Vita Priyambada
Vita Priyambada karyawan swasta

Penulis dan filatelis

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Meskipun Ruwet, BPJS Kesehatan Besar Manfaatnya

12 September 2018   21:46 Diperbarui: 12 September 2018   22:06 537 2 1

Orangtua dan saya terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan sejak 2016, total 3 peserta dalam Kartu Keluarga tersebut yang tercatat di Malang. Ketika mendaftar saya menempuh cara daftar online dan langsung jadi pada saat itu asal memenuhi syarat-syarat yang sudah ditetapkan. 

Kartu BPJS yang dicetak melalui printer itu yang saya pakai sebab tidak ada keharusan mencetak kartu dalam bentuk fisik. Berhubung saya bekerja di Jakarta, khusus untuk saya, memilih fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama di salah satu puskesmas di wilayah Jakarta Timur.

Ketika sakit yang biasa saya ke puskesmas. Suatu saat pada Mei 2017 saya ke puskesmas dan dokter di situ meraba perut saya dan mengatakan ada benjolan di rahim. Kemudian saya dirujuk ke dokter kandungan di rumah sakit swasta dekat rumah. Setelah diperiksa melalui USG diketahui ada mioma uteri yang cukup besar. Dari rumah sakit ini saya dirujuk lagi ke salah satu rumah sakit swasta yang masih berada di wilayah Jakarta Timur.

Di rumah sakit tersebut menerima pasien rujukan BPJS dan pelayanan dilakukan pagi dan sore. Dokter kandungan yang disarankan pada saya mulai praktek pada sore hari. Minimal 2 jam sebelum dokter praktek pasien sudah harus melakukan pemberkasan dengan antre di loket BPJS. Antrian BPJS selalu banyak. Berkas yang disiapkan adalah surat rujukan asli dari faskes I dan fotokopinya, KTP dan kartu BPJS berikut fotokopinya. 

Untuk kartu keluarga pada umumnya tidak digunakan saat pemberkasan. Surat rujukan, KTP, dan kartu BPJS bisa digandakan paling sedikit 5 lembar (bisa lebih) untuk persiapan kembali ke dokter pada pemeriksaan berikutnya.

Dokter kandungan melakukan pemeriksaan melalui USG lagi. Selesai diperiksa dokter mengisi berkas BPJS, selanjutnya berkas ini dibawa pasien ke kasir. Urusan pemeriksaan beres, pasien tidak mengeluarkan biaya apapun. Tetapi, saya dirujuk kembali ke bagian fetomaternal dan akan dijadwalkan kemudian. Pada saat jadwal tiba, maka pendaftaran melalui BPJS seperti prosedur di atas.

Kira-kira tiga bulan kemudian, setelah beberapa kali bolak-balik ke dokter kandungan, tibalah persiapan untuk operasi. Jadwalnya adalah ke laboratorium untuk ambil darah, dokter anestesi, lalu ke dokter jantung. Masing-masing dilakukan pada hari yang berbeda karena aturan BPJS dalam satu hari hanya ada satu pemeriksaan saja. Dari hasil laboratorium saya memerlukan transfusi darah 2 kantong. 

Satu hari sebelum operasi saya harus ditransfusi terlebih dahulu sampai HB minimal mencukupi. Total rawat inap selama 5 hari 4 malam, mulai transfusi darah, operasi, dan perawatan di  kamar. Pelayanan selama dirawat di rumah sakit tersebut sangat baik dan tidak ada biaya apapun yang dikeluarkan.

Pengalaman kedua terjadi pada September 2017 saat ibu saya terserang stroke pendarahan dan harus dibawa ke unit gawat darurat di rumah sakit umum di Malang. Setelah kurang lebih 12 jam berada di UGD, ibu harus menjalani operasi bedah otak selama 7 jam. Selesai operasi masuk ruang ICU dan dirawat selama 14 hari sampai wafatnya. Lagi-lagi tidak ada biaya apapun.

Pengalaman ketiga terjadi lagi pada saya Mei 2018 di mana saya harus berurusan dengan dokter kandungan. Kasusnya sama seperti Mei 2017 sehingga saya minta dirujuk ke dokter kandungan yang lalu. Dokter kandungan sempat heran dan bertanya, Ibu ini makan apa sampai setahun kemudian bisa tumbuh lagi, katanya sambil tersenyum. 

Pemeriksaan seperti tahun sebelumnya berulang sampai ke fetomaternal. Bedanya kali ini, vonis dokter agak berat sebab kandungan saya harus diangkat dan dokter ini tidak berani operasi sebab harus didampingi dokter onkologi. Dan olala, saya masih berstatus sendiri pula! Di rumah sakit tersebut tidak ada dokter onkologi  BPJS maka saya harus dirujuk. Dokter memberi pilihan rumah sakit rujukan: RSCM, Persahabatan atau RSPAD. Beliau menyarankan supaya saya memilih RSPAD yang kemungkinan antrian lebih sedikit. Saya dirujuk ke RSPAD.

Di RSPAD saya diperiksa dan dilakukan USG lagi. Kali ini untuk memastikan apakah ada perlengketan di rahim , maka harus dilakukan MRI. Ternyata jadwal MRI yang saya dapat baru dilakukan 3 bulan kemudian. Antrian MRI untuk pasien BPJS memang lama. Satu minggu sebelum MRI saya harus ke laboratorium untuk ambil darah.

Saatnya tiba untuk ke laboratorium. Saya sudah antri di bagian kandungan dan ketika ke kasir, saya diminta ke BPJS Center di lantai dasar karena surat rujukan saya habis. Setelah giliran saya di loket BPJS Center, petugas mengatakan bahwa surat rujukan saya habis kemarin. Saya diminta untuk membuat surat rujukan baru ke faskes I dan ke rumah sakit rujukan selanjutnya seperti prosedur yang lalu. Jadilah siang itu saya ke puskesmas untuk meminta surat rujukan ke rumah sakit yang saya datangi sebelumnya. Beruntung puskesmas tutup pada pukul 16.00 WIB.

Setelah memperoleh rujukan dari puskesmas, saya antri lagi di rumah sakit. Sekian jam antri, begitu giliran saya tiba, saya bertanya, apakah untuk minta surat rujukan ke RSPAD saya harus tetap kembali ke dokter kandungan di rumah sakit ini? Jawab petugas itu, meskipun hanya minta surat rujukan, tetap harus ke dokter. Pernyataan berikutnya yang membuat saya terkejut. Saya tdak bisa meminta rujukan pada hari itu karena pagi tadi saya sudah ke RSPAD, artinya tidak bisa ada pemakaian BPJS dua kali di hari yang sama. Saya harus kembali ke dokter kandungan untuk minta rujukan di hari berikutnya.

Ah, sia-sialah saya antri sekian lama di rumah sakit ini. Sudahlah, saya harus bersabar dan mengikuti prosedur yang berlaku. Saya akan kembali pada hari jadwal dokter kandungan saya praktek. Setelah memperoleh surat rujukan, saya akan kembali antri ke RSPAD untuk ke laboratorium. Masih agak panjang pemeriksaan kali ini. Meskipun ruwet, BPJS Kesehatan besar manfaatnya.