Mohon tunggu...
Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Mohon Tunggu... Guru Blogger Indonesia

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". Hp. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Tantangan Labschool dalam Menyiapkan dan Menerjemahkan Sistem Pendidikan di Era Digital

22 Juli 2020   21:31 Diperbarui: 22 Juli 2020   21:30 210 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tantangan Labschool dalam Menyiapkan dan Menerjemahkan Sistem Pendidikan di Era Digital
siswa labschool/dok.istimewa

Tantangan Labschool dalam menyiapkan dan menerjemahkan sistem pendidikan di Era Digital

A. PENDAHULUAN

Seorang kawan yang baik hati mengirimkan sebuah file tentang acuan membuat artikel dalam rangka seleksi calon kepala sekolah di lingkungan Labschool Universitas Negeri Jakarta. Tentu saja saya senang menerimanya. Sebab acuan ini sangat saya perlukan dalam penulisan makalah. Kalau cuma copas di Internet sh gampang, tapi saya ingin menulis dari hasil pemikiran saya sendiri.

Saya membaca sedikit demi sedikit isinya. Mencoba memahami apa yang diminta panitia seleksi. Panitia tentu akan memilih kepala sekolah yang terbaik dan mampu memimpin sekolah Labschool dengan berbagai tantangan yang dimilikunya. Salah satu tantangannya adalah menterjemahkan sistem pendidikan di era digital. Sayapun sangat terkesan dengan pemaran Prof. Ahmad Sofyan Hanif tentang kepemimpinan yang dapat anda tonton dalam rekaman video di bawah ini. Kegiatan ini adalah bagian dari kegiatan LDKS dan Pra Saksi di kelas 8 SMP Labschool Jakarta.


Kepala sekolah memiliki peranan paling utama tidak hanya mengisi fungsi managerial di sekolah yang merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi berbagai program sekolah, tetapi juga secara moral dan etik adalah sebagai motor utama dalam arah pengembangan sekolah. Dalam konteks itu, kepala sekolah dituntut untuk memiliki tidak hanya etos kerja profesional, kompetensi sosial, kompetensi manajerial dan kompetensi kewirausahaan, tetapi juga mumpuni dalam wacana pengembangan pendidikan. 

Pemahaman terhadap arah dan trend pendidikan global dan adaptif terhadap tren serta kebijakan di tingkat nasional, salah satunya adalah contoh kesiapan dalam pengembangan sekolah-sekolah Labschool. Begitulah kalimat pertama yang saya baca dalam acuan penulisan artikel ini. Labschool sudah seharusnya menjadi komunitas penggerak di negeri yang mayoritas penduduknya tinggal di pedesaan.

labschool harus menjadi komunbitas penggerak/mediaindonesia.com
labschool harus menjadi komunbitas penggerak/mediaindonesia.com
Kepala sekolah yang mampu merancang dan melaksanakan program dengan baik serta mampu mengevaluasi program kerjanya bersama tim yang solid, tentu sangat diperlukan dalam membangun labschool menjadi sekolah unggul di masyarakat. Kepala sekolah mampu memimpin gerbong pasukannya agar sampai kepada tujuan yang diharapkan. 

Oleh karena itu, semua stake holder yang ada di dalamnya harus mampu bekerjasama sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Kepemimpinan kepala sekolah akan teruji dengan berbagai masalah yang dihadapinya. Seperti motto pegadaian, mengatasi masalah, tanpa masalah. Kepala sekolah yang cerdas pasti akan sellau mencari slusi terbaik dari permasalahan yang ada.

Dalam rangka melihat kedalaman wawasan dan pemikiran, panitia seleksi memberikan dokumen tersebut sebagai acuan. Calon kepala sekolah Labschool yang akan datang diharapkan mampu dalam artikelnya menerjemahkan dan menyajikan berbagai wacana yang menjadi trend pendidikan di level nasional maupun global. 

Harapannya tentu wacana ini yang kelak kemudian ketika menjadi kepala sekolah dapat menjadi dasar bergerak, dan diimplementasikan pada berbagai program di sekolah. Adapun tema besar dalam penulisan artikel adalah "membangun labschool menjadi center for excellence dalam menghadapi tantangan global dan memasuki era disruptif".

Berbeda dengan isi surat BPS Labschool UNJ, Nomor : 356/YP-UNJ/BPS/TU/2020, acuan PENULISAN ARTIKEL SELEKSI KEPALA SEKOLAH LABSCHOOL 2020 ini sangat lengkap, sehingga memudahkan saya dalam memperbaiki makalah yang dibuat. Padahal saya sudah mengirimkan hardcopynya kepada pak Dadang Susanto (kepela sekertraiat Labschool). Namun, setelah membaca acuan tersebut, nampaknya saya harus memperbaikinya.  Mumpung masih ada waktu sampai 1 Agustus 2020.

dok.mpls smp labschool Jakarta
dok.mpls smp labschool Jakarta
B. TUGAS PEMIMPIN DALAM BIDANG PENDIDIKAN

Pada Abad ke-21 ini, labschool sebagai lembaga pendidikan harus berbenah diri. Perubahan dan adanya wabah corona telah mendisrupsi kita sebagai warga dunia yang saling terkoneksi satu dengan lainnya. Globalisasi sebagaimana kemudian dipahami sebagai tatanan dunia baru di mana teknologi informasi dan komunikasi (TIK), ditambah dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang serba cepat telah meleburkan batasan dunia yang sebelumnya lebih sebagai "komunitas Desa" yang terbatas menjadi global. 

Pada akhirnya hal itu menjadikan Pendidikan, teknologi informasi, inovasi dan sains teknologi sebagai pilar utama pengetahuan. Labschool sebagai lembaga pendidikan tentu terkena dampaknya. Kita sama-sama belajar dari pandemi Covid-19. Kegiatan pramuka yang biasanya dilaksanakan di dunia nyata, sekarang harus kita lakukan di dunia maya karena kota Jakarta masih berada dalam zonah merah. 

Begitu juga kegiatan di kelas nyata yang sekarang pindah ke kelas maya dengan menggunakan berbagai LMS dan aplikasi video conference. Itulah kecanggihan teknologi. Guru dipaksa mengenal berbagai aplikasi baru dan mampu menciptakan pola belajar efektif dari rumah. Kepala sekolah yang melek teknologi akan berusaha membuat sekolahnya mampu beradaptasi dengan teknologi yang ada.

Kegiatan Pramuka di SMP Labschool Jakarta/dok.istimewa
Kegiatan Pramuka di SMP Labschool Jakarta/dok.istimewa
Kita tidak bisa lagi menolak kenyataan bahwa teknologi telah sedemikian rupa mengubah hidup masyarakat. Perkembangan teknologi yang di saat yang sama menjadi global pada akhirnya membuka persaingan yang tidak terbatas baik dalam ranah budaya, politik dan ekonomi tentunya. Di Asia sendiri, ratusan juta orang telah bangkit dan menjadi kelas menengah baru. Kebangkitan Asia ini adalah satu perkembangan yang paling mutakhir. Lantas, di mana posisi indonesia? Dalam ranah pendidikan, pertanyaan yang lebih utama adalah, bagaimana Pendidikan Indonesia siap untuk memenuhi persaingan global? 

Bagaimana pendidikan dan sekolah membuka peluang untuk menyiapkan generasi yang siap untuk bersaing dan berkolaborasi dalam lingkup global. Tantangan ini akan dapat dijawab oleh seorang kepala sekolah yang visioner. Labschool setiap tahun telah mengirimkan peserta didiknya untuk belajar dan mengenal budaya sekolah di setiap negara yang dikunjunginya. 

Saya sendiri pernah menjadi pendamping anak-anak Labschool ke Jepang untuk belajar di sana.Sekitar 40 siswa kami dampingi untuk belajar di sekolah Jepang dan mengenal budayanya. Kepemimpinan kepala sekolah yang visioner saya lihat sendiri dari negara yang kami kunjungi.

Kepemimpinan memiliki peranan sangat penting dalam rangka memastikan pemanfaatan teknologi menjadi bagian permanen dari pengalaman pendidikan dalam pembelajaran. Dengan menciptakan tim yang kuat, membangun dukungan masyarakat, mengelola perubahan secara mumpuni, dan merencanakan keberlanjutan jangka panjang, para pemimpin yang terampil dapat memberdayakan sistem sekolah tidak hanya untuk menggunakan perangkat seluler.

Tetapi juga menggunakannya dengan cara yang bermakna untuk meningkatkan prestasi dan kesetaraan peserta didik (Wilson, 2013). Hal ini tentu sangat diperhatikan oleh kepala sekolah yang akan memimpin Labschool ke depan. Berbagi pekerjaan dan saling menghargai antar sesama guru menjadi sesuatu yang harus dilakukan agar semua guru ikut terlibat dalam kemajuan pendidikan di Labschool. Hal ini juga disampaikan bapak Hamid Muhammad dalam menyampaikan materinya di rekaman video di bawah ini.


Tugas pemimpin adalah memastikan bahwa semua elemen dalam sistem sekolah siap sedia untuk mewujudkannya. Hal ini menuntut keterlibatan dalam perubahan, sistem pemenuhan anggaran yang berkelanjutan, pembuatan berbagai kebijakan yang mendukung, untuk kemudian menciptakan siklus dalam berinovasi demi peningkatan mutu yang berkelanjutan (Leslie Wilson, 2013). 

Saling bersinergi dngan pimpinan badan pengelola sekolah (BPS) labschool di bawah yayasan pembina Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sebagai sekolah yang dikelola dan dikembangkan oleh UNJ, tentu kepala sekolah harus terus berkomunikasi dengan baik dan menjalin keharmonisan dalam menyiapkan dan menerjemahkan sistem pendidikan di Era Digital.

Perubahan dalam bidang pendidikan menuntut pemimpin untuk: 

  1. Memahami berbagai sumber pengetahuan baik berdasarkan penelitian dan atau teori di balik perubahan yang diusulkan, serta mampu mengomunikasikannya secara persuasif kepada guru dan pemangku kepentingan lainnya; 
  2. Menginspirasi dalam memberi keyakinan bahwa perubahan yang diusulkan dapat menghasilkan hasil yang luar biasa dan yang sepadan dengan upaya yang dikeluarkan; 
  3. Memahami bagaimana perubahan yang diajukan akan memengaruhi kurikulum, pengajaran, dan penilaian, serta mampu mengimplementasikan dalam berbagai perubahan; 
  4. Mampu memantau hasil dan menyesuaikan dengan apa yang diperlukan untuk terus meningkatkan hasil program (Robert Marzano, 2012).

Keempat hal di atas, saya dapatkan dari acuan penulisan artikel kepala sekolah labschool 2020. Hal ini membuat saya lebih memahami perubahan dalam bidang pendidikan yang harus dikuasai seorang pemimpin. Sekolah berbasis riset yang menghasilkan karya untuk kemajuan pendidikan tentu harus didukung dengan kurikulum hidup yang bernama guru. Kepala sekolah harus mampu memantau kinerja guru dengan baik.

Sebagai pengingat, tujuan akhir dari sekolah tentu adalah kompetensi peserta didik. Adapun cakupan kompetensi yang dituntut Abad 21 mencakup: 

  1. Pendidikan karakter (ciri dan atribut pribadi seperti tanggung jawab, ketekunan, dan empati); 
  2. Kewarganegaraan (pengetahuan tentang isu-isu global, rasa hormat terhadap budaya lain, keterlibatan dalam isu kemanusiaan dan lingkungan); 
  3. Komunikasi: kemampuan berkomunikasi secara efektif dan aktif mendengarkan pendidk; 
  4. Pemikiran kritis, pemecahan masalah dan membuat keputusan yang efektif; 
  5. Kolaborasi: bekerja dalam tim, belajar dari dan berkontribusi pada pembelajaran orang lain dan berkolaborasi dengan beragam individu; dan 
  6. Kreativitas dan imajinasi: mempertimbangkan dan mengejar ide-ide baru, dapat memimpin orang lain dan berwirausaha. 

Secara khusus tema yang dapat dikembangkan dalam artikel adalah "membangun labschool menjadi center for excellence dalam menghadapi tantangan global dan memasuki era disruptif". Adapun tema yang dapat dikembangkan dalam artikel adalah: 

  1. Transformasi sistem pendidikan Labschool yang menjawab tantangan kecakapan Abad 21; 
  2. Tantangan Labschool dalam menyiapkan dan menerjemahkan sistem pendidikan di Era Digital; 
  3. Strategi dan Inovasi Sekolah Labschool dalam mempersiapkan peserta didik yang siap untuk bersaing sebagai pekerja profesional di Abad 21; 
  4. Tantangan Labschool menjawab standarisasi Global Education Reform (GERM) yang memokuskan pada standarisasi pada beberapa subjek: literasi dan numerasi yang diteskan pada PISA, TIMSS and PIRL. 

Dari keempat sub tema di atas, tema nomor kedua sangat menarik perhatian saya untuk menuliskannya secara panjang lebar dalam tulisan ini. Hal ini akan saya gali lebih dalam sehingga menghasilkan pemikiran yang dapat diimplementasikan untuk kemajuan Labschool di masa depan. Pembelajaran jarak jauh yang sudah kita lakukan saat ini harus terus kita evaluasi sehingga berdampak postif bagi peserta didik kita.


C. Tantangan Labschool dalam menyiapkan dan menerjemahkan sistem pendidikan di Era Digital.

Ada banyak tantangan yang akan dihadapi Labschool dalam membenahi sistem pendidikan di Indonesia. Walaupun sudah berpengalaman dari tahun 1968 dalam mengelola sekolah, Labschool diharapkan mampu melakukan inovasi baru di bidang pendidikan. Sekolah laboratorium yang dulu digagas oleh IKIP Jakarta dan bersama IKIP lainnya di seluruh Indonesia harus mulai berbenah diri dan mulai melakukan analisis SWOT. Apa yang dimaksud dengan analisis SWOT? 

Pengertian Analisis SWOT adalah suatu metode perencanaan strategis untuk mengevaluasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam usaha mencapai tujuan, yaitu kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats), baik itu tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.Dengan begitu Labschool akan mampu mengukur dirinya dalam menterjemahkan sistem pendidikan di era digital. 

Model pembelajaran Blended Learning nampaknya akan banyak dipakai labschool untuk pembelajaran secara online dan offline. Kepemimpinan kepala sekolah tentu sangat diperlukan dalam meramu strategi pembelajaran agar Labschool berprestasi dan mampu beradaptasi di era digital sekarang ini.

dok.twibbon ekspo ekskul
dok.twibbon ekspo ekskul
Perkembangan teknologi di era digital saat ini bukanlah hambatan dalam mendidik generasi penerus bangsa. Kecanggihan teknologi justru menjadi media bagi lembaga pendidikan dalam menyiapkan generasi masa depan. Bagaimana pendidikan menjawab tantangan zaman sehingga bisa melahirkan anak-anak yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman (pengetahuan dan teknologi), sekaligus tetap menjaga nilai-nilai moral yang luhur di masyarakat. 

Budaya bangsa seharusnya dilestarikan dan bukan budaya dari luar negeri yang belum tentu cocok dengan negera kepulauan seperti Indonesia. Labschool harus menjadi pusat dalam mengembangkan budaya sekolah dan pendidikan karakter bangsa.

Pendidikan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring perkembangan zaman. Memasuki era digital seperti saat ini, perkembangan anak didik sangat berbeda dengan zaman dulu. Misalnya saja dari segi permainan. Jika anak-anak pada zaman dulu masih banyak yang memainkan permainan tradisional, anak-anak zaman sekarang sangat jarang yang pernah atau bisa memainkannya. Justru mereka lebih akrab dengan permainan dalam aplikasi sebuah gadget. Anak-anak sekarang lebih suka bermain games di internet, dan menonton video di youtube.

Ada sebuah pertanyaan penting yang dilontarkan Prof Eko Indrajit. Ada berapa persen pertanyaan yang tidak ada di internet dan di dunia cyber? Pertanyaan tersebut beliau lontarkan dalam materi bagaimana mengembangkan bahan ajar yang tepat. Jawabannya ada dalam rekaman video di bawah ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa internet sendiri bukan lagi barang langka bagi generasi masa kini. Bahkan internet menjadi makanan sehari-hari mereka. Perkembangan sekarang ke era digital, internet di gadget sudah gampang banget, jadi bukan suatu hal yang mewah lagi. Seiring berjalannya waktu, kemajuan teknologi dan kemudahan melakukan berbagai aktivitas berisiko menjauhkan anak dari nilai-nilai luhur di masyarakat. 

Banyak kasus yang terjadi pada anak-anak yang akrab melakukan aksi bullying (kekerasan kepada orang lain yang sebaya), menjadi individualis, dan kurang bisa bersosialisasi di masyarakat. Belum lagi mudahnya mengakses informasi membuat anak-anak lebih dini mengenal tentang seksualitas. Anak-anak di pedesaan maupun di perkotaan sama-sama terkepung perkembangan zaman. Jika tidak dibentengi ini akan sangat berbahaya bagi perkembangan diri mereka. Kami meramunya dalam kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa yang disingkat LDKS.


Labschool sebagai lembaga pendidikan dituntut mampu menyelaraskan antara perubahan zaman yang ditandai dengan kecanggihan teknologi dengan nilai-nilai budi pekerti. Dengan begitu, maka sekolah bisa menjadi benteng moral bagi anak-anak sehingga mereka dapat tumbuh beriringan dengan teknologi dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif. 

Tak heran jika pemerintah mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter yang harus dijalankan setiap institusi pendidikan. Hal ini dilakukan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa/karsa, olah pikir, dan olah raga dengan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Penguatan Pendidikan Karakter bertujuan untuk membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi penerus guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

dok.twibbon MPLS
dok.twibbon MPLS
Namun jauh sebelum Peraturan Presiden (perpres) dikeluarkan, banyak sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran budi pekerti untuk menunjang pendidikan karakter pada siswanya. Banyak instansi pendidikan yang hadir dengan membawa visi dan misi yang mengarah pada penguatan karakter, baik di sekolah umum, sekolah berbasis agama, maupun lainnya. Masing-masing sekolah pun memiliki gaya tersendiri dalam mewujudkan visi dan misi yang mengarah pada pengembangan karakter. Sekolah tentu ingin melahirkan anak-anak berkualitas yang berkarakter baik. 

Pendidikan memang harus mampu menghadapi tantangan Zaman, karena itu peran sekolah dalam membina karakter anak-anak menjadi sangat penting. Pengetahuan, keterampilan, dan moralitas yang tinggi menjadi pondasi yang kuat bagi setiap anak dalam menjalani kehidupannya. Dengan pendampingan dan pendidikan yang tepat maka mereka akan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan zamannya.

twibbon-5-5f183ef2d541df52db09e5b2.png
twibbon-5-5f183ef2d541df52db09e5b2.png
Bagaimana tantangan labschool ke depan? Nanti akan saya tuliskan dalam artikel tersendiri. Bersambung...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN