Mohon tunggu...
Selvia Vide
Selvia Vide Mohon Tunggu... Akuntan - ASN, Ibu Rumah Tangga, Anak Sekolahan

Suka mengamati, belajar dan merefleksikan apa yg didapat selama perjalanan hidup

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Let's Move On: Enak Diucapkan, Susah Dijalani

15 Agustus 2022   16:50 Diperbarui: 15 Agustus 2022   16:55 203
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pernah nonton film mau western movie atau asia movie yang berkisah tentang seorang pegawai yang berhenti bekerja atau pindah ke unit kerja lain? Di film tersebut pegawai bersangkutan paling banyak bawa 1-3 box dokumen/benda-benda pribadinya. 

Minimalis? Jelas, datang dengan 1-2 box dokumen/benda pribadi dan pergi dengan box yang sama atau paling nambah 1-2 box lain. Intinya, pindahan kantor mau ruangan atau pindah perusahaan lain, tidak seperti pindah rumah yang super heboh. Or it just me only??

Bicara soal minimalis, terkadang kita terperangkap pada konsep semua yang serba simple, gak ribet dan down to earth. Seperti apa sich concept yang mendasari mengapa 'movement' minimalis ini muncul. Mengacu ke salah satu site dengan judul : History of minimalism, how the minimalist movement happened, ternyata konsep minimalis merupakan suatu gerakan yang sudah cukup lama muncul dalam sejarah. 

Konsep minimalis adalah 'less is more' yang diterapkan dalam berbagai bidang mulai dari seni, gaya hidup, fashion, musik dan lain sebagainya. Mulai tahun 1800 sudah ada gerakan minimalis movement di Amerika berupa gerakan 'simple living' dimana pemikiran-pemikiran ideal didasarkan pada kedalaman dan 'insighful' pencerahan. Kemudian tahun 2000-sekarang minimalis menjadi suatu gerakan mainstream yang dijabarkan pada berbagai bidang kehidupan.

Back to 'office move' terkadang kita sulit untuk melepaskan diri dari apa yang sudah kita capai dalam pekerjaan lama kita. Prestasi, tantangan dan perjuangan kita dalam melaksanakan suatu tugas pekerjaan membuat kita sulit 'move on'. 

Sebuah situs yang memberikan 8 tips praktis pindahan, memberikan tips yang kalau kita search di mbak Google jawabannya pasti akan sama, pilah dulu barang yang dibutuhkan, beri label, lalu bawa pindah. Lalu jawab kita, jika yang kita pilah dan kita anggap penting ternyata banyak sekali, apakah akan kita bawa semua? 

Karena didalamnya ada semua history capaian kita, catatan kegagalan, kenangan dengan sahabat dan mungkin juga mantan pacar..hahaha. Lalu gimana kita 'move on' dan bisa bilang pada diri kita, seperti harimau yang meninggalkan belang, seperti gajah yang meninggalkan gading, biarlah saya hanya membawa 1-2 box dari ruangan yang akan saya tinggalkan, karena saya tahu, peninggalan saya, legacy saya sudah terpatri di setiap orang yang mengenal kita di kantor tersebut. 

As easy as that? Kalau saya sudah bisa bilang ke diri saya seperti itu, rasanya blog ini tidak akan saya tulis. Bicara minimalis, untuk sementara, saya masih anti mainstream, karena belum siap move on... Kalau anda masih penasaran juga, ada satu artikel Forbes tentang : Move on after leaving a job: how to let go of your emotional baggage yang disajikan dengan menarik dengan mempersonafikasikan pekerjaan sebagai pacar kita. 

Referensi:

https://minimalism.co/articles/history-of-minimalism History of Minimalism: How the Minimalist Movement Happened

https://www.lalamove.com/id/blog/tips-praktis-pindahan 8 Tips Praktis untuk Pindahan Anti Stres dan Tanpa Beban

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun