Mohon tunggu...
Vilya Lakstian
Vilya Lakstian Mohon Tunggu...

Penulis adalah Dosen Linguistik di Jurusan Sastra Inggris dan Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Surakarta, Akademi Bahasa Asing Harapan Bangsa, dan International Hospitality Center. Selain mengajar mahasiswa, dia juga mengajar untuk staff hotel, pelayaran, dan pramugari. Penulis adalah lulusan Pascasarjana Prodi Linguistik Deskriptif di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Sarjana Sastra Inggris konsentrasi Linguistik di IAIN Surakarta. Penulis aktif dalam penelitian dan kajian sosial. Penulis juga sering menulis untuk media massa, dan penelitian untuk jurnal. Dalam berbagai kajian bahasa yang telah dilakukannya, linguistik sistemik fungsional menjadi topik yang sering dibahas dan dikembangkan.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Makin Dekat dengan Industri Halal

27 Desember 2017   10:38 Diperbarui: 27 Desember 2017   20:10 0 0 1 Mohon Tunggu...
Makin Dekat dengan Industri Halal
Logo Halal (gambar diambil dari: http://solo.tribunnews.com/2017/01/25/kementerian-agama-bentuk-bpjph-untuk-sertifikasi-makanan-halal)

Perkembangan usaha di Indonesia berkembang cepat. Hal ini semakin bersaing dengan dukungan kemudahan transaksi online. Masyarakat merespon baik adanya kemudahan ini. Pilihan produk yang tersedia begitu beragam dengan harga yang kompetitif terjangkau. Namun, kualitas produk yang unggul tetap menjadi harapan dari setiap konsumen.  Lalu, benarkah produk-produk yang menarik itu telah menjalani proses yang baik? Kelezatan yang ditawarkan itu sudahkah melalui pengolahan yang sempurna dan sehat? Apakah seluruh kegiatan yang dilibatkan itu sesuai dengan kriteria yang diijinkan?

Mengantisipasi berbagai keraguan itu, industri halal adalah jawaban yang tepat. Halal berarti diperbolehkan (berdasarkan hukum Islam). Pengakuan halal memberikan dampak yang besar terhadap kepercayaan konsumen pada suatu produk. Sudah dapat dipastikan bahwa produk halal telah melalui berbagai aspek yang diperbolehkan sehingga aman dan sehat untuk dikonsumsi. Selain itu, kita juga ingin terhindar dari produk yang mengandung racun dan zat berbahaya.

Bagaimana tidak meyakinkan? Di dalam kitab suci Al Quran, umat Islam dilarang mengonsumsi hewan yang tidak disembelih dengan nama Allah. Umat juga tidak diperbolehkan mengonsumsi daging dari hewan yang meninggal akibat dipukul, dicekik, dan jatuh. Suatu produk juga tidak boleh memabukkan. Kosmetik yang halal harus bebas dari zat terlarang. Kemudian, bagaimana dengan buah dan sayuran yang halal? Keduanya tidak boleh mengandung zat beracun dan narkotika!

Imam Haryono, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia, mengatakan "Produk halal bukan hanya identik bagi masyarakat muslim saja, namun sudah dikaitkan dengan treatment(perlakuan) yang baik, mulai dari bahan baku, proses produksi, packaging(pengemasan), dan logistiknya" (www.kemenperin.go.id, diakses 25 Desember 2017).

Hal tersebut membuat keberadaan industri halal di Indonesia tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga tren kehidupan global. Indonesia termasuk dalam 10 besar negara konsumen halal terbesar di dunia (dikutip dari Global Islamic Economy Indicator). Perhatian Indonesia kini tertuju pada industri halal. Saat ini, Kemenperin mengembangkan industri halal dengan menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) beserta Majelis Ulama Indonesia (MUI) terutama pada makanan, minuman, hingga kosmetik. Bahkan, ada juga industri garmen halal.

Produk yang dihasilkan oleh industri halal dipercaya telah menjalani alur yang sehat dan wajar. Inilah yang menghadirkan halal tidak selalu identik dengan umat muslim saja, namun menjadi yang ditunggu-tunggu dan diinginkan oleh masyarakat umum yang lebih luas.

Prospek

Berawal dari suksesnya halal pada makanan dan minuman, Indonesia dapat menjadi acuan dalam pengembangan kuliner halal. Beberapa produsen di luar negeri kesulitan mencari lembaga sertifikasi halal. Indonesia, sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, layak menjadi pusat sertifikasi halal. Umat muslim tersebar di seluruh dunia. Banyak pemain sepak bola di klub-klub besar Eropa adalah muslim. Penerima beasiswa di berbagai benua juga muslim. Peneliti-peneliti Islam makin terlihat karya-karyanya. Peran mereka di sana besar. Ini menjadi aspek yang patut diperhitungkan bagi industri dunia untuk mengembangkan produk halal. Tidak hanya umat, negara-negara di luar negeri itu juga membutuhkannya.

Beberapa aspek turut melatarbelakangi kebutuhan terhadap industri halal di dunia. Populasi muslim di dunia diprediksi mencapai 26,5% di tahun 2030. Terdapat peningkatan populasi muslim pada usia muda dibarengi dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang tinggi. Bahkan, pengeluaran muslim di dunia mencapai 200 miliar dolar pada 2020 (sebagaimana dikutip oleh Hipwee.com).

Dengan melihat dinamika muslim di atas, wisatawan muslim menjadi target yang menarik untuk dikembangkan di era ini. Lombok, di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dianugerahi penghargaan sebagai destinasi wisata halal terbaik di The World Halal Travel Summit and Exhibition 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Lombok mengalahkan berbagai destinasi wisata terkenal di dunia seperti Malaysia, Qatar, dan Turki.

Untuk memenuhi kriteria sebagai tujuan wisata halal, terdapat poin-poin yang harus dipenuhi dan menjadi perhatian. Pertama, tersedianya rumah makan bersertifikasi halal. Kedua, terdapat masjid atau mushala di tempat umum. Kemudian, ada fasilitas yang terpisah antara pria dan wanita, contohnya kolam renang. Lombok mampu memenuhi kriteria tersebut. Selain mayoritas penduduk di sana adalah muslim dan dijuluki Pulau Seribu Masjid, Lombok memiliki beragam atraksi wisata.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x