Vika Octavia
Vika Octavia

blogger, writer, founder Kamadigital.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Ludruk Kekinian ala Genaro Ngalam

13 Maret 2018   17:10 Diperbarui: 14 Maret 2018   19:44 892 0 0
Ludruk Kekinian ala Genaro Ngalam
Ludruk Genaro Ngalam

Adalah Paguyuban Genaro Ngalam (GN), sekumpulan orang Malang, mantan siswa dan mahasiswa yang pernah belajar di Malang dan sekarang bermukim di Jakarta. Genaro Ngalam sendiri artinya Orang (dari) Malang, yang diambil dari bahasa Walikan yang biasa digunakan oleh orang-orang Malang dan sekitarnya. Jadi, orang-orang Malang memang suka membaca kata dari belakang. "Orang" jadi Genaro (muncul "e" karena ujung kata orang konsonan semua) dan Ngalam dari kata Malang. Buat saya sih, balik-balikin kata begini ribet. Tapi buat orang Malang sudah biasa, dan mereka bisa dengan cepat membaca dari kanan kiri, mirip seperti tulisan membaca tulisan Arab.

Mungkin banyak komunitas seperti GN di Jakarta, tapi tidak banyak yang sungguh-sungguh berinisiatif melestarikan budaya daerahnya. Seperti hari Minggu, 11 Maret lalu Taman Ismail Marzuki. GN menggelar pentas ludruk dengan judul cerita Misteri Songgoriti dan diberi embel-embel "Ludruk Jaman Now". Entah karena namanya ludruk jaman now, atau memang promosinya yang gencar, hari itu 1200 orang memadati ruang pertunjukan Graha Bakti Budaya. Saya bangga sekaligus kaget, ternyata masih banyak orang Indonesia yang mau membayar ratusan ribu hanya untuk menonton ludruk. Bayar disini, bukan berarti GN menjual tiket, namun bisa dibilang semacam "donasi", karena kegiatan ini dilakukan bukan untuk mencari profit tapi murni bentuk kecintaan orang-orang Malang akan warisan seni leluhurnya.

Sepanjang pertunjukan yang saya pikir kira sebelumnya akan membosankan- ternyata TIDAK sama sekali! Pentasnya sebagian besar menggunakan Bahasa Indonesia. Pantas, yang datang bukan cuma orang Jawa Timur. Dua jam pertunjukan menjadi tidak terasa, apalagi pemainnya banyak anggota Srimulat yang sudah punya nama seperti Tessy, Polo dan Kadir. Semua tampil all out. Memang sih ada sedikit bagian yang membosankan (mungkin karena saya tidak paham bahasanya sih, hehehe..) Tapi ini dimaklumi, karena sebagian besar pemain memang amatiran alias volunteer. Biarpun begitu, kerja keras mereka patut diacungi jempol. Tidak mudah loh, tampil di hadapan lebih ribuan orang di gedung pertunjukan megah begitu.

Banyak sisi dari ludruk yang mungkin tidak semua orang tahu. Selalu ada makna filosofis yang bisa diambil dari setiap komedinya. Lakon Misteri Songgoriti yang dipentaskan kemarin, mengisahkan pengorbanan nyawa seorang Ibu demi kebahagian putranya. Di zaman Jepang, ludruk malah menjadi media penyampai pesan rahasia para pejuang kemerdekaan agar tidak diketahui kaum penjajah.

Sekarang pementasan seperti ini sudah makin langka, padahal banyak sekali ruang yang bisa digunakan untuk menyisipkan pesan-pesan tentang kebangsaan dan keberagaman. Topik yang saat ini selalu hangat dijadikan materi ujaran kebencian, hoax, dll. Banyak teori yang bilang, komedi adalah salah satu cara paling efektif dalam menitipkan pesan. Kita punya cara, cara kita sendiri yang berbeda dari bangsa lain, ludruk salah satunya. Semoga kesenian tradisional tidak punah.