Mohon tunggu...
Aan Widhi Atma
Aan Widhi Atma Mohon Tunggu... Pegawai Negeri Sipil -

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Tantangan Melampaui Prestasi Reklamasi: “dari Lahan Menuju Mental”

5 Maret 2016   16:51 Diperbarui: 5 Maret 2016   17:07 127
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Reklamasi merupakan kewajiban perusahaan tambang untuk mengembalikan fungsi lahan yang telah berubah. Dikarenakan suatu kewajiban maka keberhasilannya bukanlah sebuah prestasi yang berlebihan untuk dirayakan. Artinya, ketika hal tersebut sampai tidak terealisasi, kata Bang Haji Rhoma, Terlalu! Ini dikategorikan melanggar aturan, karena perjanjian awal ketika membuka lahan pertambangan adalah sanggup menyelesaikan proses reklamasi.  Ibarat seorang anak wajib merawat orang tuanya yang telah lanjut usia. Bukan sebuah kebanggaan, melainkan suatu kewajiban karena perintah Yang Maha Kuasa untuk berbakti kepada keduanya. Jika tak ingin merawat orang tua maka tak usah banyak impian bisa masuk surga, jika tak mampu mereklamasi maka tak usahlah membuka usaha pertambangan, demikian kira-kira.

Dalam tulisan saya sebelumnya (Newmont 2038: Tantangan “Reklamasi Mental”) memaparkan beberapa bukti nyata dampak pergeseran mental masyarakat lingkar tambang yang mengakibatkan besarnya tingkat kebergantungan terhadap perusahaan tambang itu sendiri. Mental masyarakat yang tergerus jauh tertinggal dari kemajuan fisik bangunan dan materi yang diperoleh.

Membaca Rencana Strategi Pengembangan Masyarakat PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) tahun 2009-2013 terlihat kokoh, memukau dan luar biasa. Namun berkaca dari kejadian kahar di tahun 2014 lalu, seakan meluluhlantakkan pondasi CSR tersebut. Ya, bahasa positifnya, kerangka pilar program TSP (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) masih harus terus disempurnakan.

Terkadang CSR masih dianggap sebagai kegiatan 'kosmetik' belaka yang mana kinerja pengelolaan CSR hanya dilihat dari serapan anggaran, bukan kemandirian masyarakat. Ujung-ujungnya, banyak program yang sifatnya jangka pendek, tak berkelanjutan alias berhenti di tengah jalan. Tidak hanya CSR, program bantuan pemerintah pusat pun tidak jauh berbeda. Ambil contoh, bantuan perahu motor yang diberikan kepada nelayan, setelah dievaluasi ternyata tidak mampu menambah hasil tangkapan ikan mereka. Bantuan handtractor yang tiap tahun diperebutkan petani setelah dievaluasi ternyata tidak mampu meningkatkan hasil pertanian secara signifikan. Ibaratnya, mereka hanya berganti perahu dan traktor saja tetapi tidak mengubah penghasilan. Anehnya, model pemberdayaan seperti inilah yang sedang laris di pasaran.

Disisi lain memang tak bisa dipungkiri, kehadiran tambang sedikit banyak menggeser mundur mental masyarakat. Sederhananya, ketika ada orang yang belum pernah seumur hidupnya mendapat penghasilan di atas Rp. 1 juta per bulannya, tiba-tiba dapat gaji Rp. 10 juta  tiap bulannya maka kemungkinannya ada dua hal yang terjadi, menggunakannya agar lebih produktif atau menghabiskannya dengan konsumtif. Nah, mental konsumtif itu yang harus dibenahi.

Ketika seluruh fasilitas pendukung telah diberikan kepada penduduk lingkar tambang secara cuma-cuma seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian, pariwisata dan sosial budaya tetapi masih saja meminta untuk diberi dan cenderung menjadi manja berarti ada mental kemandirian yang butuh segera diperbaiki.

Dari Lahan Menuju Mental

Mengutip bahasa sahabat saya Muhammad Sulhan yang juga alumni Newmont Bootcamp 5 bahwa ketika berinteraksi dengan alam, Newmont nyaris sempurna dan dipastikan tidak punya celah sedikitpun namun ketika berhubungan dengan manusia yang penuh dengan dinamikanya Newmont masih terus belajar agar bisa berjalan beriringan.           Ya, dimanapun itu, ketika objeknya adalah manusia maka butuh proses yang cukup panjang untuk bisa sehati dan saling memahami.

Jika mereklamasi lahan tambang adalah prestasi yang sudah biasa bagi Newmont, toh Sang Kakak di Minahasa Raya juga sudah membuktikannya maka sudah saatnya melampaui prestasi yang biasa tersebut yakni dengan membenahi mental penduduk lingkar tambang.

Mengapa mental yang menjadi prioritas utama? Karena saat ini, bisa dikatakan Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis mental. Segala macam permasalahan di bidang hukum, ekonomi, sosial, dan budaya disebabkan karena keroposnya mental dan kepribadian bangsa Indonesia.

Lantas, dari mana memulainya dan bagaimana membenahinya? Izinkan saya berbagi tulisan Richa Miskiyya di kompasiana edisi 7 Agustus 2015 tentang inspirasi uniknya dalam memulai membenahi mental.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun