Ikatan Profesi Guru Indonesia disingkat IPGI waktu itu. Banyak guru menyambut dengan suka cita. Kami meresmikannya di Gedung Sertifikasi Guru kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Organisasi berjalan bagus dan mulus. Namun sayang dikhianati  oleh ketuanya sendiri. Arah organisasi melenceng jauh dari harapan. Kami langsung bekukan organisasinya sebelum berkembang. 

Pak Namin sebagai sekjen mengundurkan diri karena diangkat jadi dosen di perguruan tinggi. Saat itu kita berkomitmen bahwa organisasi guru dipimpin oleh guru. Mereka yang bukan guru dimohon untuk tidak bergabung dalam organisasi guru.

Saya arahkan semua anggota untuk ikut organisasi guru lainnya. Ada yang bergabung di PGRI dan di IGI. Ada juga yang bergabung di FSGI, Federasi Serikat Guru Indonesia. 

Saya beri kebebasan untuk memilih sendiri. Mereka bisa menyalurkan potensinya untuk belajar berorganisasi dan memimpin organisasi guru. Kompetensi guru harus terus ditingkatkan dnegan berbagai cara.

Tapi mereka banyak yang kecewa. Sebab organisasi guru yang mereka ikuti tidak dipimpin oleh guru. Mulailah mereka menyatu dalam berbagai komunitas guru untuk berbagi ilmu. Baik dalam dunia maya maupun nyata. Kami sering kopdar dan berdiskusi untuk memajukan organisasi masing-masing. 

Seharusnya organisasi guru dipimpin oleh guru, namun banyak guru yang nampaknya belum mampu. Banyak guru menjalankan roda organisasi hanya di waktu senggang. Walapun begitu, kawan-kawan guru terus berkolaborasi agar nilai uji kompetensi (UKG) guru bagus.

Akhirnya banyak komunitas guru lahir. Saya sendiri bersama kawan kawan lainnya membentuk komunitas guru TIK dan sudah berbadan hukum. Namanya komunitas guru TIK dan KKPI disingkat KOGTIK

Seiring perjalanan waktu, organisasi kami bergabung di Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenias (APKS) PGRI yang misi dan visinya sama dengan organisasi kami. Kemudian kami beri nama Ikatan Guru TIK PGRI.

Setiap kali ada undangan rapat dan kegiatan organisasi profesi guru kami diundang oleh kemdikbud. Kita presentasikan apa-apa yang sudah kami lakukan untuk meningkatkan kompetensi guru. 

Terakhir kami berikan buku informatika karya guru TIK ke mendikbud Nadiem Makarim secara langsung. Kami bekerjasama dengan penerbit andi untuk membuat buku informatika yang berkualitas. Tapi sayang, belum semua guru TIK diperbolehkan mengajar informatika di sekolahnya.

Sekarang ini ada 35 organisasi guru yang diakui GTK kemdikbud dan diundang dalam kegiatan refleksi organisasi profesi Guru. Kita berkumpul dalam melakukan refleksi organisasi profesi guru. Kita belajar dari lahirnya sumpah pemuda. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x