veldy umbas
veldy umbas

Penulis buku yang menggeluti dunia jurnalistik sejak lima belas tahun terakhir aktif sebagai penulis di beberapa media.

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Bila Akhirnya Ahok Kalah dan Anies Menang

15 Februari 2017   06:52 Diperbarui: 17 Februari 2017   07:24 402341 58 64

Sujud syukur ini akan menjadi kemenangan dramatis umat mayoritas Jakarta, bahkan Indonesia. Akhirnya si Kafir kalah dan keluar dari balai kota Jakarta. Pasangan Anies-Sandy menang Pilkada DKI. Lalu abaikan si No. 1 karena bapaknya masih sibuk ngurusin klarifikasi dengan Antasari Azar.

Mas Anies-Sandy akan diarak keliling Jakarta, mungkin menggunakan mobil VW berikut iring-iringin seluruh pendukung seperti FPI dan ormas-ormas lainnya. Lalu, bayangkan. Dalam 1 Tahun, 2 Tahun, 3 Tahun dan 5 Tahun. Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandy Uno akan mewarnai kehidupan bermasyarakat di DKI.  

Dalam 1 tahun bulan madu kekuasaan, memang saya tidak akan terlalu banyak mengeluh. Setelah itu, tentu saya sudah harus mulai melihat perkembangan apa yang akan mereka hasilkan sebagai pengganti Ahok-Djarot. Di sinilah, bayangan saya agak kabur. Mas Anies adalah orang yang sama  yang kala itu pernah menjadi rektor Universitas Paramadhina. Apa kabar dengan universitas tersebut? Adakah namanya terdengar kini atau di masanya membawa prestasi yang berarti? Yang biasa saja.

Lalu, Mas Anies juga penggagas gerakan Indonesia Mengajar. Apa kabar dengan Indonesia mengajar? Mas Anies juga pernah menjadi menteri Pendidikan. Bandingkan prestasi mas Anies dengan Susi Pudjiastuti, Jonan, dan menteri-menteri lain. Mas Anies kurang meyakinkan sebagia menteri Pendidikan. Maka terbayang bagaimana terbengkalainya management pemerintahan terutama tentang tata kelola, transparansi dan standar kinerja.

Apalagi pemerintahan mas Anies-Sandy akan dipenuhi dengan urusan kepentingan ormas-ormas beraliran keras dan intoleran yang selama ini sudah mendukungnya.  

Orang-orang itu tentu akan hilir mudik Balai Kota menagih upeti. Dan sejumlah elit-elit lain yang dengan gayanya mempreteli sumber-sumber pendapatan Pemda DKI. Anies tidak bisa bilang tidak terhadap mafia-mafia, makelar, broker-broker kakap di Jakarta. Anies sungkan, karena takut melakukan kekerasan verbal. Sementara Sandy juga akan sibuk ngurusi Oke-Oce di setiap kecamatan. Akan banyak produksi sepatu-sepatu lokal di setiap kecamatan yang harus diurusinya.

Penataan kota yang tadinya sudah bagus, akhirnya hancur karena kompromi-kompromi demi mendulang suara saat Pilkada. Dan Jakarta yang sudah macet, sumpek dan pengap akan semakin crowded, karena Gubernurnya sibuk memotivasi warganya untuk terus berbahagia, walaupun miskin dan tidak punya tempat tinggal. Para aparatnya sibuk pula mengutak-atik data guna menaikkan angka partisipasi pendidikan dan IPM agar tidak dibawa Papua (meski datanya keliru).

Para pedagang musiman memang bahagia sekali karena kini boleh berdagang di badan jalan, sehingga kemacetan semakin parah. Infrastruktur MRT, jalan, jembatan, rusun, rumah sakit, tidak perlu ada, karena dana nya akan dipakai menjadi training-training pengembangan SDM multi skill yang serta kursus-kursus pembahagiaan jiwa di setiap RT-RW. Intinya manusia akan dibangun.


Sebaliknya, tradisi Gubernur bertemu warga pada pagi hari di Balai Kota seperti biasanya ditiadakan. Karena Gubernur Anies lagi rapat bagaimana membuat Sundah Kelapa itu penuh nyiur melambai. Program Rusunawa dan sejumlah rusun pun dihentikan. Pengembangan Rumah Sakit Sumber Waras menjadi Rumah Sakit Kanker modern dan gratis bagi pasien yang kurang beruntung dibatalkan. Pasukan oranye yang biasanya menjadi penjaga keindahan kota pun tak bersemangat. Lalu tawur an antar sekolah pun makin menjadi-jadi. Mafia proyek dan makelar kasus pun gentayangan lagi di Balai Kota. Sejumlah RPTRA pun terlantar tak terurus, bus Trans-Jakarta pun nasibnya sama. Yang penting masyarakatnya hidup bahagia.

Saat istri saya melahirkan anak, kami tidak mendapat perhatian penuh karena semua pelayan medis dan rumah sakit bersalin, mereka tidak peduli dengan pelayanan. Mereka tidak boleh disangsi. Saat saya harus mengurusi admistrasi seperti KTP dan kartu keluarga, pelayanannya tidak maksimal karena Pegawai Negeri dan pejabat bebas masuk dan tidak masuk kantor sesuai dengan derajat kebahagian masing-masing.

Kata Pak Gubernur, yang penting warganya bahagia tanpa harus dibangun fasilitas publiknya. Dan Gubernurnya pun membebaskan jam masuk kantor pegawai-pegawainya sesuai dengan seleranya. “Yang penting PNS-nya bahagia,”kata Gubernur Anies. Aparat Sipil Negara DKI pun Nampak lamban dan kinerjanya lemah karena recruitmennya bukan berdasaran kemampuan melainkan berdasarkan koneksi dan perkoncoan (mangan ora mangan ngumpul, seng penting bahagia). Apalagi lelang jabatan, ditiadakan.

Sementara Wagubnya asik-masyuk ngurusi bisnisnya yang makin merajalela. Dan program OKE-OCE yang dijalankan ternyata tidak semuda merdunya janji karena ternyata pinjaman-pinjaman itu akan menjadi utang yang dibebankan melalui APBD yang sudah diatur oleh peraturan yang berlaku.

Terakhir, saya menunggu rumah tanpa DP (Down Payment bukan Dewi Persik lho ya…) yang dijanjikan. Tak satupun lembaga pembiayaan mau memberikan pinjaman, dan melalui BUMD coba menangani rumah tanpa DP, tapi terkendala dana karena kurang lebih 2 Juta warga Jakarta juga mengajukan kepemilikan rumah tanpa DP tersebut. Akhirnya semua tidak berjalan sebagaimana mestinya. Marbot-marbot pada ngamuk, pasukan oranye dan pasukan hijau tidak dikontrak lagi karena ekonomi pun semakin melambat. Jakartapun semakin semrawut, jorok, padat sumpek. 

Terkadang, Gubernur Anies sulit ditemui karena sedang ada pertemuan tertutup dengan forum ulama-ulama, dan para elit-elit partai yang ingin berkonsultasi. Tidak seperti Gubernur pendahulu yang kerjanya super hebat yang hanya tidur 2 jam sehari sangat cekatan dan hafal dengan setiap rupiah APBD sehingga tidak terjadi kebocoran yang tidak perlu.

Dalam kondisi sedemikian, maka Jakarta melambat, perekonomian stagnan, sementara orang yang merasa berjasa berjuang untuk Anies-Sandy setiap harinya menunggu gilirian dibahagikan oleh sang Gubernur sebagai politik balas jasa.

Akhirnya saya tersadar. Kita tidak sedang mencari pemimpin agama. Kita tidak sedang mencari guru, dosen atau profesor. Kita tidak sedang mencari sosok pemimpin yang pinter merangkai kata.  Yang kita cari ternyata adalah orang yang tegas, berani berjuang untuk kepentingan rakyat, berani melawan mafia. Tidak mudah dipermainkan parpol, serta konsisten berjuang mewujudkan keadilan sosial. Memberi diri untuk Jakarta, bahkan nyawanya untuk mengusakan keadilan social. Berani bertepuk meja dengan para politisi busuk di parlemen. Berani membuka lembar-lembar APBD ke publik.

Untunglah, hal ini tidak terjadi di alam nyata. Dan ketika otak, perut dan dompet terisi, maka saya pun dengan lega, bahagia bisa bersujud syukur dan berkata, Alhamdulillah. Nikmat yang Kau berikan terhadap kami yang mengalami kebahagiaan yang sempurna, karena kami diberi pemimpin yang punya hati, niat, dan kemauan keras untuk menyejahterakan kami; lahir dan batin. Meskipun dia buka seiman dengan saya.