Mohon tunggu...
Veronika Nainggolan
Veronika Nainggolan Mohon Tunggu...

Baru selesai kuliah, sdg mengadu nasib di ibukota. \r\n\r\nMotto : "MENGAMATI lalu MENULIS" \r\n \r\nuntuk KEDAMAIAN NEGERI......\r\n \r\n

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Berbagi Suka Duka Guru yang Mengabdi di Daerah 3T

7 Agustus 2014   20:25 Diperbarui: 18 Juni 2015   04:09 264 2 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berbagi Suka Duka Guru yang Mengabdi di Daerah 3T
1407392393507514020

[caption id="attachment_351530" align="aligncenter" width="552" caption="Ibu Guru M. Darmansyah dari Aceh belajar dari masyarakat Lembata (www.sm3t-unp.org)"][/caption]

Program Sarjana Mendidik Terdepan, Terluar dan Tertinggal disingkat SM3T sejatinya adalah sebuah program mulia untuk mencerdaskan anak bangsa di pelosok negeri yang kekurangan tenaga pengajar. Program yang pertama kali digulirkan tahun 2011 ini dirasakan banyak manfaatnya. Kebutuhan anak didik terpenuhi, dan sang guru mendapatkan pahala. Pahala karena memang pengabdiannya tiada tara bagi negeri tercinta. Hingga tahun ini, Kemendikbud sudah mengirim 7.962 guru ke Daerah 3T.

Menyimak keluh kesah para "pahlawan tanpa tanda jasa" yang sudah dan sedang mengikuti program ini di sejumlah daerah, timbul rasa kagum saya. Mereka rata-rata datang dari kota untuk mengabdi di wilayah pelosok. Berjalan melintasi bukit, menembus hutan, menyeberangi banyak sungai, tidur di dipan tanpa kasur, masak sendiri adalah pengalaman sehari-hari sebagian besar mereka.

M. Darmansyah Hasbi contohnya. Guru muda asal Unsyah Aceh ini sudah selesai bertugas di Lembata, NTT. Ia mengaku ke Lembata bukan untuk mengajar tetapi belajar. Belajar memahami konteks kehidupan masyarakat, keseharian dan budaya mereka. Belajar untuk mengenal akar rumput Indonesia dan belajar memaknai Nusantara.

“Aku justru belajar dari mereka, dari anak-anak yang mereka katakan bodoh itu, belajar untuk mengajar, belajar bagaimana sulitnya untuk mengenyam pendidikan, belajar menghargai guru, belajar menghargai sebuah buku sekalipun sudah kusam tak layak pakai, belajar untuk tidak menyontek, belajar bersyukur atas pemberian Tuhan dan belajar menjalani hidup tanpa cela dan penghujatan,” tulisnya setahun silam sebagaimana dipublish situs www.sm3t-unp.org.

Lain lagi pengalaman Fayza. Guru muda asal Malang, Jawa Timur ini saat ini sedang mengabdikan diri di Pulau Biaro kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara. Di blog pribadinya, ibu guru Fayza menulis pengalaman unik di SD SD GMIST Yobel Lamanggo, sekolah dasar tempat ia mengajar. Ia belajar tentang semangat nasionalisme yang tertanam kuat di sanubari anak didiknya. Medio Februari 2014, bendera Merah Putih yang biasa berkibar di halaman sekolah lenyap terbawa angin kencang.

[caption id="attachment_351533" align="aligncenter" width="543" caption="Ibu Guru Fayza asal Malang dalam keceriaan bersama anak didiknya di Sulawesi Utara (fayzaic.wordpress.com)"]

14073924691442761803
14073924691442761803
[/caption]

“Tali yang putus  dan bendera tidak bisa naik ke atas, membuat kami tiga hari terpaksa hormat ke arah tiang tanpa bendera. Namun seolah bendera tetap berkibar di hati, apel pagi dan lagu-lagu kebangsaan tetap menggetarkan hati bagi siapa saja yang sedang berada di halaman sekolah,” tulisnya.

Lolos dari aksi penembakan

Kisah ini diungkapkan oleh Andre Christian Tuwo, guru SM3T dari Universitas Manado yang mengaku terjebak dalam konflik di Papua. Selasa (5/8/2014) Andre dan ketiga rekannya terpaksa harus mengungsi ke Wamena untuk menghindari aksi baku tembak antara TNI/Polri dengan kelompok sipil bersenjata (OPM) di wilayah tempatnya mengajar di daerah Tolikara. Kendati nyawa terancam, namun Andre dan teman-temannya menikmati pekerjaan mereka selama hampir satu tahun sebagai guru di wilayah pegunungan Papua.

“Mengajar di tanah Papua menjadi pengalaman yang takkan kami lupakan. Tapi karena menyangkut masalah keamanan. Yah, biarkanlah. Ini menjadi bagian sejarah dalam karier kami sebagai guru profesional. Kami mendapat pengamalan berharga, menyenangkan sekaligus menyedihkan,” ujar guru Sejarah ini.

Sebelum meninggalkan Papua, Andre dan rekan-rekannya punya harapan besar untuk masa depan Tanah Papua. Yakni agar Papua bisa bangkit dari keterpurukan, aman dari gangguan aks teror penembakan, dunia pendidikan di Papua lebih maju, mendidik anak-anak Papua untuk lebih mencintai Indonesia, dan pasti tetap dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

[caption id="attachment_351578" align="aligncenter" width="552" caption="Maria Margaretha Lela, guru SM3T di SMK Negeri 1 Tigi, Kabupaten Deiyai, Papua (Foto: Facebook SM-3T)"]

14073956582082235201
14073956582082235201
[/caption]

Membaca penggalan-penggalan pengalaman di atas, kita seakan melihat Indonesia secara lebih nyata. Nyata keindahannya, nyata ketertinggalannya, nyata ketimpangan pembangunannya, nyata ancamannya, dan nyata pula potensi generasi muda kita sebagai agen-agen perubahan.

Pengalaman unik mereka mudah-mudahan dapat mengininspirasi generasi muda kita yang baru lulus dari perguruan tinggi untuk semakin peduli membangun negeri. Sayangnya baru Museum Rekor Indonesia (MURI) yang telah mengapresiasi pengabdian mereka dengan menyerahkan penghargaan kepada Mendikbud Mohammad Nuh pada 9 Mei 2014 lalu, atas keberhasilan program SM3T menyiapkan mental dan moral generasi muda untuk mencintai negerinya. Mestinya apresiasi yang sama juga datang dari BUMN-BUMN dalam bentuk yang lebih konkret, seperti bantuan fasilitas pendidikan antara lain buku-buku ilmu pengetahuan praktis, fasilitas internet, laboratorium dsb yang dapat memberikan nilai tambah atas kehadiran guru-guru SM3T di sekolah-sekolah tempat mereka mengabdi. Semoga.

Sumber:

http://www.asncpns.com

http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/2544

http://fayzaic.wordpress.com/2014/02/23/78/

http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/2544

www.tribunnews.com

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x