Mohon tunggu...
R.A. Vita Astuti
R.A. Vita Astuti Mohon Tunggu... Dosen - IG @v4vita | @ravita.nat | @svasti.lakshmi

Edukator dan penulis #uajy

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerita Iko

30 Desember 2021   20:12 Diperbarui: 30 Desember 2021   20:13 200
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Orang menulis, foto: drobotdean - www.freepik.com

Sebagai anak pertama, Kakeknya memberi nama Eko. Namun, untung orang tuanya cukup modern, diganti menjadi Iko. Kalau sedang memperkenalkan namanya, dia selalu ingat sejarah ini. Buatnya, ketika masih SD, nama Eko terdengar seperti nama guru matematika.

Dilahirkan di keluarga konglomerat yang memiliki berbagai jenis perusahaan nasional dan internasional, garis hidupnya sudah sangat jelas. Ketika dia sudah menikah, tampuk CEO Octantis berhak dimilikinya secara otomatis.

Selain itu, Iko memang sudah punya modal sejak lahir. Selain imut dan menggemaskan ketika bayi, bahkan katanya bisa juara lomba balita kalau diikutkan, ketika mulai sekolah ketampanannya sudah terlihat. Sejak SD sudah melanggan jadi ketua kelas dan kesayangan guru. Kalau yang terakhir ini karena cerdas dan penurut, plus cakep.

Sampai di SMP dan SMA selalu didorong untuk ikut jadi kandidat Ketua OSIS dan lolos. Waktu SMP pun dia menjadi Kapten Futsal. Berpindah ke SMA jadi Kapten Basket dan pimpinan band memegang drum. Banyak teman perempuannya berlomba untuk mendapat perhatiannya.

Namun sejak SD, Iko sudah menyadari popularitasnya di masyarakatnya dan di dunia perempuan. "Kalau kamu pengin dapat cewek, gampang, Ko, tinggal noleh aja sudah ada yang mau digandeng," sahabatnya Kori selalu mengingatkan dan menyadarkannya.

Malah yang terjadi kebalikannya, Iko tidak bisa percaya pada teman-temannya yang perempuan. Yang dia pahami, mereka mendekatinya karena kepintaran, kekayaan dan popularitasnya. Tidak ada yang murni, berteman hanya karena dia.

Ketika kuliah lebih parah lagi. Dari Kori, dia tahu bahwa dia jadi taruhan, tidak hanya para cewek tapi juga cowok. Pernah akhirnya dia dipaksa menjemput Dinda, cewek tercantik seangkatannya, untuk ikut Welcoming Party. Ketika mengambil HPnya yang tertinggal di mobil, dia mendengar sekelompok mahasiswa membagi hasil taruhan buat kesuksesan Dinda.

Sejak itu, dulu Iko yang dikenal ramah tapi tetap menjaga jarak, berubah menjadi cowok dingin, pasif dan suka menyendiri. Teman dekatnya bisa dihitung tak sampai lima jari. Kori dan beberapa teman band dari SMA. Semua cowok. Mereka tidak ada yang pernah membuatnya menjadi taruhan.

"Kamu malah menaikkan harga di mata cewek-cewek," keluh Kori suatu hari. "Tambah cool, katanya."

Iko tidak peduli. Sejak SMA dia yakin tidak ada cewek yang akan menaklukkan hatinya. "Semua fake," katanya selalu pada Kori, yang semakin khawatir akan masa depan sahabatnya. "Tak ada cewek yang bisa membuatku menoleh."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun