Mohon tunggu...
Wahyu Krido Utomo
Wahyu Krido Utomo Mohon Tunggu... Pembelajar

Keliling Indonesia untuk bekerja, sementara bermukim di Surabaya

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Filosofi Bubur Ayam

14 Juli 2020   08:46 Diperbarui: 14 Juli 2020   08:35 63 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Filosofi Bubur Ayam
Dokumentasi pribadi, makan bubur di meja kerja sembari memulai aktifitas sehari-hari

Tenang, tulisan ini bukan mau ikutan debat masalah diaduk atau tidak, apalagi diaduk dengan gaya apa dan hubungannya dengan kebatinan penikmat bubur seantero negri. Tulisan ini ingin berhenti sejenak, disela-sela suapan pertama dan kedua, untuk berfikir bebas tentang bubur ayam dan kehidupan manusia pada umumnya.

Kalau lagi kepingin, bisa hampir setiap weekday saya sarapan Bubur Ayam. Kebetulan ada vendor langganan di Surabaya sini yang secara taste bubur bisa disandingkan dengan bubur-bubur terenak di Indonesia. Sayang konsistensinya dalam membuat sambal mencederai nilainya yang tadinya sudah hampir sempurna.

Bubur Ayam itu sederhana. Tak banyak variasi bisa mengubah hasil akhir dari semangkok bubur ayam. Mostly  hanya Bubur dan Ayam, condiment lain berpeluang sangat kecil dalam menentukan kesimpulan akhir penikmat Bubur.

Ya kadang, di Bubur Ayam yang memisahkan komponen kuah maupun bumbu dari Bubur itu sendiri seperti layaknya Bubur Mamang-mamang di Bekasi tempat saya tinggal dulu, kaldu berwarna kuning muda itu biasanya jadi penentu juga, walau jarang jadi faktor penentu utama.

Faktor Bubur, dari Bubur Ayam, tetap menurut saya jadi hal yang paling pertama dan utama. Bagaimana kekentalannya, bagaimana konsistensi, apakah ada gumpalan-gumpalan bubur secara abstrak atau secara umum homogen. Bagaimana rasanya, apakah dibiarkan plain saja atau sudah terbentuk rasa yang secara khusus diinfused di dalamnya.

Belakangan di Surabaya, saya lebih sering mendapati model bubur yang Buburnya itu sendiri sudah dihiasi dengan rasa yang cukup untuk dia berdiri sendiri. Dalam satu suap awal sebuah Bubur sudah cukup memberikan kesan apakah Bubur ini dibikin dengan baik dan penuh kasih sayang atau sebaliknya.

Begitu pula faktor Ayam dalam Bubur Ayam pun sederhana. Dimacam-macamkan tetap ayam juga. Berbagai ukuran dan potongan. Rasa ayam jadi yang utama, kadang faktor bentuk juga jadi pertimbangan.

Suwiran yang tipis dan tebal, atau malah dipotong dadu atau dicincang, semua muaranya sama, memberikan rasa lagi on top of bubur yang kadang sudah punya rasa. Sekedar make sure bahwa Bubur tidak sendirian memberikan rasa, ada Ayam juga yang siap berjuang di baris terdepan.

Para ikutan alias entourage Geng Bubur Ayam seperti daun bawang seledri, bawang goreng, toncai, kerupuk, harus ikhlas memerankan posisi pendukung. Jarang memang ada Pecinta Bubur yang lantas menambatkan pilihan hati kepada Bubur ayam karena daun bawangnya yang sangat memorable, atau krupuknya yang crunchy beyond belief.

Peran pendukung memang sudah sadar sedari lahir bahwa fungsi utamanya adalah memantapkan yang sudah oke, bukan memutarbalikkan hasil dan menjadi pahlawan kesiangan. Nasibnya bergantung pada Bubur dan Ayamnya di garis terdepan.

Saya ingin mengulas toncai secara khusus. Jarang memang bubur ayam yang secara default menyediakan toncai. Tapi jika ada, saya suka. Senang. Bahagia. Aneh memang, semacam asinan yang rasanya mungkin sekedar asin dan sedikit memberi tekstur bisa membuat bahagia. JIka ada bubur yang biasa saja, tapi condimentnya lengkap hingga ke toncai-toncainya ada, I'm more than happy.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN