Mohon tunggu...
Wawan Rhee
Wawan Rhee Mohon Tunggu... Founder Gardapati Link

Berbagi Celoteh

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Start-up Berguguran, Saatnya Move On

24 Juli 2020   10:27 Diperbarui: 27 Juli 2020   05:37 1416 24 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Start-up Berguguran, Saatnya Move On
Bisnis digital yang memiliki fundamental kuat, akan berhasil  melawati krisis pandemi Covid-19 (sumber : Pixabay)

Gelombang pandemi Covid-19 tidak hanya menggulung industri yang lebih dulu existing. Perusahan rintisan (start-up) juga ikut terimbas. Apalagi, start-up yang core bisnisnya terkait erat dengan layanan pariwisata, perjalanan termasuk transportasi. Dalam situasi sekarang, start-up harus segera "move on" agar tetap bertahan.

Perusahaan digital Airbnb asal San Francisco, California AS ini mendapat tekan berat. Valuasinya yang diperkirakan puluhan miliar dolar dikabarkan ambyar. Bahkan, perusahaan yang didirikan Brian Chesky dan rekannya Joe Gebbia baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap seperempat karyawannya.

Sejak bergulirnya era disruption, jauh sebelum amuk corona, Airbnb merupakan start-up kelas wahid. Perusahaan ini menggerogoti bisnis perhotelan karena menyewakan penginapan low cost dan bertebaran di seantero dunia.

Tak hanya Airbnb, Grab juga melakukan pemangkasan terhadap 360 karyawannya di Asia Tenggara. Termasuk di tanah air, perusahan karya anak bangsa, Gojek mengikuti langkah kompetitornya itu dengan memberhentikan 430 karyawan.

Akibat penerapan social distancing, Gojek juga terpaksa menghentikan GoLife meliputi layanan GoMassage dan GoClean, serta GoFood Festival yang merupakan jaringan pujasera GoFood di sejumlah lokasi.

Keadaan semakin diperparah dengan terbitnya serangkaian regulasi yang membuatnya semakin tertatif. Sebut saja kebijakan pembatasan sosial.

Masyarakat dihimbau untuk work from home (WFH). Itu berdampak pada permintaan layanan berbagi tumpangan (ride hailing) anjlok 80%. Termasuk, lesunya sektor pariwisata yang berdampak pada layanan penerbangan dan perhotelan yang menjadi domain Airbnb, Traveloka dan sejenisnya.

Karena tergerusnya income dengan menurunnya daya beli, mau tidak mau, dilakukan upaya efisiensi demi menjaga stabilitas keuangan. Efisiensi yang turut berimbas pada program promo, special price, termasuk cashback yang selalu menjadi daya tarik perusahaan digital.

Kebijakan "bakar uang" yang selama ini masih dijalankan sejumlah perusahaan digital mulai tertahan. Dilansir dari katadata, salah satu upaya efisiensi yang telah dilakukan start-up adalah memangkas gaji karyawan, khususnya level manajemen.

Gojek memangkas gaji setahun co-CEO dan manajemen senior sebesar 25%. Selain itu, Gojek akan mengalihkan anggaran kenaikan gaji tahunan seluruh karyawan untuk dana bantuan tersebut. Sedangkan Grab memangkas gaji para petingginya sebesar 20%.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN