Keamanan

Teroris di Bantai Habis, Koruptor tidak Habis-habis

16 Mei 2018   22:55 Diperbarui: 16 Mei 2018   23:11 281 0 1
Teroris di Bantai Habis, Koruptor tidak Habis-habis
agussalim0.blogspot.com

Aksi terorisme kembali terjadi di Indonesia. Beberapa hari yang lalu aksi teror bom bunuh diri terjadi di Surabaya. Terjadi di tiga Gereja di Surabaya, teror tersebut sempat membuat masyarakat panik. Ketiga gereja tersebut adalah Gereja Santa Maria, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta pusat Surabaya. 

Aksi tersebut berlangsung pada hari 13 Mei 2018 tepat pada Minggu Kebaktian umat Kristiani dan membuat ratusan jemaat di tiga Gereja tersebut panik. Kondisi Surabaya pada hari itu sempat tidak kondusif dan masyarakat mengalami ketakutan karena takut terjadi aksi teror susulan di daerah yang tidak diketahui letak pastinya. 

Benar, malam harinya kembali terjadi aksi serupa di daerah Rusun Wonocolo Sidoarjo. Hal tersebut mengakibatkan tak hanya masyarakat Surabaya, namun di daerah sekitarnya, masyarakat juga mengalami kepanikan. Disela ketakutan masyarakat tersebut memicu sebuah pertanyaan, "apa motif dari pengeboman tersebut?"

Agaknya untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu ditelusuri terlebih dahulu motif-motif dari aksi serupa yang sebelumnya. Berkaca dari peristiwa bom Bali 1-2, aksi serupa diduga memiliki motif agama. Yakni dari golongan Islam yang mengincar atau meneror golongan non-Islam. 

Ada juga motif yang beredar adalah untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kenaikan harga atau pemilu, karena aksi-aksi teror sebelumnya kebanyakan terjadi menjelang bulan puasa atau menjelang pemilu. Namun motif yang cukup kuat disini terletak pada alasan yang pertama, yaitu "Agama". Hal ini disebabkan oleh media massa yang beredar lebih cenderung mencurigai Agama sebagai motif terkuat dari aksi seperti ini dan membuat opini masyarakat tergiring kearah sana.

Namun, tidakkah kita pernah berfikir motif-motif lain dibalik itu semua, ataukah kenapa disetiap aksi teror pemerintah dengan beringas membasmi pelaku-pelakunya? Mari kita telisik dari sudut pandang opini masyarakat yang berkembang mengenai aksi teror dengan motif Agama.

Mungkin ada benarnya jika pelaku-pelaku teror tersebut beralasan Agama sebagai dasar aksi mereka. Dengan dalil-dalil yang mereka peroleh mengenai darah orang non muslim itu halal dan lainnya, mereka melabelkan aksi mereka dengan label "Halal". Jumlah populasi non muslim di Indonesia tidak sebanding dengan populasi Muslimnya, sehingga saya berkesimpulan aksi tersebut tidak akan memakan habis separuh warga negara Indonesia. 

Namun tetap saja, menghilangkan nyawa orang dengan sengaja merupakan sebuah tindakan yang melanggar hukum negara sehingga mereka memang pantas untuk di hukum. Tak hanya itu, aksi seperti itu juga bisa memecah belah kerukunan umat beragama yang ada di Indonesia. Yang non muslim menuduh Islam itu pembunuh, sedangkan yang muslim kecewa dengan oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam sebagai senjata, sehingga antara umat muslim sendiri mengalami kesenjangan. Sehingga tidak diragukan lagi betapa beringasnya pemerintah membasmi habis aksi terorisme sampai ke akar-akarnya.

Lalu, bagaimana dengan koruptor yang memakan uang rakyatnya untuk perutnya? Bagi saya koruptor adalah aksi teror yang paling horor. Mereka mengambil uang-uang yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraaan masyarakat dan malah digunakan untuk memerbaiki rumah barunya. Koruptor memang tidak langsung membunuh masyarakat dalam satu Agama atau satu kota sekaligus. Tapi, koruptor bisa membunuh seluruh rakyat Indonesia secara perlahan, dan itu lebih sadis. 

Masyarakat harus tersiksa dengan kelaparan, harus mengalami kesulitan ketika berobat, harus mengalami kebodohan bertahun-tahun, atau harus mengalami kecelakaan dijalan akibat jalan yang rusak. Jika teroris bisa membunuh satu orang dengan satu ledakan, koruptor bisa membunuh jutaan orang dengan jutaan uang yang ditelannya. Kesadisan koruptor itulah yang seharusnya memicu pemerintah untuk lebih greget membasminya, bukan malah ikut campur didalamnya. Bukan malah sangat agresif kepada teroris dan melalaikan koruptor yang tengah tersenyum manis.

Sebab, bukan tidak mungkin aksi pengeboman di Surabaya atau di kota-kota yang lain juga berawal dari kemiskinan pelakunya, atau berawal dari rendahnya tingkat pendidikan, sehingga para pelaku tersebut mengalami krisis pemikiran sehingga memilih untuk melakukan aksi seperti itu. Kemiskinan atau kurangnya fasilitas pendidikan jika ditarik lurus keatas akan menemukan satu titik yang tidak manusiawi, yakni korupsi. Sehingga aksi teror hanyalah menjadi aksi teror paling rendah, dan teror yang paling tinggi adalah para koruptor. Dan saya membenarkan sebuah istilah "hukum Indonesia itu tajam di bawah, namun sangat tumpul di atas".