Mohon tunggu...
USMAN HERMAWAN
USMAN HERMAWAN Mohon Tunggu... Belajar untuk menjadi bagian dari penyebar kebaikan

BEKAS ORANG GANTENG, Tangerang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sarjana

1 Desember 2020   00:10 Diperbarui: 1 Desember 2020   00:14 168 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sarjana
ilsutrasi pribadi

Hari ketujuh sejak kelahirnya dia diberi nama Sarjana. Namanya didekatkan ke nama ibunya yakni Sarmanah.  Ayahnya memberi nama itu dengan harapan kelak anak pertamanya jadi sarjana, ahli ilmu pengetahuan, lulus kuliah S1dan jadi pegawai negeri. Harapan tersebut terkabul. Dia lulus, walaupun nilai IPK-nya hanya mencapai dua koma enam puluh sekian.  Baru setahun lulus kuliah dan bergelar sarjana pendidikan dia mengikuti tes CPNS, tapi tidak lulus.

Meskipun bidang keahliannya keguruan tapi dia belum mau menjadi guru. Dia melamar pekerjaan ke perusahaan yang konon gajinya jauh di atas gaji guru honorer. Setelah hampir setahun  tidak ada panggilan dia memutuskan untuk tidak lagi mengirim surat lamaran pekerjaan. Dia tidak mau bernasib seperti seniornya yang gemar sekali mencari informasi lowongan pekerjaan dan berkirim surat lamaran. Sampai seniornya itu dipangil oleh Allah Subhanahu wataala panggilan kerja tak kunjung tiba.

Akibat menganggur, Sarjana sering dijadikan kambing hitam oleh anak-anak muda yang malas belajar dan para orang tua yang enggan membiayai anaknya melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Kata mereka, apalah gunanya kuliah jika setelah lulus tidak punya pekerjaan. Dia pun menyadari hal itu, tapi apalah daya. Bapaknya yang semula bangga dia jadi sarjana, selanjutnya biasa saja bahkan kecewa manakala mendengar kabar ada warga kampungnya yang cuma lulusan SMP tapi bisa menjadi wakil manajer di pabrik pengolahan kayu.   

Lama-lama jenuh juga dia menganggur. Cita-cita tertingginya jadi untuk pegawai negeri sipil semakin jauh dari harapan. Seleksi CPNS tidak lagi ada tiap tahun. Begitu ada tawaran mengajar di SD langsung diterimanya, daripada menganggur. Dia menjadi guru kelas tiga. Murid-murid menaruh hormat kepadanya. Dia senang menjalani profesi itu. Namun setelah menerima gaji yang kecil dari bulan ke bulan semangatnya mengendur. Dalam tahun kedua menjadi guru, dia tertarik untuk berkompetisi memperebutkan jabatan ketua RW di lingkungannya. Rencananya jika terpilih jadi ketua RW dia akan berhenti jadi guru. Baginya jabatan ketua RW lebih menarik. Seperti yang diketahuinya, sejumlah ketua RT dan RW bisa menyambi jadi makelar tanah. Hasilnya lumayan jika gol, jika bisnisnya meledak.  Di antara mereka ada yang dapat membeli sepeda motor, mobil seken, bahkan ada yang bisa kawin lagi seperti ketua RT Misja.

"Ini menurut bapak sih, kamu tidak usah ikut-ikutan mencalonkan jadi ketua RW segala."

"Maksud Bapak, karena pendidikan saya ketinggian?"

"Cukuplah ketua RT atau RW itu dijabat oleh mereka yang tidak mengenyam pendidikan sekolah dan paling tinggi lulusan SMP seperti RT Oman. Apalagi biaya pendaftarannya lumayan mahal. Tiga setengah juta. Uang segitu masih lebih baik jika digunakan untuk modal dagang."

"Dagang apa Pak, daya beli masyarakat sedang menurun akibat nilai rupiah terus melemah. Jumlah segitu kecil Pak dibanding dengan di kampung lain sampai puluhan juta."

"Sampai segitunya yah."

"Begini Pak, untuk lebih maju  kampung kita butuh SDM yang berkualitas, SDM yang berpendidikan tinggi. Bapak tidak usah khawatir dengan keputusan saya untuk mengikuti pencalonan ketua RW. Saya mohon doa restu bapak."

"Mohon doa restu." Bapaknya merasa lucu. "Kayak tulisan di surat undangan pesta pernikahan saja, Sar."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x