Mohon tunggu...
Kris Wantoro
Kris Wantoro Mohon Tunggu... Pengamat dan komentator pendidikan

Banyak membaca, makin sadar: banyak tidak tahu. Belajar menulis, agar ketidaktahuan kian terkikis.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menyesal Membaca TnT 8

15 Februari 2020   14:37 Diperbarui: 15 Februari 2020   14:39 43 2 0 Mohon Tunggu...
Menyesal Membaca TnT 8
@kraiswan

Sudah seri kedelapan, baru 85 negara, dan (tante) Trinity bertekad pensiun menjadi penulis. Kekmana dengan awak yang tak satu pun draf kelar, pergerakannya selalu kantor-rumah-kantor.

Boro-boro traveling, mau beli buku tentang traveling saja seret di kantong.

Pertama, saya peminat biografi, novel atau filosofi pendidikan. Kalau pun membeli buku selain kategori tersebut, bisa dipastikan dalam musim bazar atau cuci gudang.

Kedua, meski punya sedikit roh petualang, namun saya sadar diri, tak memiliki kapasitas untuk traveling. Jadi, sia-sia saja saya membaca TnT.

Atau...

Traveling lintas negara berarti belajar budaya. Aku setuju. Pak Daniyar, pemilik guest house tempat Trinity menginap berpenampilan khas. Janggut panjang, berkopiah, memakai baju gamis dan celananya cingkrang. Ketika Trinity dan temannya hendak berkenalan (menyodorkan tangan), dia menjelaskan "I'm sorry. I can't touch woman." Baik sekali bapak itu mau memberi penjelasan kepada lawan bicara sehingga tidak membuat tangan orang menggantung di udara. Sedangkan hal demikian jarang (atau bahkan tidak pernah) dijelaskan di Indonesia. Mereka mengira, orang sudah tahu budaya "bukan muhrim". Padahal belum tentu.

Anggapan umum bahwa Iran berbahaya dipatahkan oleh Trinity. Saat berjalan di pasar, dia sering dipanggil-panggil orang. Dikiranya tukang jualan atau tourist scam (penipu turis). Meski sudah menginjak puluhan negara, firasat Trinity tetap berfungsi di tempat asing, apalagi di pasar. Ternyata ada seorang bapak yang meminta izin agar ia dan anak perempuannya berfoto dengan Trinity. Macam artis dia. Mungkin seperti WNA kalau di Indonesia. (Pelajaran moral: manusia selalu bangga jika bisa berfoto dengan manusia dari belahan bumi lain) Padahal saat itu ada WNA lain di Iran, tapi kebanyakan kebangsaan Eropa. Orang Asia memang beda... Banyak orang lokal yang ditemuinya mengajak mampir ke rumahnya, atau sekedar menawarkan makanan kecil yang mereka bawa.

Kalau ada turis sibuk selfie, warga Iran menawarkan untuk mengambilkan foto. Kalau ada yang nyasar mereka membantu menunjukkan jalan. Sopir dan tukang jualan yang nampak garang muka preman tidak menipu, karena harganya sesuai.

Pak Mousavi, resepsionis hotel di Teheran adalah pemenang trofi kebaikan versi Trinity. Semua urusan booking beres di tangannya. Bahkan sampai urusan penjemputan dari terminal bus ke hotel, memberi tips and trik traveling di Iran. Semua gratis-tis. Di negara yang dikenal dengan citra negatif, masih ada loh orang yang memberikan layanan gratis. Jadi, di mana seramnya Iran?

Demikian. Sepenggal kisah Trinity--yang tidak lengkap saya ikuti sejak awal---yang berhasil membukakan (minimal untuk saya pribadi), bahwa dengan traveling kita bisa belajar banyak hal baru.

Hikmah serupa saya alami saat menjadi relawan pengajar di Lombok pada tahun 2018 lalu (yang kisahnya tak sempat, tak niat saya publikasikan di blog, boro-boro mau mendaftar ke penerbit). Motivasi utama saya menjadi relawan adalah menyapa tantangan. Hidup di luar Jawa. Kedua, daripada do nothing akibat jobless. Ketiga, ingin mencicipi alam Lombok (bonus).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN