Mohon tunggu...
Vyneez
Vyneez Mohon Tunggu... Ya, kemudian?

Pembaca ulung, penulis pemula.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Strategi Delusional BPN

18 April 2019   04:57 Diperbarui: 18 April 2019   14:23 0 1 0 Mohon Tunggu...
Strategi Delusional BPN
tolol-5cb7fa1095760e42af7b9272.jpg

Delusional secara praktis bisa diartikan sebagai tindakan mempercayai sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan, atau argumen rasional. Delusional juga fase awal dari schizofernia, namun kali ini bukan gangguan kejiwaan yang akan saya bahasa melainkan langkah konstruktif kubu Prabowo dalam menghadapi quick count atau hitung cepat Pemilu 2019.

Pada saat tulisan ini dibuat (18/4 pukul 4.35 WIB) hasil perhitungan cepat berbagai lembaga survey mengarah ke kemenangan Jokowi, dengan perolehan suara diatas 50%, sedangkan kubu Prabowo dive down sejak awal di kisaran 45%. Ada tiga poin kesalahan pada sistem hitung cepat, antara lain Margin of Error, Random Error, dan Systemamic Error. Tiga kecenderungan kesalahan ini akan membuat prediksi/pembacaan data melenceng sekitar 0,2 - 5%, dan apabila dihitung secara sistemis, kesalahan pada metoda hitung cepat yang dilakukan sekarang, tentu saja bisa kita katakan Jokowi sudah memenangkan Pilpres 2019.

Apa reaksi kubu Prabowo terhadap serangkaian hasil hitung cepat dari berbagai media? Tentu saja tak ada jalan lain selain terus berjuang dan membuat strategi. Kubu Prabowo dari PAN Egi Sudjana mengancam akan mengerahkan masa, tentu saja hal ini punya tendensi kearah kecurigaan kecurangan yang mengakibatkan pasangan no.2 mengalami kekalahan, akan tentapi tim BPN Prabowo-Sandi punya strategi yang lain selain unjuk gigi lewat apa yang mereka sebut sebagai "people power."

Tak ada yang lebih menyeramkan daripada okupasi media, dimana media memiliki kekuasaan untuk menggiring opini dan mengarahkan masyarakat pada satu 'kebenaran' yang seolah muncul secara organik, media adalah serangkaian mata rantai kekuasaan yang tidak pernah putus, oleh karena itu media punya andil besar untuk menciptakan 'kebenaran' by order Hal inilah yang kemudian (menurut saya) dijadikan landasan berfikir Kubu Prabowo untuk menarik ketidakpercayaan publik pada lembaga lembaga hitung cepat yang sudah menampilkan sekitar 97% suara dilapangan, serta menarik simpati pendukungnya yang gamang. Apa langkah yang dilakukan BPN? Yaitu dengan mengklaim bahwa mereka sudah memenangkan Pemilu dengan perolehan hitung cepat sebesar 62%.

Tidak ada keterangan lebih lanjut dari firma polling mana tim Prabowo mendapatkan hasil tersebut? 62% adalah jumlah yang besar, yang sangat signifikan bedanya dengan 45% mayoritas hasil hitung cepat beberapa lembaga terhadap suara Prabowo-Sandi. Tentu saja memperdebatkan presentase kebenaran atas metoda hitung cepat BPN akan sangat melelahkan, apalagi hasil tersebut tidak dibuka kepada publik, seperti apa yang dimiliki oleh lembaga lembaga lain, yang mempersilakan hasil quick count yang mereka lakukan bisa diaudit.

Angka 62% adalah langkah strategis tim BPN, bukan untuk memenangkan Pilpres, melainkan untuk mengantarkan image Prabowo sebagai presiden terpilih, pilihan rakyat, yang mengguli saingannya dengan selisih yang teramat besar. Strategi Delusional ini digunakan pihak BPN untuk menciptakan simpati dan euforia kemanangan bagi pendukung Prabowo-Sandi, ini adalah langkah pasti, sebelum tim BPN menetapkan langkah langkah strategis berikutnya, karena deep down mereka sadar mereka telah kalah. Tidak seperti kekalahan Ahok-Basuki  pada Pilkada lampau, Ahok langsung melakukan konferensi pers mengenai kekalahannya pada malam saat proses hitung cepat selesai.

Strategi ini tentunya akan sangat bahaya bagi pendukung Prabowo, bagi masyarakat yang dengan segenap nuraninya mempercayakam masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada sosok tegas mantan Pangkostrad itu. Strategi ini bukan hanya melukai logika dan 'akal sehat' yang sering digembar-gemborkan BPN, melainkan juga berpotensi menimbulkan gesekan yang lebih jauh antara simpatisan yang menang dan yang merasa menang.

"If you learn from defeat, you haven't really lost" - Zirg Ziglar.