Mohon tunggu...
Veronica Ari
Veronica Ari Mohon Tunggu... Guru - Ad maiorem Dei gloriam

Seorang guru SD yang sudah 14 tahun mengajar, seorang istri, dan calon ibu.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Metode Pendidikan Montessori

26 Oktober 2021   09:19 Diperbarui: 26 Oktober 2021   09:25 93 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Montessori merupakan metode pendidikan yang membantu anak-anak dalam mencapai potensinya. Sesuai dengan namanya, metode Montessori dikembangkan oleh seorang dokter wanita pertama di Italia yang bernama Dr. Maria Montessori. Berawal dari pekerjaannya sebagai seorang dokter ia memiliki banyak pengalaman dengan anak-anak, Ia mulai melihat dan menemukan pola perkembangan pada anak-anak tersebut sehingga membuatnya tertarik dengan dunia pendidikan.

Dalam perjalanan kariernya, ia mendirikan sebuah sekolah dengan nama Casa dei Bambini, yang artinya rumah anak-anak. Ia memiliki keinginan agar anak-anak merasa seperti di rumah, tempat yang membuat mereka merasa aman dan nyaman. Sekolah ini ditujukan untuk anak-anak usia antara 3 dan 6 tahun, serta merupakan sekolah pertamanya.

Ciri khusus dari Metode pendidikan Montessori, adalah; kebebasan, bebas disini memiliki arti bahwa anak-anak belajar secara mandiri dan bebas memilih sendiri apa yang akan ia pelajari. Ruang kelasnya pun dirancang multi-usia, materi dan program belajarnya juga menyesuaikan dengan tahap perkembangan setiap individu. Nah, tahapan perkembangan tersebut oleh Montessori disebut dengan The Four Planes of Development, yaitu : Absorbent  Mind (usia 0-6 tahun), Rational Mind (usia 6-12 tahun), Humanistic Mind (12-18 tahun), dan Specialist Mind (18-24 tahun). Dari tahapan ini lah kelas-kelas tersebut dirancang sehingga anak-anak akan belajar sesuai dengan tahapan perkembangannya masing-masing.

Dalam hal ini, peran guru bukan sebagai pemberi instruksi melainkan bersifat sebagai fasilitator yaitu memandu dan mendampingi anak-anak belajar. Misalnya, jika terjadi permasalahan di kelas pun, seorang guru tidak boleh memarahi anak yang melakukan kesalahan tetapi lebih kepada pengamatan dan pendampingan, cara memberikan nasihat pun berbeda.

 Hal yang dapat  dilakukan oleh guru yaitu memberikan pengarahan kepada anak-anak mengenai sebab-akibat, misalnya; jika melakukan hal yang membahayakan kepada temannya, maka temannya akan terluka dan sakit. Dengan demikian, anak akan mulai berpikir bahwa yang ia lakukan salah dan dengan sendirinya tidak akan mengulanginya lagi sehingga anak mulai mengembangkan kemampuan berpikirnya dan rasa empati terhadap teman-temannya. 

Dari sini lah seorang anak akan belajar apa yang seharusnya mereka lalukan, misalnya dengan sadar ia akan meminta maaf kepada teman yang sudah dilukai atau dia akan berhenti melakukan ha-hal yang membahayakan, sehinga dari sini anak dapat menemukan sendiri pembelajaran tentang hidup yang utuh dan bermakna dari pengalamannya.

Kurikulum Montessori menawarkan 5 bidang studi utama, yaitu; Practical Life, Sensorial, Mathematics, Language, Cultural Studies. Berdasarkan masing-masing bidang studi ini anak-anak belajar sesuai dengan tahap perkembangan dan minat mereka.

Metode pendidikan Montessori ini memiliki keunggulan dan kekurangan. Keunggulannya yaitu karena menekankan pada pembelajaran secara mandiri, diyakini dapat membantu anak untuk lebih konsentrasi, mandiri dan percaya diri. Selain itu, anak akan menjadi lebih kreatif, aktif, dan senang belajar. 

Dapat melatih anak untuk disiplin dalam hal menggunakan dan menyimpan barang-barang atau alat belajar yang digunakan, karena sudah disediakan rak-rak untuk menyimpan barang-barang tersebut, misalnya; setelah selesai digunakan, anak akan menaruh kembali ke tempat semula. Kelas yang dirancang secara multi-usia maka membantu mengembangkan kemampuan interaksi sosial mereka di kelas, dan juga dapat menumbuhkan rasa saling peduli satu dengan yang lain.

Selain keunggulan, metode Montessori memiliki beberapa kekurangan, yaitu beban biaya sekolah cenderung lebih mahal dibandingkan dengan sekolah tradisional atau sekolah reguler karena memerlukan peralatan dan bahan-bahan pembelajaran yang berkualitas. Gedung sekolahnya pun biasanya terdapat di perkotaan saja sehingga sulit dijangkau oleh anak-anak yang tinggal di daerah. 

Ada kemungkinan anak-anak akan sulit untuk bekerja di dalam tim atau bekerja secara berkolaborasi dibawah otoritas yang kaku karena terbiasa belajar dan bereksplorasi sendiri. Selain itu, karena anak-anak hanya menghabiskan waktu dengan teman di kelas saja sehingga akan menghambat interaksi sosial mereka saat di luar kelas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan