Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... Administrasi - soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Foodie

Nasi Goreng Arang Yogyakarta, Pilihan Nikmat Berbuka Puasa

18 Juli 2013   12:53 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:22 75
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dari beberapa penjual yang menyajikan nasi goreng di Kota Yogyakarta dan sekitarnya yang pernah saya coba, hanya sedikit yang meninggalkan jejak kenikmatan di lidah. Salah satunya adalah nasi goreng yang terletak di gang Megatruh, di sisi selatan Gading Mas 2. Nasi goreng ini pun kemudian dikenal sebagai nasi goreng arang Gading Mas karena sampai saat ini sang penjual tak memberikan nama khusus untuk lapak dagangannya tersebut.

Tak terlalu sulit menemukan tempat ini. Gang Megatruh dan Gading Mas 2 berada di Jalan Kaliurang Km.5 atau hanya 500 meter dari kampus Universitas Gadjah Mada. Dari Gading Mas 2, warung nasi goreng ini berada 10 meter di sebelah selatannya. Atau jika dari Gudeg Yu Djum yang berada di gang Srikaton, nasi goreng ini berada 30 meter di sebelah utaranya.

Sepintas tak ada yang istimewa dari nasi goreng ini. Menempati sebuah warung kecil, nasi goreng disiapkan dan dimasak di sebuah gerobak kayu. Dua sampai tiga potong ayam matang tergantung di atasnya. Wadah kaca berisikan mie kuning dan bihun menandakan kalau tempat ini juga menyajikan bihun goreng dan bakmie jawa.

Namun nasi goreng adalah yang paling banyak dipesan pembeli di tempat ini. Bukan saja karena rasanya yang gurih dan porsinya yang lumayan banyak, tapi yang istimewa adalah memasaknya yang masih menggunakan tungku dan arang. Tak banyak nasi goreng dan bakmie Jawa yang masih mempertahankan cara memasak menggunakan arang seperti ini.

1374126151523525190
1374126151523525190

Pertunjukkan memasak nasi goreng menggunakan tungku dan arang. Kembang api yang dihasilkan percikan  dan pijar bara arang menjadi bagian menarik dari nasi goren di tempat ini.

Oleh karena itu yang menarik juga di tempat ini adalah sebelum makan pembeli akan mendapatkan tontonan cara memasak tradisional yang mengesankan. Penjual awalnya mengipasi tungku. Ketika sudah mulai memasak tugas mengipasi diserahkan kepada sebuah kipas angin kecil. Arang pun membara, pijarnya yang merah membuat tungku seakan berpendar. Panas arangnya sampai terasa ke tempat duduk pembeli. Yang sangat menarik adalah ketika bara arang menghasilkan “kembang api” yang terbang dari dalam tungku. Proses memasak pun menjadi seperti sebuah pertunjukkan. Tak jarang “kembang api” tersebut begitu besar hingga membuat sang penjual agak menjauh sejenak dari wajan penggorengannya.

Setiap harinya nasi goreng arang buka mulai pukul 18.00 hingga 24.00 dan selama bulan puasa biasanya akan ramai selepas shalat tarawih. Seperti ketika saya 2 hari lalu datang ke sana jelang pukul 9 malam, banyak orang sudah mengantri.

Agak berbeda dengan warung nasi goreng lainnya, pembeli di tempat ini biasanya lebih sering membeli untuk dibungkus daripada makan di tempat. Warungnya yang kecil, mungkin hanya bisa memuat 8 orang, ditambah letaknya di tepi jalan yang ramai tanpa tempat parkir yang cukup boleh jadi menjadi alasan mengapa banyak pembeli lebih suka membungkusnya.

1374126281670195004
1374126281670195004

Banyak yang membeli nasi goreng atau bakmi Jawa di tempat ini untuk dibungkus dan dibawa pulang.  Saya kerap membelinya dengan memakai wadah sendiri.

Satu porsi nasi goreng arang disajikan bersama potongan acar mentimun. Taburan bawang merah goreng dan daun seledri menjadi pelengkap. Sayang di sini tidak menyediakan kerupuk. Telur orak-arik dan beberapa potong daging ayam berpadu pas dengan butiran nasinya yang tidak terlalu besar. Proses memasaknya yang menggunakan arang membuat panasnya lebih merata serta tahan lama. Aroma seperti terbakar juga membuat nasi goreng ini makin menggugah selera.

Satu lagi yang membedakan nasi goreng arang ini dengan jualan sejenisnya adalah penggunaan kuah kaldu ayam. Ketika menggoreng, sedikit kaldu ayam ditambahkan sehingga nasi goreng yang dihasilkan sedikit lengket namun tidak basah. Bagi yang tidak suka silakan memesan tanpa tambahan kaldu. Jika menghendaki tambahan sayap atau kepala ayam sebagai campurannya  kita bisa memintanya secara khusus, tentu dengan harga yang sedikit lebih mahal.

13741264562120388807
13741264562120388807

Nasi goreng arang gading mas, Yogyakarta. Dimasak menggunakan tambahan kuah kaldu ayam dan digoreng di atas pijar bara arang menjadikannya istimewa.

Soal rasa, seperti yang saya bilang di awal, nasi goreng arang ini cukup meninggalkan jejak di lidah. Perpaduan bumbunya yang pas, kaldu ayam serta panas dan aroma pembakaran dari arang menghasilkan sensasi nikmat yang kuat di lidah. Saya biasa memesannya tanpa saus dan tidak pedas sehingga rasa manisnya menjadi sedikit kuat karena kecapnya menjadi lebih dominan.

Tertarik untuk mencobanya sebagai menu berbuka?. Cukup dengan Rp. 9.000 kita sudah bisa menikmati seporsi nasi goreng arang ini ditambah pertunjukkan percikan kembang api bara arang yang menjalar ke sana-kemari.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun