Mohon tunggu...
Viola Jesiska Salinding
Viola Jesiska Salinding Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Mencegah Anak dari Paparan Radikalisme

22 Mei 2019   20:15 Diperbarui: 22 Mei 2019   20:33 0 0 0 Mohon Tunggu...

Menjelang tanggal 22 Mei, petugas Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror mengamankan 29 tersangka teroris yang berencana akan melancarkan aksinya pada penetapan pemenangan Pilpres 2019 (detiknews.com, 2019).  Dari 18 terduga teroris yang ditangkap, polisi menyita 5 bom rakitan, 4 pisau lempar, dan 2 busur panah. Disebutkan bahwa para teroris ini menolak sistem demokrasi karena tidak sesuai dengan paham mereka.

Mendengar kata teroris, masih segar di ingatan masyarakat Indonesia peristiwa yang terjadi di Surabaya beberapa bulan yang lalu tepatnya pada tanggal 13-14 Mei 2018. Para teroris melakukan aksi brutalnya dengan melakukan pengeboman di beberapa gereja di Surabaya. Para teroris ini adalah mereka yang terpengaruh paham radikalisme oleh sebuah kelompok tertentu terhadap suatu keyakinan tertentu yang mengarah ke hal-hal yang ekstrem yaitu pembunuhan orang-orang yang mereka anggap berbeda dengan mereka.

Bibit-bibit radikalisme dan terorisme ini telah menyebar di berbagai kalangan masyarakat dan yang paling memprihatinkan telah masuk ke sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi. Artinya, generasi muda Indonesia sangat rentan terpapar oleh paham-paham radikalisme.   Lantas bagaimana orangtua menyikapi hal ini? Salah satu jalan yang dapat ditempuh secara efektif adalah melalui jalur pendidikan.  Paham radikalisme bermula dari pencucian otak yaitu mengubah pola pikir seseorang. Pola pikir ini sangat penting karena menjadi 'akar'  atas tindakan atau perbuatan yang dilakukan seseorang. Oleh sebab itu, untuk mengatasi hal ini, perlu melalui jalur pendidikan. Jalur pendidikan dalam hal ini bukan hanya berbicara mengenai sekolah, tetapi yang lebih utama adalah keluarga. Pendidikan di dalam keluarga sangat penting karena keluarga merupakan komunitas yang terdekat bagi seorang anak. Anak dilahirkan dan bertumbuh dalam keluarga, oleh sebab itu orangtua adalah aktor paling penting di dalam pendidikan anak dan sangat menentukan akan menjadi seperti apa seorang anak ketika tumbuh dewasa. Maka, penanaman nilai-nilai yang benar kepada anak-anak adalah hal yang mutlak ditanamkan sejak dini di dalam keluarga. Contohnnya mengajarkan untuk mengasihi orang-orang yang berbeda dengan anak bukan memusuhi mereka.

Setelah keluarga, komunitas kedua yang menentukan seorang anak adalah pendidikan di sekolah. Pendidikan yang benar adalah pendidikan yang mengubah seorang anak menjadi lebih baik. Perubahan ini bukan hanya dalam segi intelektual, perubahan ini termasuk perubahan dalam segi emosional, sosial, spiritual bahkan karakter yang semakin lebih baik dan positif. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui dan mengambil keputusan mengenai dimana seorang anak akan bersekolah, dengan siapa dia bergaul dan  apa yang diajarkan kepada mereka. Maka, hal ini kembali lagi kepada peran orangtua di dalam mendampingi dan berelasi dekat dengan anaknya agar mereka dapat mengetahui apa yang didapatkan di sekolah dan dapat mendampingi mereka bertumbuh di dalam nilai-nilai yang benar.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x