Mohon tunggu...
Wardah Hamidah
Wardah Hamidah Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Pendidikan Sosiologi FIS UNJ

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi FIS UNJ

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pemuda dan Kehidupan Virtual

9 Desember 2021   11:40 Diperbarui: 9 Desember 2021   11:49 90 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Sebagai makhluk yang terlahir dibekali dengan akal, manusia dapat berpikir untuk melakukan berbagai cara dalam menyelesaikan masalahnya. Karena itulah teknologi bisa berkembang. Berkembangnya teknologi adalah salah satu cara manusia untuk menyelesaikan masalahnya dan hidup lebih baik lagi, dengan menggunakan akal yang dimiliki tersebut teknologi dapat berkembang.

Semakin berkembang dan majunya teknologi di dalam kehidupan ini merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari, karena majunya teknologi sejalan dengan majunya ilmu pengetahuan. Banyaknya manfaat positif yang diberikan dari setiap inovasi-inovasi teknologi bagi kehidupan manusia, memudahkan segala pekerjaan manusia. Terutama di era globalisasi seperti sekarang, dimana segalanya serba daring dan penggunaan handphone sudah seperti hal yang wajib bagi semua orang, termasuk para pemuda-pemudi yang mana tak bisa lepas dari segala kehidupan virtualnya.

Pada nyatanya, kemajuan teknologi tak hanya membawakan dampak positif seperti kemudahan bagi manusia dalam menjalani hidupnya. Namun juga membawakan dampak negatif seperti ketergantungan terhadap penggunaannya. Membayangkan sehari saja tanpa adanya jaringan internet dan gadget, rasanya akan lebih sulit dalam menjalani kehidupan karena sudah terbiasa melakukan apa saja menggunakan internet dan gadget. Di saat segala kemudahan itu muncul, muncul lah rasa kesepian dan keterasingan, hal tersebut dapat berbentuk lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan, dan juga silaturahmi. Penemuan teknologi seperti televisi, komputer, internet, laptop, gawai dan lainnya dapat membuat seseorang terlena dengan dunia yang tercipta melalui layar tersebut.

Di era serba digital seperti sekarang ini, melihat banyak orang yang sibuk menatap layar gawainya bukanlah pemandangan yang asing lagi. Hal tersebut merupakan hal yang sudah biasa. Penggunaan media sosial yang semakin marak terutama oleh para pemuda sudah seperti bagian dari hidupnya. Bangun tidur diawali dengan mengecek layar gawai sampai akhirnya tertidur kembali ditemani oleh gawai. Pemuda dan media sosial tidak bisa dipisahkan. Melalui media sosial, pemuda dapat melakukan hal-hal yang kreatif melalui konten-konten yang diunggahnya. Dan semakin banyak yang tertarik terhadap konten tersebut maka hal tersebut dapat dijadikan sebagai ladang uang. Sehingga banyak orang yang berlomba-lomba membuat konten yang menarik untuk diunggah.

Namun, hadirnya media sosial juga bisa menghilangkan rasa kesepian pada seseorang di kehidupan nyatanya. Media sosial menjadi pelarian bagi beberapa orang dan menjadikannya sebagai kehidupan virtual. Hadirnya globalisasi menjadi alasan juga mengapa seseorang lebih suka menghabiskan banyak waktu bermain media sosial. Melalui media sosial, ia bisa melakukan interaksi dan mendapatkan banyak teman baru di dalamnya.

Kehidupan virtual ini menjadi semakin nyaman, membuat seseorang lebih betah hidup di dalamnya. Apalagi jika sudah terjerumus ke dalam dunia rolaplayer, yaitu merupakan permainan peran dimana seseorang akan berprilaku seolah-olah seorang idol yang ia perankan.

Roleplyer ini sangat marak di twitter, biasanya seseorang akan berperan sebagai karakter anime dan idol asal Korea. Biasanya, hal tersebut dilakukan oleh para penggemar yang berusia remaja. Mereka akan membuat sebuah akun Twitter dan melakukan kegiatan seperti update status tentang karakter atau tokoh yang diperankannya di timeline, sudah seperti selayaknya sedang memainkan peran dari karakter atau tokoh tersebut.

Menurut Achsa & Affandi (2015:2), keunikan dari  roleplayer  adalah  bermain  dengan  imajinasi. Dengan bermain dan berperan selayaknya karakter atau tokoh yang diperankannya tersebut, membuat para pemainnya mendapatkan pengalaman emosi kedekatan dengan karakter atau tokoh tersebut. Permainan ini juga disebut sebai socio-drama, yang mana merupakan dramatisasi dari segala eksplorasi yang muncul dari interaksi dengan orang lain dalam lingkungan sosialnya.  Dengan bermain  peran  selayak  tokoh  idola  di  kehidupan sehari-hari bersama para roleplayer  lainnya  dapat mengantarkan ekspresi kekaguman mereka sehingga tampak begitu menarik (Safitri, 2014).

Perilaku pemuda di dalam kehidupan virtualnya ini dapat dikaji melalui teori dramaturgi yang dikemukakan oleh Erving Goffman. Menurut Goffman (1959), dramaturgi adalah sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia. Situasi dramatik yang seolah-olah terjadi di atas panggung sebagai ilustrasi untuk menggambarkan individu-individu dan interaksi yang dilakukan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Melati (8: 2016) menjelaskan bahwa dramaturgi adalah sebuah teori yang dapat menginterpretasikan kehidupan sehari-hari dari manusia. Disini manusia diibaratkan sedang memainkan sebuah pertunjukan di atas panggung. Dan di dalam panggung tersebut, terdiri dari panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Di panggung depan terdapat setting dan personal front, yang kemudian dapat dibagi lagi menjadi  penampilan (appearance) dan gaya (manner).

Sama halnya seperti yang dilakukan kebanyakan seseorang dalam bermedia sosial, dimana mereka menunjukan sisi yang berbeda saat berada di depan layar yang diibaratkan sebagai panggung depan dan saat berada di belakang layar yaitu kehidupan pada kenyataannya atau diibaratkan sebagai panggung belakang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan