Uswatul Fitriyah
Uswatul Fitriyah

"All start from Early Childhood Education"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Perlukah Bimbingan Konseling di Perguruan Tinggi?

14 Februari 2018   13:00 Diperbarui: 14 Februari 2018   13:05 910 5 0
Perlukah Bimbingan Konseling di Perguruan Tinggi?
sccipnureog.blogspot.com

Perlunya bimbingan konseling di perguruan tinggi tidak hanya ada dalam Undang-undang tetapi lebih mementingkan untuk memfasilitasi para mahasisiswa agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai perkembangannya, seperti : aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual. Pada dasarnya bimbingan konseling di perguruan tinggi juga sama dengan bimbingan konseling dilingkungan sekolah, hanya saja yang membandingkan adalah sasarannya.

Bimbingan untuk mahasiswa adalah untuk membantu mahasiswa mengembangkan dirinya dan mengatasi problem akademik, problem sosial, dan problem pribadi yang berpengaruh terhadap perkembangan akademik para mahasiswa. Belajar dalam perguruan tinggi sangat berbeda dengan SMP atau SMA, karena di perguruan tinggi lebih ditekankan kemandirian mahasisiwa, jadi harus banyak belajar sendiri, tanpa diatur, bahkan diawasi.

Dari sekian banyak mahasisiwa yang saya kenal ternyata masih memiliki permasalahan sosial dan pribadi masing-masing yang perlu dibimbing dengan dosen pendamping agar tidak menganggu persoalan akademik mereka. Dalam fase kemandirian  atau masa remaja mahasiswa masih butuh dibimbing oleh para orangtua atau dosen, karena fase ini pastinya ada kendala-kendala yang mungkin dihadapi oleh para mahasiswa.

Bahkan problem sosial merupakan kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam mengelola kehidupannya dan menyesuaikan diri kehidupan sosial baik di kampus maupun ditempat tinggalnya, dan konflik pertemanan. Permasalahan biaya kuliah juga diperlukan adanya bimbingan untuk mahasisiwa yang kesulitan dalam lingkup ekonomi keluarga.

Bimbingan mahasiswa ini meliputi bimbingan akademik yang diberikan oleh dosen-dosen pembimbing akademik pada tingkat jurusan/program. Setiap satu mahasiswa pasti memiliki dosen pendamping yang dapat membantu menyelesaikan permasalahnnya, hanya saja sekarang rata-rata para dosen pemdamping mahasiswa hanya membantu dalam lingkup problem akademik tanpa problem sosial atau pribadi.

Untuk mengatasi hambatan tersebut diperlukan bimbingan dari para dosen yang dilakukan secara sistematik dan berpegang pada prinsip "Tur Wuri Handayani".

Menurut Tohirin fungsi bimbingan konseling mencakup 9 hal yaitu : 1) Fungsi Pencegahan, (2) Pemahaman, (3) Pengentasan, (4) Pemeliharaan, (5) Penyaluran, (6) Penyesuaian, (7) Pengembangan, (8) Perbaikan,  dan (9) Fungsi Advokasi. Sedangan bimbingan untuk mahasiswa seharusnya mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut :

  • Pengenalan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi, potensi, dan karakteristik individu mahasiswa itu sendiri.
  • Membantu menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan kehidupan tempat tinggal di perguruan tinggi.
  • Membantu mengatasi problem akademik maupun problem sosial dan pribadi yang dapat mempengaruhi perkembangan akademik mahasiswa.

Pemberian layanan bimbingan konseling pada mahasiswa tentunya bukan tanpa dasar ataupun alasan. Diantara problem yang sering dihadapi mahasiswa baik dalam problem akademik, sosial ataupun problem pribadi, pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kemandirian mahasiswa baik dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan pemilihan maupun dalam pengelolaan dirinya sebagai mahasiswa. Seorang mahasiswa telah dipandang cukup dewasa dalam menentukan atau memilih program studi yang sesuai dengan bakat, minat dan cita-citanya serta mengatur kehidupannya sendiri.

Sumber : Proff. Pupuh Fathurrohman - Urgensi Bimbingan & Konseling di Perguruan Tinggi

                   Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si. dan Dr Suyadi, M.Pd.I - Bimbingan dan Konseling PAUD