Nurhasanah Munir
Nurhasanah Munir Staf Peneliti

I'm a dreamer & wisdom seeker // writing for enjoying life to the full // find me on Twitter @Unamunir & FB: Una Munir

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Resensi Film "Lima", Cara agar Kita Bangga Hidup dengan Pancasila

2 Juni 2018   21:03 Diperbarui: 2 Juni 2018   21:29 3021 2 1
Resensi Film "Lima", Cara agar Kita Bangga Hidup dengan Pancasila
Foto: Tribunnews.com

Menyimpulkan dari pengalaman saya menonton film "LIMA" (Djakarta Theater, 1/5/2018) yang dibuat oleh kolaborasi 5 orang sutradara berbakat tanah air, seperti: Shalahudin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo. Film yang telah menambah wawasan saya tentang arti menjalin dan menyebarkan cinta kasih di dalam keluarga, kerabat, tetangga, teman, dan bahkan diri sendiri. Film ini pula yang memberi ruang pikiran menjadi segar kembali di tengah kondisi yang terjadi di masyarakat.

Alkisah tentang Ibu Maryam yang memiliki tiga orang anak yang berbeda keyakinan, ada yang muslim dan kristiani. Ibu Maryam sendiri yang pernah menjadi pemeluk Kristen, kemudian sepeninggal sang suami yang beragama Kristen, kembali lagi menjadi pemeluk Islam hingga akhir hayatnya.

Keluarga ini telah memberikan kesan harmonis, humanis, dan mengedepankan toleransi meskipun di dalam lingkungan keluarga sendiri.

Diketahui Ibu Maryam pernah memeluk Kristen, namun sudah memeluk Islam kembali, ia tetap mempersilakan bapak Pendeta untuk mendoakannya saat ia dirawat di rumah sakit.

Apa mau dikata, Ibu Maryam wafat tak lama setelah pulang dari rumah sakit. Sebuah pergulatan terjadi dalam diri anak-anak dan kerabatnya saat Ibu Maryam menjemput ajal.

Anak tertua, Fara, beragama muslim, meyakinkan adik-adiknya Aryo dan Adi bahwa ibunda mereka akan dimakamkan sesuai dengan ajaran Islam, berbeda dengan mendiang ayah mereka yang menggunakan tata cara kristiani.

Fara mencoba memberi pemahaman kepada mereka dengan cara yang bijak, bertanggung jawab, serta sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Ibu Maryam yang saat wafat masih memakai cat kuku dan gigi palsu, harus dibersihkan dan dilepaskan karena seorang jenazah muslim harus bersih dari apapun.

Jenazah harus suci dengan cara dimandikan dan diwudhukan sebagaimana umat muslim akan melakukan shalat, sama saat mereka terlahir ke dunia. Aryo dan Adi paham dengan baik apa yang dijelaskan oleh Fara, dengan alasan tersebut menjadi logis, daripada harus dijelaskan dengan emosi dan kaku.

Dalam situasi tersebut, menjunjung toleransi dan musyawarah adalah jalan terbaik dalam memecahkan masalah, tidak peduli meskipun mereka saudara kandung tapi berbeda keyakinan, namun cara orangtua mereka mendidik terlihat dari sikap mereka dalam menyelesaikan masalah yang krusial.

Yang lebih muda mendengarkan baik-baik alasan dan penjelasan dari yang lebih tua, hingga perdebatan kecil saat jenazah Ibu Maryam dimasukkan ke dalam liang lahat, apakah sang anak yang berbeda keyakinan tidak dapat turun ke liang lahat untuk ikut menguburkan?

Di saat seperti ini, sang kakak memutuskan untuk membolehkan Aryo masuk ke dalam liang dengan alasan bahwa Bi Ijah (pengasuh dan asisten rumah tangga mereka) mengatakan dengan yakin bahwa tidak pernah mendengar tentang larangan bagi seorang anak yang berbeda keyakinan untuk ikut menurunkan jenazah orangtua mereka ke liang lahat.

Di akhir prosesi pemakaman setelah doa, tibalah bagi Fara mempersilakan keluarga mendiang ayahnya untuk ikut memberi penghiburan sebagai wujud penghormatan kepada almarhumah ibundanya, diyakini bahwa Fara tidak melihat adanya tali silaturahmi yang terputus antara dia dan saudara-saudaranya dengan keluarga mendiang ayahnya. Cinta, kasih, dan sayang selalu menyelimuti kehangatan keluarga mereka dengan sangat lembut.

Pelajaran lainnya, yaitu ketika Fara yang sebagai pelatih olahraga renang dihadapkan pada keputusan yang sulit oleh atasannya yang juga merupakan pemilik sebuah Club olahraga bergengsi.

Fara diminta untuk memilih satu anak didiknya yang "pribumi" untuk diikutsertakan dalam Asian Games, dimana jika merunut pada hasil kualifikasi keunggulan Kevin yang bermata sipit lebih unggul dari Andre yang berkulit sawo matang, secara tehnik, skor, disiplin, dan lain sebagainya.

Oleh karena Fara tidak ingin mengorbankan idealismenya terjual dengan murah, ia lebih memilih mengundurkan diri daripada bekerja dibawah tekanan seorang yang oportunis, korup, dan rasis.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Meminjam perkataan Yudi Latif: "Menggali nilai-nilai Pancasila dari bumi Indonesia sendiri berarti nilai-nilai kebudayaan yang berasal dari dalam maupun luar negeri yang telah mengalami pribumisasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia." Atau dengan kata lain, semua hal yang telah mengalami "pribumisasi" secara otomatis telah menjelma menjadi nilai-nilai Pancasila yang memiliki spirit dan manfaat luas, baik secara individu, nasional, maupun internasional.

Fara menanggapi atasannya bahwa di Indonesia tidak ada pribumi asli, semua orang adalah keturunan. Lantas, apakah entitas orang Indonesia hanya berdasarkan pribumi atau non-pribumi? Atau ada hal lain yang lebih absolut untuk mengatakan bahwa kamu lebih nasionalis, lebih Indonesia, lebih pribumi, dan seterusnya?

Fara ingin menegaskan bahwa Indonesia adalah satu, tidak peduli apa warna kulitnya, bahasa, suku, agama, atau bahkan pandangan politiknya. Prestasi adalah prestasi, bukan uang ataupun kekuasaan.

Kebanggaan menjadi seorang Indonesia bukan diukur dari seberapa banyak proyek masuk ke dalam kantong, namun seberapa gigih kita hidup dengan memegang tegung nilai-nilai Pancasila dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap orang Indonesia diharapkan mampu untuk merendahkan hatinya dihadapan Tuhan, agar ia bisa berkaca bahwa setiap perbedaan merupakan keniscayaan yang mustahil dihindari. Penayangan film "LIMA" merupakan hanya gambaran kecil dari berbagai macam fenomena yang terjadi di Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2