Mohon tunggu...
Veronika Gultom
Veronika Gultom Mohon Tunggu... Programmer/IT Consultant - https://vrgultom.wordpress.com

IT - Data Modeler; Financial Planner

Selanjutnya

Tutup

Gadget Artikel Utama

Penipu Juga Melakukan "Fact Finding" Sebelum Action

1 Desember 2021   11:18 Diperbarui: 4 Desember 2021   10:50 1177
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi penipu online bekerja mengumpulkan data-data calon korban. Sumber: Shutterstock via Kompas.com

Sepertinya sedang ramai berita tentang fitur "Add Yours" nya Instagram yang katanya mengundang penipu. Benarkah begitu? Bisa jadi!!

Bagaimana biasanya Anda mencari informasi tentang seseorang yang ingin Anda ketahui? Dan Untuk tujuan apa Anda mencari informasi tersebut?

Bisa untuk urusan pribadi, pekerjan, atau yang lain-lain.

Contoh, seorang teman wanita mendekati saya karena dia tahu saya berteman cukup dekat dengan lelaki yang dia prospek (naksir). Teman wanita ini berusaha menggali informasi dari saya tentang pria yang dia sukai itu. Tujuannya apa? Salah satunya agar dia dapat menentukan pendekatan seperti apa yang harus dia lakukan untuk mencapai tujuannya. Usaha menemukan informasi ini bisa disebut fact finding atau menemukan fakta-fakta atau pengumpulan data. Ini adalah contoh mencari informasi untuk urusan pribadi.

Di dalam pekerjaan, sebelum berangkat memprospek calon client, biasanya kami mencari informasi dulu sebanyak-banyaknya tentang calon client ini. Apa yang dibutuhkan, apa permasalahan yang mereka punya, siapa pengambil keputusannya, dst. Dari situ baru kita tentukan bagaimana mengemas produk yang kita punya menjadi solusi buat mereka, dan bagaimana pendekatan yang harus dilakukan kepada para pengambil keputusan.

Semua itu adalah usaha mengumpulkan informasi untuk menentukan action yang harus diambil. Dan orang-orang yang berprofesi penipu pun ternyata melakukan fact finding dulu sebelum beraksi. Tujuannya adalah agar aksinya berjalan lebih mulus dan meyakinkan. Mungkin cuma sekali-sekali saja dia melakukan  aksinya tanpa perencanaan, seibarat sales yang "canvassing" (berusaha menjual secara spontan tanpa perencanaan)

source: www.opindia.com
source: www.opindia.com

Informasi dapat datang dari mana saja, tetapi yang jelas harus dicari. Di mana mencarinya? Bisa dimana saja termasuk melalui challenge di Instagram yang kebetulan menggunakan fitur baru yang namanya "Add Yours". Bahkan mungkin Anda tidak sadar, data juga didapat dari formulir-formulir yang Anda isi sendiri ditempat-tempat gak jelas untuk keperluan yang juga tidak jelas. 

Itu semua hanyalah teknik pengumpulan data.

Jadi jika Anda didatangi penipu baik langsung, via telepon, email, dsb, jangan salahkan media sosial yang sudah melakukan pengumpulan data dalam berbagai bentuk, salah satunya challenge "Add Yours". Sudah resiko jika bermain dengan media sosial, sedikit banyak ada informasi yang akan didapat orang lain tentang Anda.

Padahal orang itu tidak Anda kenal dan tidak pernah menjalani waktu sedetik pun bersama Anda dalam kehidupan nyata. Dengan adanya media sosial, semua orang dapat menjadi selebriti alias orang terkenal minimal se-Indonesia.

Dari kompasiana.com saja saya bisa tahu, kalau penulis A berasal dari daerah dan budaya Padang, Batak, Tionghoa dan lain-lain. Bapak ini dulunya guru, kemudian menjadi pengusaha dan kemudian pindah ke negara lain mengikuti anaknya. Bapak X kerja di BUMN dan Kompasioner of the Year 2021 itu penyuka film dan lain-lain. Itu semua informasi bukan?

Selanjutnya, apa yang terjadi dengan informasi yang tersebar itu, sudah bukan urusan kita lagi. Karena setiap orang yang mendapat informasi tentang kita tidak dapat kita kontrol aksi apa yang akan mereka buat terhadap kita.

Yang harus kita waspadai adalah tindakan-tindakan tidak bertanggung jawab disekitar kita.

Baru kemarin ada orang yang mengaku CS Telkomsel menelepon saya mengingatkan mengenai poin Telkomsel yang menurut dia belum pernah dipakai dan dapat ditukar dengan pembayaran kontrak berlangganan selama dua bulan. Saya bilang,"Ok, nanti saya check di aplikasi Telkomsel". Orang ini malah ngotot dan nada suara mulai terdengar kurang halus. 

Jelas berbeda dibandingkan dengan Customer Service pada umumnya yang ramah tamah dan bersuara merdu. Dia bilang, tidak!! Langsung saja sekarang ditukar poinnya. Dan dia mengarahkan saya untuk membaca SMS dari TELKOMSEL. Memang ada. Dia minta saya untuk menyebutkan kode rahasia yang dikirimkan. Saya bilang, "Rahasia!", sesuai isi SMS=nya. Dan penelepon mulai bicara agak kasar dan meminta saya untuk tidak membantah perintahnya. Secara logika, mana ada Customer Service sekasar itu?!

Lantas dari mana orang itu mendapatkan nomor telepon dan nama saya? Bisa dari mana saja. Bisa dari orang yang pernah berhubungan dengan saya. Bisa dari kurir pengantar barang. Bisa dari informasi yang saya sebarkan sendiri sengaja atau tidak sengaja. Yang jelas saya belum pernah mencoba Instagram Add Yours challenge!

Berhati-hati dengan data pribadi penting. Tetapi lebih penting lagi waspada terhadap tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab dan merugikan orang lain. Penipuan akan tetap ada walaupun tidak ada teknologi canggih seperti sekarang. (VRGultom)

*) Menyalin dan mempublish ulang sebagian atau seluruh isi artikel dari Kompasiana.com ini adalah pelanggaran hak cipta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun