Wahyu Sapta
Wahyu Sapta karyawan swasta

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Aku, Pemilik Hati yang Beku #3

10 September 2017   12:06 Diperbarui: 10 September 2017   14:35 714 18 10
Aku, Pemilik Hati yang Beku #3
Ilustrasi: pixabay.com

Sebelumnya:

Beberapa hari bersama bu Een, membuatku merasakan sedikit bahagia. Ada rasa takut kehilangan dia. Padahal ia bukan siapa-siapa. Aku semakin membenci tante Devi yang tak pernah baik padaku. Rasa benci ini membuncah saat aku teringat padanya. Juga ayah, yang tak berdaya di depan tante Devi. Aku sayang ayah, tapi ayah tak sayang padaku. Ayah lebih sayang pada tante Devi. Hatiku terasa kelu. Di tempat ini, aku merasa lebih nyaman karena ada bu Een, meski cemas, karena kemungkinan kecil bisa lolos dari tempat ini. Penjagaan si Bos begitu ketat. Dan sewaktu-waktu jiwaku bisa terancam.

***


"Sebenarnya kamu kelas berapa, nak?" tanya bu Een saat sedang memasak di dapur. 

"Kelas sepuluh, bu. Tetapi sekarang enggak lagi, karena Runi kabur dari rumah dan sekarang ada di sini." jawabku.

"Sayang sekali kalau harus putus sekolah. Kamu harus meneruskan sekolah kembali saat keluar dari tempat ini," katanya pelan.

"Yah, apa mau dikata, bu. Runi emosi pada saat itu. Ayah tak lagi peduli padaku." jawabku dengan suara lirih. Lalu aku menceritakan kisahku pada bu Een. Tentang ayah, tante Devi dan semuanya. Bu Een mendengarkan dengan seksama, walaupun sembari memasak. Tiba-tiba bu Een seperti memikirkan sesuatu, saat aku menyebutkan nama ayah.

"Ada apa, bu. Runi salah bicara, ya?"

"Oh, nggak papa, Runi. Ibu hanya teringat anak ibu. Seandainya anak ibu masih ada, tentu akan sebesar kamu, nak."

"Memang anak ibu kemana?"

"Anak ibu sudah meninggal. Tapi ah, sudahlah. Sudah berlalu. Yang penting sekarang, kita memikirkan bagaimana mencari jalan untuk bisa keluar dari tempat ini," bisik bu Een pelan sekali, takut terdengar oleh penjaga lain, yang kadang-kadang melintas juga di dapur. 

Aku terdiam. Rasanya sudah lama berada di tempat ini. Tetapi selama ada bu Een, aku merasa aman. Apalagi selama ini, aku masih memakai jelaga untuk menutupi wajahku. Juga kulit tangan dan kakiku agar terlihat jelek dan dekil. Bu Een selalu mengingatkan aku untuk tidak lupa memakai jelaga. "Bisa bahaya jika kamu lupa, nak," katanya. Ya, ya, aku berusaha untuk tidak lupa. Setiap habis mandi, bukannya memakai bedak agar terlihat cantik, tetapi memakai jelaga biar tak kelihatan wajah asliku.
***

Di rumah ini, masih sering aku mendengar suara tangisan beberapa anak perempuan dari ruang penyekapan. Aku sedih mendengarnya. Teringat saat pertama kali di tempat ini. Aku bertanya pada bu Een, sebenarnya tempat apakah ini. Tetapi bu Een menjawab, agar aku tak usah memikirkannya. Yang terpenting aku aman berada di dekatnya. Apalagi si Bos masih sering bertandang kemari, untuk membawa keluar anak perempuan yang tertipu sepertiku. Entah di bawa kemana.

Makanya aku dan bu Een harus tetap waspada.
Tiba-tiba terlintas wajah ayah. Kadang-kadang aku merasa sedih saat teringat ayah. Aku sangat menyayangi ayah. Sebenarnya aku tak ingin menyakiti hati ayah dengan kaburku dari rumah. Tetapi, hatiku telah beku karena kejamnya tante Devi. "Maafkan aku, ayah. Maafkan Runi. Ya Tuhan, semoga ayah selalu sehat dan baik-baik saja saat jauh dariku." kataku dalam hati.
***

"Runi, ibu ingin memberikan sesuatu untukmu. Ibu harap, suatu saat akan berguna untukmu." kata bu Een ketika baru saja selesai memasak. Kemudian bisa istirahat sejenak, untuk nanti melanjutkan pekerjaan membersihkan rumah.

"Apa ini, bu?"

"Kalung. Ini untukmu. Simpanlah. Jangan sampai hilang. Anggap saja ini pengganti ibu. Siapa tahu kita tidak bisa bertemu lagi."

"Ibu kok ngomongnya gitu, sih. Runi jadi sedih. Runi sayang ibu dan nggak mau kehilangan ibu. Lagian Runi nggak bisa menerima ini, bu. Ini pasti mahal. Ibu lebih membutuhkan. Terlalu berharga, bu."

"Sudahlah, Runi. Diterima. Karena kalung itu, dulu pemberian dari suami ibu. Sedangkan sekarang, suami ibu entah di mana. Anak ibu, sudah nggak ada. Ibu sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Ibu harap kamu mau menerimanya. Untuk kenang-kenangan," kata bu Een sambil memakaikan kalung itu ke leherku.

Akhirnya aku pasrah menerimanya. Meski tak enak hati. Terlalu berlebihan untuk menerima barang berharga ini. Apalagi kalung itu merupakan kenangan buat bu Een.

"Bu, jika kita merencanakan keluar dari tempat ini, tentu harus berdua. Aku tak mau sendiri. Ibu juga harus ada bersama Runi." bisikku pelan. 

"Ssst... tentu saja Runi. Semoga saja rencana yang telah ibu rancang berhasil ya, nak,"

"Amiin...."

Semenjak itulah, aku dan bu Een mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini. Tetapi tentu saja, secara rahasia, agar tidak ketahuan. 

Beberapa hari kemudian.

Seperti biasa, aku dan bu Een memasak untuk keperluan semua penghuni rumah ini. Ada empat penjaga, satu perempuan yang bertugas untuk mengajari bersolek kepada para anak perempuan yang berhasil disekap. Tiga orang lagi, pria bertubuh kekar sebagai petugas yang menjaga saat ada keributan. 

Aku sendiri jarang menemui mereka. Demi keamanan dan memperkecil kemungkinan mereka tahu jati diriku. Bu Een yang selalu menemui mereka untuk memberikan hasil masakan. Bu Een juga yang berbelanja untuk keperluan dapur. Tentu saja dengan pengawasan dan pengawalan ketat dari anak buah si Bos. Bu Een sulit untuk melarikan diri. Apalagi ada aku di tempat ini. Bu Een memperlakukan aku seperti anaknya sendiri, makanya ia tak memiliki keinginan melarikan diri, selama masih ada aku di tempat ini. Meskipun ia berpeluang untuk itu.

Sehabis mandi, seperti biasa, aku akan mengoleskan jelaga di wajah, kaki dan tangan. Ketika memandang wajahku di cermin, ada rasa enggan, untuk menutupi wajahku dengan jelaga. Mungkin sesekali, bolehlah aku merasakan wajahku tanpa jelaga untuk beberapa waktu. Tak lama, sebentar saja, pikirku. Hem, ada rasa nyaman dan terbebas dari beban. 

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari arah belakangku. Dari cermin aku melihat, dia si Bos! 

Ya Tuhan, lindungilah hambamu. Aku menutupi wajahku yang belum tertutup jelaga.

"Seruni, ternyata wajahmu cantik. Normal dan tidak dekil! Kau berbohong padaku. Ayo, ikut aku!" 

Bos menyeretku keluar rumah untuk dibawa ke mobilnya. Bu Een mendengar suara keributan langsung mencegah dengan menarikku dari pegangan Bos.

Terjadi tarik menarik memperebutkan aku. 

Ketika aku terlepas, bu Een segera berteriak, "Lari, Seruniii... larilah sejauh kamu mampu. Lari, nak! Lariiii....!" 

Bu Een berusaha menghadang si Bos, agar aku bisa lolos. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Para penjaga masih berada di dalam rumah. Aku tak memiliki waktu untuk berpikir panjang.

Tanpa menengok, aku berlari, lari, lari dan lari.
Aku lolos! Aku bisa lari sejauh yang kumampu, menjauh dari rumah penyekapan. Beruntung sekali, saat itu si Bos membawaku keluar rumah menuju mobil, hingga aku bisa lolos. Mungkin sudah jalannya, aku harus meninggalkan tempat itu.

Entah apa yang terjadi pada bu Een, tadi aku masih sempat mendengar ia berteriak kesakitan. Pasti mereka menyiksa bu Een, karena aku bisa lolos. Oh, Tuhan, semoga bu Een baik-baik saja dan semoga Engkau menjaganya. Ia sudah seperti ibuku sendiri. Aku berjanji, akan kembali untuk menolongnya, saat aku telah memperoleh bantuan dari penduduk terdekat. 

Aku menyeka sudut mataku yang berair. Aku menangis! Sesuatu yang sudah lama tak pernah aku lakukan. Aku menangis karena bu Een. Air mataku menderas! 

Nafasku tersengal karena capek, berlari menjauh dari tempat penyekapan. Aku sudah tak kuat lagi. Hingga aku terjatuh, tepat di depan sebuah rumah.


Semarang, 10 September 2017.