Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Kompasianer

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Mie Kopyok Khas Semarang yang Segar dan Gurih

4 Januari 2019   16:33 Diperbarui: 6 Januari 2019   11:34 1037 33 23
Mie Kopyok Khas Semarang yang Segar dan Gurih
Sepiring Mie Kopyok khas Semarang. Lezat loh. (Dokpri).

Ada banyak makanan khas kota Semarang. Lumpia, bandeng presto, roti ganjel rel yang klasik, wingko, tahu bakso, tahu gimbal, soto Semarang, nasi ayam Semarang yang mirip nasi liwetnya Solo, dan masih banyak lagi. Semuanya layak dicoba. Juga mie kopyok yang hanya ada di Semarang. Seperti apa mie kopyok itu?

Hari Jumat, siang hari menjelang sore. Saya sudah di rumah. Anak bungsu yang biasa saya panggil adik juga sudah pulang sekolah. Tiba-tiba ada suara teng...teng...teng dari piring yang dipukul sendok di depan rumah. Aha! Adik langsung berteriak, "Bun, beli ya bun... aku mau."

Waktu jeda antara makan siang dan makan malam. Pasti ia sudah agak lapar, apalagi ia masih dalam masa pertumbuhan. Masih suka lapar. Hahaha...

Ya, jam segitu waktunya penjual mie kopyok lewat. Setelah saya izinkan, adik langsung berteriak, "Pak, beli!" Dan bapak penjual mie kopyok pun berhenti.

Saya menyuruh adik untuk memakai piring sendiri. Biar bapaknya tidak terlalu lama menunggu, karena piringnya dipinjam.

Mie kopyok, adalah makanan khas kota Semarang. Sudah lama ada. Biasanya, dijajakan dengan memakai gerobak. Jika pada waktu dulu, gerobaknya di dorong, maka sekarang memakai sepeda motor untuk membawa barang dagangannya. Lebih meringankan. Dan bisa menjangkau tempat lebih luas. 

Makanan ini setara dengan bakso, tidak memberatkan seperti makan nasi. Bahkan tidak memakai bahan daging-dagingan. Bisa untuk para vegetarian nih. Berbahan dasar mie kuning. Isiannya adalah beberapa irisan lontong, mie kuning, taoge, tahu pong yang diiris tipis, dan toping daun seledri serta kerupuk gendar. Disiram kuah bening beraroma bawang putih.

Rasa mie kopyok ini asin gurih. Sedikit manis dari kecapnya. Sensasi aroma bawang putih terasa menguar, karena memakai bawang putih mentah. Rasanya segar. Apalagi jika yang suka pedas, maka sensasi pedas dari cabai rawit akan menambah selera.

Mengapa dinamakan mie kopyok? Apakah karena pada saat menyajikannya mie kuning dan taoge ditempatkan dalam suatu wadah seperti gayung yang berlobang. Kemudian agar matang merata, dikopyok terlebih dahulu? Ya. Mie dan taoge, beberapa kali dicelup ke dalam air panas sambil di kopyok. Kemudian setelah matang, disajikan dalam piring yang telah berisi irisan lontong, dan diberi irisan tahu pong. Disiram kuah bening beraroma bawang putih. Terakhir sentuhan kerupuk gendar, seledri dan kecap manis. Segar dan ringan, bukan?

Bapak penjual mie kopyok sudah langganan. Jadi sudah hapal dengan selera adik yang suka pedas. Ia berjualan sudah lama. Puluhan tahun. Ia memberi harga per porsinya sepuluh ribu rupiah.

Kalau di Semarang, banyak yang menjual loh. Biasanya dijajakan keliling kampung. Tetapi, ada juga di tempat kuliner, seperti di Jalan Menteri Supeno, Mie Kopyok Pak Dhuwur Jalan Tanjung dan beberapa spot kuliner di sekitar Semarang. Gampang jika ingin mencari mie kopyok ini. Karena makanan ini merupakan kuliner khas kota Semarang.

Nah, jika ke Semarang, cobalah mencicipi mie kopyok. Pasti nagih ingin mencicipnya kembali.

Salam, 
Wahyu Sapta.
Semarang, 4 Januari 2019.